Aksi Lebih Diperlukan untuk Kekayaan Warisan “Cerita Panji”

01Oleh : Subardi Agan – Acmad Zaenal Fachris – Jojo Sutjahjo Gani
(Komunitas Edhum Kediri)

Bisa diapakan? Bila Dewan Kesenian Jawa Timur mengagendakan Festival Panji — tentu telah dilandasi berbagai dasar yang kuat. Berarti telah dikaji ada “sesuatu”nya. Beberapa tahun terakhir ini memang menunjukkan adanya perhatian terhadap cerita Panji dengan adanya kajian, seminar, dan kegiatan2 lain di beberapa kota. Banyak potensi budaya luar biasa Cerita Panji sebagai suatu kearifan lokal, yang dapat dikembangkan dalam pendidikan, budaya, seni, lingkungan juga wisata, dan yang lain.

Asal dan serapan. Cerita Panji merupakan produk asli Jawa yang menyebar ke berbagai wilayah nusantara serta di berbagai negara di Asia Tenggara. Sebenarnya Cerita Panji merupakan alternatif kuat terhadap keberadaan cerita yang selama ini “di-monopoli” Mahabarata dan Ramayana (tanpa mengurangi nilai-nilai yang ada, tetapi kita menyadari ini datang dari India).

Poerbatjaraka (menyetujui pendapat W.F.Stutterheim) Cerita Panji mulai muncul pada zaman keemasan Majapahit (atau masa akhir kejayaan), ditulis dalam Bahasa Jawa Tengahan. Penyebarannya ke luar Jawa terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan. Penyebaran itu bahkan sampai sampai ke luar negri: Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina. Tentu juga ke seluruh Nusantara: Jawa, Bali, Kalimantan…
Jejaknya di Jawa, Jawa Timur dan khususnya Kediri: “senyampang” belum hilang !!!

Apakah Cerita Panji itu? Cerita Panji eksis di antara fakta dan fiksi, tetapi berdasar fakta sejarah: Tokoh Panji Asmarabangun/ Raden Inu Kertapati dihubungkan dengan Sri Kamesywara, raja yang memerintah Kediri (th 1180-1190-an). Permaisuri raja ini Sri Kirana /puteri dari Jenggala : Dewi Sekartaji (Galuh Candra Kirana). Salah satu tokoh lainnya Dewi Kilisuci sering disebut sbg orang yang sama dengan Sanggramawijaya Tunggadewi.
Inti cerita kisah-kisah Panji (Poerbatjaraka, 1968):

1. Pelaku utama ialah Inu Kertapati, putra Raja Kuripan, dan Candra Kirana putri Raja Daha.
2. Pertemuan Panji dengan kekasih pertama, seorang dari kalangan rakyat, dalam suatu perburuan.
3. Terbunuhnya sang kekasih.
4. Hilangnya Candra Kirana, calon permaisuri Panji.
5. Adegan-adegan pengembaraan dua tokoh utama.
6. Bertemunya kembali dua tokoh utama, yang kemudian diikat dengan perkawinan.

Ciri utama tokoh Panji.
Figur pria yang digambarkan memakai topi tekes (mirip blangkon Jawa-Solo, /tanpa tonjolan di belakang). Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya memakai kain – dilipat-lipat hingga menutupi paha, kadang sebatas lutut atau lebih rendah lagi menutupi tungkai.
Pada beberapa relief atau arca digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang, ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau.

Tokoh selalu disertai pengiring berjumlah 1, 2, atau lebih. Para pengiring ialah saudara atau teman Panji: yang berperawakan tinggi besar, rambut keriting (Brajanata), yang berperawakan lucu, pendek, gemuk, rambut dikuncir ke atas (Prasanta).
Satu hal lagi (bisa hadir atau tidak) pada penggambaran relief cerita Panji: seorang putri kekasih Panji (Dewi Candrakirana).

Jejak Panji masa kini:
Jejak Geografis, Situs, ekspresi seni, folklore, buku/susastra.
Jejak Geografis: Sungai Brantas Kediri sebagai setting cerita Ande-Ande Lumut
Jejak Situs/ Artefak Panji Masa Kini: Situs, Selomangleng, Candi Gambyok
Juga relief di beberapa candi : lereng Gunung Penanggungan, Candi Penataran, lereng Gunung Arjuno, juga patung Panji pernah ditemukan di Candi Selokelir di lereng Penanggungan.

Sumber Artefaktual: Petilasan Dewi Kilisuci di Goa Selomangleng Kediri. Relief Panji Dari Gambyok. Arca Panji Dari Gunung Penanggungan.

Petilasan Dewi Kilisuci
Petilasan Dewi Kilisuci

Jejak Ekspresi Seni Panji Masa Kini: Seni-seni tradisional yang berlandaskan cerita Panji: Wayang Beber, Wayang Topeng, Wayang Golek, Wayang Thengul, Wayang Krucil, Legong Kraton, Lutung Kasarung, Jaranan, Reog dan banyak kesenian di Bali, Kalimantan, Kamboja, Thailand dan yang lain. Tokoh Panji Versi Wayang. Jaranan Kediri. Wayang Mbah Gandrung – Kediri.

Jaranan Kediri
Jaranan Kediri
Wayang Mbah Gandrung
Wayang Mbah Gandrung

Jejak Folklore Panji Masa Kini. Misalnya Cerita Mbok Rondo Dadapan, Ande-Ande Lumut, Dewi Sekartaji.
Sumber folklor. Petilasan Dewi Sekartaji di Dusun Grojogan Desa Janti Wates Kediri. Totok Kerot sebagai arca perwujudan Dewi Surengrana. Makam Mbok Rondho Dadhapan di Dusun Dadapan Kota Kediri.

Makam Mbok Rondo Dadapan
Makam Mbok Rondo Dadapan
Petilasan Dewi Sekartaji
Petilasan Dewi Sekartaji

Jejak Buku/ Susastra Panji Masa Kini. Buku/ Susastra: Babad Kadhiri, Bancak Doyok Barang Jantur.
Picture11

Apa aksi kita?
Cerita Panji saat ini sudah mendesak untuk dapat ditransformasikan dalam kehidupan masa kini yaitu dalam : seni, pertanian, pengelolaan lingkungan hidup, lingkungan sosial, pemerintahan, kemiliteran, reliji, dan budaya umumnya.

Cerita Panji telah secara meyakinkan memiliki nilai-nilai budaya, terbukti budaya Panji secara berkelanjutan dan mengalami diversifikasi bentuk dan fungsi lintas masa (dari abad ke abad) dan lintas area (lintas negara).
Yang lebih diperlukan adalah tindakan bersama. Target apa yang akan dicapai? Siapa saja yang harus aktif dilibatkan? Mulai dari mana, dengan tindakan apa? Bagaimana tahap-tahap dan langkah-langkah konkretnya?
Semoga segera terwujud.

Cerita Panji sebagai kekayaan budaya yang hidup, dihidupi dan menghidupi masyarakatnya yang sadar akan kekayaannya

Salam budaya.

(Tulisan ini disampaikan pada Seminar Panji di Kediri, 5 November 2014, aslinya dalam format power point, hn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *