Tokoh Panji dalam Arkeologi

Relief cerita Panji yang terdapat pada sejumlah candi dalam masa Majapahit. Seringkali orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, topi mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala (lebih mirip dengan blangkon gaya Solo/Surakarta). Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Pada beberapa relief atau arca ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang, atau ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau (sebagaimana yang dipahatkan pada Kepurbakalaan (Kep.) XXII/C. Gajah Mungkur Penanggungan) (Bernet Kempers 1959:325-6).

Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi Jawa Timur. Karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawana, dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian Pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.

Lalu bagaimana penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji? W.F.Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panel relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka (1968) dan Satyawati Suleiman (1978). Relief di Gambyok ini dibuat sekitar tahun 1400 M, yaitu pada masa keemasan Majapahit.

Relief Gambyok (Dok. Lydia Kieven)

Penggambaran relief Panji Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan (1968:408). Pada panil digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji Inu Kertapati. Sementara tokoh yang duduk di hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti tekes. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin (Poerbatjaraka 1968:408).

 

Lydia S. Kieven, arkeolog asal Jerman yang berhasil mendeskripsikan temuan 20 situs purbakala di Jawa Timur yang terkait dengan sosok lelaki yang mengenakan topi tekes, sebagaimana yang menjadi ciri Panji, meski tidak berarti semuanya terkait Cerita Panji.  Lydia kemudian menjadi 4 situs diantaranya sebagai bahan tesis doktoral di Sydney University (Lydia C. S. Kieven, 2013).

 

Kedua-puluh situs tersebut adalah:

  1. Candi Jawi, Pasuruan
  2. Candi Penataran, Blitar
  3. Candi Gambar Wetan, Blitar
  4. Candi Selotumpuk, Blitar
  5. Candi Jago, Malang
  6. Candi Jabung, Malang
  7. Candi Kendalisada, Penanggungan, Mojokerto
  8. Candi Gajahmungkur, Penanggungan, Mojokerto
  9. Candi Wayang, Penanggungan, Mojokerto
  10. Candi Selokelir, Penanggungan, Mojokerto
  11. Candi Yudha, Penanggungan, Mojokerto
  12. Candi Minakjinggo, Mojokerto
  13. Candi Rimbi, Jombang
  14. Candi Mirigambar, Tulungagung
  15. Candi Surawana, Kediri
  16. Relief Gambyok, Kediri
  17. Candi Sukuh, Karanganyar
  18. Candi Planggatan, Karanganyar
  19. Situs Grogol, Sidoarjo
  20. Candi Tegowangi, Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *