12 Keistimewaan Cerita Panji

Catatan Henri Nurcahyo
Logo Sahabat Panji
Dibandingkan dengan cerita atau dongeng percintaan lainnya, Cerita Panji memang bukan dongeng yang biasa. Berikut ini adalah sejumlah keistimewaan Cerita Panji.

Pertama, kalau toh kisah induk dari Cerita Panji itu ada yang tidak mengenalnya, bukan tidak mungkin mereka pernah mendengar adanya dongeng Ande-ande Lumut, Timun Mas, Keong Mas, Enthit, Panji Laras dan sebagainya. Asal tahu saja, bahwa berbagai cerita yang selama ini dikenal sebagai dongeng anak-anak itu adalah bagian atau varian dari Cerita Panji. Inilah salah satu keistimewaan Cerita Panji dibandingkan dengan yang lainnya.

Ke 2 (dua), banyak pertunjukan rakyat yang menjadikan Cerita Panji sebagai bahan sajiannya, bahkan ada yang menjadikan satu-satunya kisah yang disajikan. Beberapa contoh seni pertunjukan itu misalnya Wayang Topeng (Malang), Wayang Beber (Pacitan), Wayang Timplong (Nganjuk), Wayang Gedog, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Jaranan, Reog Ponorogo, dan Lutung Kasarung (Jabar). Bahkan di Bali Cerita Panji menyebar dalam wujud berbagai kesenian seperti tari Legong Kraton Lasem, Drama Gong, Gambuh atau juga Bondres.

Ke 3 (tiga), kisah yang bersumber dari kerajaan Kadiri dan Jenggala ini ternyata menyebar ke seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara, menyeberang ke Sumatra, Kalimantan, bahkan hingga ke negara-negara Malaysia (semenanjung Melayu), Thailand, Kamboja, Myanmar dan sebagainya. Asal tahu saja, Cerita Panji malah lebih memasyarakat di Thailand, dikenalkan di bangku sekolah dan buku Cerita Panji itu sendiri ditulis oleh raja Thailand sendiri, yaitu Raja Rama. Di Thailand Cerita Panji dikenal sebagai Cerita Inao, berasal dari kata Inu Kertapati.

Ke 4 (empat), dirunut dari aspek sejarah, kisah ini terjadi pada masa kerajaan Kadiri, namun justru muncul dua ratus tahun sesudah itu, yaitu pada masa kerajaan Majapahit. Dari sini saja sudah memancing kajian sejarah dan aspek politik yang menarik diperbincangkan. Bahkan, mempersoalkan apakah Panji ini memang merupakan fakta sejarah atau hanya dongeng belaka, sudah menjadi bahan diskusi yang menarik.

Ke 5 (lima), meski “hanya” berupa kisah percintaan dua anak manusia, seorang arkeolog asal Jerman, Lydia Kieven, menemukan adanya artefak yang berkaitan dengan Cerita Panji ini di 20 (dua puluh) candi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Meski tidak berarti bahwa 20 artefak itu otomatis berarti Panji karena Lydia meneliti sosok yang mengenakan topi (tekes) sebagaimana dikenakan oleh Panji. Sementara Agus Aris Munandar dan Ninie Susanti mendeskripsikan ada 10 (sepuluh) bangunan kepurbakalaan dari era Majapahit yang mengandung relief Cerita Panji. Sebagian dari data itu ada yang tidak disebutkan oleh Lydia Kieven. Pertanyaannya kemudian, apakah ada sesuatu yang luar biasa sehingga sampai sebegitu banyak bangunan kepurbakalaan yang mengabadikan Cerita Panji?

Ke 6 (enam), pada zamannya Cerita Panji ini sedemikian populer seiring dengan suburnya berbagai jenis kesenian yang membawakannya dimana-mana. Maka ada saat-saat dimana Cerita Panji sanggup bersaing dengan cerita klasik Mahabarata dan Ramayana. Cerita Panji adalah cerita alternatif yang tak kalah menariknya dengan kisah dari Negeri India itu. Dan ini juga bisa disebutkan sebagai keistimewaan yang ke 7 (tujuh) bahwa Cerita Panji adalah sastra klasik tingkat dunia yang asli berasal dari Indonesia, khususnya dari Jawa Timur. Meski beragam Cerita Panji yang beredar namun semangatnya tetap sama yaitu pengembaraan dan kemenangan sang pahlawan yang hidup dalam budaya Jawa Kuna, bukan budaya yang berasal dari India.

Ke 8 (delapan), bahwa sesungguhnya Cerita Panji bukan hanya bercerita mengenai kisah percintaan belaka. Filosofi Cerita Panji adalah mengenai “mencari dan menemukan”, seperti kisah tentang rembulan dan matahari yang digambarkan bagaikan sepasang kekasih. Bulan adalah lambang kesetiaan dan ketulusan cinta. Janji bulan untuk tetap setia pada matahari. Berbagai varian Cerita Panji selalu mengisahkan upaya pencarian yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, penuh dengan halang rintang, termasuk harus melakukan penyamaran. Namun usaha keras itu akhirnya tidak sia-sia. Cerita Panji mengajarkan perihal kesetiaan dan usaha keras untuk menjaganya, meski di saat yang sama kesetiaan itu sendiri memiliki tafsir yang berbeda.

Ke 9 (sembilan), Cerita Panji itu lahir lantaran masyarakat pada saat itu merindukan bersatunya dua kerajaan, Jenggala dan Kadiri yang dipimpin oleh dua raja kakak beradik yang sama-sama putera Airlangga. Pada mulanya, ketika Airlangga hendak mengundurkan diri sebagai Raja Jenggala lantaran usia lanjut, dia kebingungan lantaran memiliki dua orang putera yang dianggap sama-sama berhak menjadi Raja. Sementara puteri sulungnya, Dewi Kilisuci, tidak berminat menjadi pewaris dan memilih bertapa sebagai Bikhu. Singkat cerita, meski kerajaan kemudian sudah dibagi dua untuk kakak beradik, namun keduanya masih sering berseteru karena menganggap tidak adil. Maka lahirnya Cerita Panji adalah sebuah simbolisme agar kedua bersaudara itu berdamai dengan cara menjodohkan masing-masing putera dan puterinya.

Bukankah dalam sejarah seringkali terjadi “pernikahan politik” demi bersatunya dua kerajaan? Pada titik inilah maka Cerita Panji memiliki makna sebagai simbolisme penyatuan dua pihak yang berseteru, bukan hanya dua kerajaan saja. Bisa saja dimaknai antara Bonek dan Arema, antara Bebotoh Persib dan Jack Mania, atau juga antara KIH dan KMP, dan sebagainya.

Ke 10 (sepuluh), Cerita Panji berkembang bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan Majapahit menjadi kerajaan klasik terbesar dan terakhir di nusantara. Majapahit sebagai kerajaan besar yang berkuasa di kepulauan tentunya dihormati oleh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara. Pada masa itulah Kisah Panji secara berangsur-angsur menyebar berbarengan dengan keharuman nama Majapahit di Asia Tenggara. Penduduk wilayah Asia Tenggara dan semenanjung tentu rela mengadopsi Kisah Panji sebagai salah satu khasanah sastra mereka Jadi Kisah Panji sebenarnya adalah simbol kejayaan Majaahit itu sendiri, adalah simbol pencapaian peradaban kedaton-kedaton di Jawa bagian timur dalam era Majapahit berkuasa.

Ke 11 (sebelas). Ternyata, meski sudah terkenal ternyata tidak diketahui siapa pencipta Cerita Panji. Bandingkan dengan Negara Krtagama (Mpu Prapanca), kakawin Sutasoma (Mpu Tantular), kakawin Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa), Serat Dewa Ruci (Empu Siwamurti). Meskipun Kitab Pararaton dan Kidung Sudamala juga tidak diketahui penulisnya, namun Cerita Panji merupakan mahakarya susastra yang digubah secara bersama-sama oleh masyarakat Jawa Kuna. Kisah Panji telah mengalami penambahan dan perluasan narasi yang berbeda-beda sesuai dengan selera pujangga penggubahnya. Bahkan sampai sekarang pun Cerita Panji ini masih terus berkembang dengan versi-versi baru yang digubah sendiri dalam pementasan Wayang Topeng di Malang.

Ke 12 (dua belas). Seiring dengan dilangsungkannya Festival Panji oleh Perpustakaan Nasional (Oktober 2014) mengusulkan salah satu naskah panji, yakni Panji Anggraeni yang berada di Palembang diajukan ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai ikon memori bangsa dan dunia bagi Indonesia (Memory of Nation and Memory of The World). Memory of The World adalah sebuah inisiatif internasional yang diluncurkan UNESCO untuk menjaga warisan suatu bangsa, terutama berbentuk teks tertulis yang berisi nilai-nilai kemanusiaan, dari ancaman amnesia kolektif, kelalaian, kerusakan akibat waktu dan kondisi iklim, dan perusakan yang tidak disengaja. Tetapi dalam forum seminar yang diselenggarakan dalam acara yang sama, Agus Aris Munandar dan Ninie Susanti dalam makalahnya berpendapat, Kisah Panji dalam keberagamannya itulah yang secara bersama-sama menjadi milik bangsa Indonesia. Keseluruhan Kisah Panji dan berbagai keturunannya itulah yang harus diajukan sebagai Memory of the World (MOW) milik bangsa Indonesia, jadi tidak hanya satu atau dua naskah Panji saja.

NB: Artikel ini adalah cuplikan dari buku yang sedang saya tulis: “Memahami Cerita Panji”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *