Panji Inu Kertapati, Pahlawan Budaya Nusantara

01
Oleh Prof. Achadiati
Fakutas Ilmu Budaya Universitas Indonesia

Figur Panji cukup terkenal di Jawa (bagian) timur dan digambarkan sebagai pembawa kebudayaan di pulau Jawa. Panji Inu Kertapati dianggap sebagai pahlawan budaya nusantara. Panji digambarkan sebagai ideal lelaki Jawa. Diperkirakan bahwa sebagai tokoh Panji sudah ada dalam sastra kuno. Semua tokoh pahlawan dalam sastra setelah itu meniru sebagai tokoh yang perwira dan pahlawan. Dan dikatakan sebagai Pahlawan Budaya karena cerita ini beda dengan cerita lain karena sangat menampilkan unsur-unsur budaya di dalamnya. Di dalamnya ada masalah-masalah musik, tembang Jawa, upacara dan sebagainya, yang di dalam naskah-naskah lain itu tidak disebut.

Sastra Panji merupakan sekelompok hasil kesusasteraan nusantara yang memiliki struktur khas, tersebar luas, dan diungkapkan dalam berbagai bentuk seni. Penggunaan nama Panji Koming sebagai nama kartun di Harian Kompas tentunya tidak terlepas dari gambaran tentang sosok Panji itu sendiri sebagai hero. Sejumlah besar naskah Panji yang ditemukan sebagai milik beberapa bangsa nusantara yang diturunkan kepada kita memang berasal dari Jawa namun persebarannya sedemikian luas.

Cerita Panji sebenarnya mengisahkan hal yang sama tetapi setiap naskah isinya berbeda. Jadi diceritakan kembali tetapi selalu dalam bentuk cerita yang berbeda. Dan naskah Panji ini jumlahnya sampai ratusan. Kepopulerannya itu juga diceritakan dalam berbagai bentuk seni, termasuk cerita rakyat yang menandakan cerita ini juga tersebar di kalangan rakyat dan bukan hanya menjadi karya intelektual. Cerita Panji tidak hanya berhenti pada naskah namun berkembang sebagai cerita anak-anak yang juga disukai orang kebanyakan.

Sastra Panji adalah epos petualangan putera Raja Jenggala, Panji Inu Kertapati, yang diperkirakan mempunyai latar belakang sejarah Jawa karena menyebut sejumlah nama geografis seperti Singasari, Kediri dan Lasem. Kata Panji itu sendiri berasal dari kata Sang Apanji, makna harafiahnya adalah “yang mempunyai bendera” tentunya seorang petinggi. Inu artinya putera raja atau putera mahkota.

Cerita menggambarkan pengembaraan Panji dalam pencarian isteri, kekasih atau tunangannya, Dewi Sekartaji atau Candrakirana, puteri Kediri yang hilang. Soal hilang ini disebutkan ada yang melarikan diri, diculik, atau diasingkan, macam-macam. Seringkali hal ini dijalin dengan kisah cinta Panji dengan Anggraini yang berakhir tragis. Episode Panji Anggraini ini banyak menimbulkan perdebatan, mana yang asli, apakah Panji Anggraini ataukah Panji dan Sekartaji. Ada satu cerita yang menyebutkan bahwa sejak lahir Panji memang sudah ditunangkan dengan Sekartaji. Bahkan sebelum mereka ada ke bumi sebagai titisan dewa mereka sudah digariskan akan menjadi suami isteri. Kemudian ketika menitis ke bumi, mereka menjadi anak dua orang raja yang akan menjodohkan mereka.

Tetapi versi lain mengatakan bahwa Panji Anggraini itulah yang asli, sebab Anggrani adalah puteri Patih Jenggala yang bertemu dengan Panji sewaktu dia berburu. Panji lantas jatuh cinta, kemudian menikah, sehingga dia menolak menikahi tunangannya. Kemudian Anggraini dibunuh oleh orang suruhan ibu (ayah?) Panji.

Dalam Cerita Panji versi Melayu, ada yang sama sekali tidak menceritakan Dewi Sekartaji atau Candakirana melainkan Ken Tambuhan, puteri yang ditemukan secara tidak sengaja, namun dia bukan puteri Patih melainkan puteri seorang tawanan. Zaman dulu kalau suatu negara dikalahkan maka puteri-puterinya menjadi tawanan raja yang menang.
Cerita Panji yang berbentuk naskah, yang tertua dari abad ke-15 dalam bahasa Jawa Tengahan. Bukan Jawa Tengah (Jateng) tapi bahasa Jawa setelah Jawa Kuno, Tengahan, Baru dan kemudian Jawa Modern. Kemudian digubah kembali dalam bahasa Jawa, Melayu, Bali dan Sasak. Naskah Panji dalam bahasa Jawa saja ada lebih dari 100 naskah. Darus Suprapto dari UGM pernah mendata naskah Pandji di seluruh dunia ada lebih dari 200 naskah, banyak yang berada di negeri Belanda. Begitu juga yang pernah dilakukan Ngurah Bagus dan yang lainnya. Hal ini menunjukkan betapa Cerita Panji ini begitu disukai dan disebarkan oleh orang-orang yang mendukungnya.

Dari ratusan Cerita Panji memiliki kisah yang sama tetapi setiap naskah isi dan bentuknya berbeda. Selalu ada variasi pada setiap ceritanya. Begitu juga dalam bahasa Melayu dan Bali dengan berbagai judul dan bentuk. Sedangkan jika ditotal dalam berbagai bahasa lain terdapat ratusan naskah Panji yang kebanyakan sekarang berada di Belanda.

Cerita Panji juga terdapat dalam relief candi, cerita rakyat (misalnya Ande-ande Lumut), wayang beber, wayang topeng, wayang gedog, dan sebagainya.

Motif penyamaran merupakan ciri khas Cerita Panji. Dikisahkan, Panji meninggalkan kerajaan untuk mencari tunangannya dan menanggalkan semua gelar dan kedudukannya sebagai anak raja, dan kemudian sebagai orang biasa bersama dengan saudara dan pengikutnya berganti nama. Mereka kemudian menjelajahi Pulau Jawa. Penyamaran ini merupakan motif yang menarik karena menimbulkan situasi yang lucu bagi kedua kekasih yang keduanya juga sama-sama menyamar. Mereka mungkin mempunyai firasat bahwa orang yang ditemui itu adalah tunangannya, tetapi sama-sama tidak mau menyatakan. Dan hal ini berkali-kali terjadi. Pertemuan dalam penyamaran merupakan motif yang menarik. Mungkin inilah yang menjadi daya tarik dari Cerita Panji.

Dalam Panji versi Melayu yang disebut Hikayat Galuh Digantung, diceritakan ada tokoh bernama Galuh Candrakirana meninggalkan keraton untuk mencari Panji. Karena sebelumnya Panji dilarikan oleh garuda dan disembunyikan di sebuah tempat.

Morif kedua, Panji menaklukkan kerajaan di seluruh Jawa. Dalam beberapa teks Candra Kirana yang menjadi tokoh utama dengan motif yang sama. Juga ditemukan dalam cerita bahwa sosok Panji adalah lelaki yang pandai memainkan semua alat musik, pandai menyanyi, dan juga mengarang lagu. Pokoknya dalam urusan seni dia yang paling pandai. Digambarkan bahwa Panji adalah lelaki berbudi dan bersifat halus, jadi buka hero yang berotot atau semacam itu. Dia gagah berani dalam peperangan, selalu menang, itu karena dia sakti dan berilmu tinggi namun tidak pernah berlaku semena-mena. Menang tanpa ngasorake.

Cerita Panji juga bukan sekadar menceritakan peperangan, namun ada aspek budaya. Misalnya diceritakan bagaimana dandanannya. Dan itu data kita jadikan sumber pengetahuan mengenai budaya pada saat itu.

Memang sejak abad 19 Cerita Panji sudah menarik perhatian, sehingga kajian tentang Panji itu sudah banyak sekali. Dimulai tahun 1914, Rassers, seorang antropolog meneliti naskah-naskah Panji, dan dia berpendapat bahwa terdapat unsur kuno di dalamnya. Dia membandingkan dengan cerita Minahasa tentang dua kekasih yaitu Manimporok dan Kalinoan (?) yang menggambarkan mitos bulan dan matahari. Dia menduga bahwa cerita semacam itu bukan tidak mungkin juga ada di Jawa pada masa lampau. Dan Cerita Panji merupakan penceritaan kembali dari mitos kuno tersebut.

Memang Rassers mendapat banyak tantangan karena dia seorang antroplog struktural karena belum pernah terjadi sehingga disertasinya menimbulkan kehebohan. Poerbatjaraka tidak sependapat karena yang dijadikan dasar oleh Rassers adalah naskah dalam bahasa Melayu, padahal yang diceritakan adalah kebudayaan Jawa. Tapi saya ingin menambahkan bahwa meskipun diterjemahkan dalam berbagai bahasa bentuknya tidak berubah. Jadi mungkin juga Rassers benar.

Kajian lain dilakukan oleh Berg (1927) yang mengatakan bahwa Cerita Panji berlatarbelakang sejarah, yaitu zaman Majapahit dan Panji itu adalah Hayam Wuruk waktu masih muda. Dia memperkirakan bahwa naskah yang paling asli dalam bahasa Jawa Kuno dari abad ke 14. Tetapi hal ini ditentang oleh Poerbatjaraka yang menyatakan tidak mungkin, sebab naskah dalam bahasa Jawa Kuno itu tidak pernah ditemukan. Yang ada adalah naskah dari Jawa tengahan. Walaupun menceritakan kerajaan-kerajaan Jawa namun hubungannya sudah kacau balau sehingga tidak mungkin bahwa kebenaran sejarah begitu dekat, pasti sudah agak jauh, dan orang sudah lupa. Dalam zaman Jawa Kuno kita tidak punya cerita tentang Panji. Yang ada hanyalah kakawin seperti Ramayana dan sebagainya.

Ada lagi kajian dari Ras, ahli bahasa dan sastra Jawa yang membandingkan Cerita Panji dengan cerita suku Dayak Ngaju yang sampai sekarang masih mereka percaya,yaitu cerita tentang perkawinan nenek moyang yang berbeda klan dalam suku itu. Sebuah fenomena alam yang diceritakan kembali dalam cerita Panji dan Candrakirana. Mungkin saja masyarakat Jawa pada masa kuno seperti bentuk masyarakat Dayak Ngaju. Karena itu sangat boleh jadi Cerita Panji adalah penceritaan kembali kebudayaan kuno. Menurut Ras, adanya begitu banyak naskah tentang Panji karena ada anggapan Cerita Panji dianggap sebagai sastra Ritual, yang setiap kali dikarang manakala ada perkawinan antara putera-puteri kerajaan di daerah Melayu.

Penelitian kisah Panji yang dilakukan Baroroh Baried dkk (1983), yang meneliti Panji Jayakusuma (bahasa Jawa), Malad (bahasa Jawa tengahan), Geguritan Pakangraras (bahasa Bali), Hikayat Panji Semirang dan Hikayat Galuh Digantung (bahasa Melayu). Kesimpulannya, Kisah Panji adalah kisah mengenai personifikasi budaya bangsa yang ideal. Kisah Panji itu bisa jadi kejadian sejarah setelah zaman Airlangga, seperti dalam kidung-kidung, tetapi juga merupakan perkembangan dari mitos alam dari masa lampau kebudayaan Jawa. (*)

Catatan: Tulisan ini adalah transkripsi yang dilakukan oleh Henri Nurcahyo atas materi yang disampaikan Prof. Achadiati selaku keynote speaker di Seminar Cerita Panji sebagai Warisan Dunia, di Perpustakaan Nasional, 28 Oktober 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *