RESENSI BUKU: Misteri Raden Panji di Relief Candi

Foto Cover Buku
Judul buku : Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit.
Judul Asli : Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs
Penulis : Lydia Kieven
Penerjemah : Arif Bagus Prasetyo
Penerbit : Ecole Francaise d’Extreme-Orient – Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2014
Tebal Buku : xix + 450 halaman

Alangkah panjangnya judul buku ini: “Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit.” (masih ada tambahan subjudul lagi) “Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke 14 dan ke-15”. Judul ini hanya merupakan terjemahan judul buku yang sama dalam edisi bahasa Inggris yang terbit sebelumnya. Ketika masih dalam bentuk tesis Doktoral di Sydney University (2009), memang dapat dimaklumi menggunakan judul panjang: “Meaning and Function of the figures with cap in reliefs at East Javanese temples of the Majapahit period. A contributions to a new understanding of the religious function of the temples.” Entah mengapa Lydia (juga editornya, kalau ada) tidak membuat judul dengan kalimat pendek saja.

Ah sudahlah, abaikan dulu soal judul buku. Saya sengaja menggunakan judul pendek dalam artikel ini “Mencari Raden Panji di Relief Candi” karena selama ini yang saya tahu Lydia selalu bicara di berbagai kesempatan soal topik itu. Bahkan ketika berlangsung Pasamuan Budaya Panji di PPLH November 2008, ketika disertasinya masih berproses, Lydia mengirimkan makalah berjudul “Panji di Gunung Penanggungan”. Bukan hanya kirim makalah, meski tidak sempat hadir di acara tersebut, Lydia menelepon saat acara berlangsung, dan meminta suaranya diperdengarkan di forum diskusi. Saya sangat terkesan dengan perempuan yang satu ini.

Menurut pemahaman saya, Lydia menemukan ada relief terkait Cerita Panji di 20 (dua puluh) candi dan situs yang ada di Jatim. Ternyata, katanya, tidak semua figur bertopi di relief candi itu adalah Panji. Karena itu ketika membaca buku ini saya digoda oleh pertanyaan, “dimanakah Raden Panji di antara sekian banyak figur bertopi di relief candi?”

Lydia menjadi pemandu di Penataran.
Lydia menjadi pemandu di Penataran.

Bagaikan seorang detektif dalam novel, Lydia Kieven menelusuri relief di banyak candi di Jawa Timur yang menggambarkan adanya figur bertopi. Bagi arkeolog asal Jerman ini, figur bertopi sangat menarik karena ternyata hanya ditemui pada candi periode Majapahit, bukan periode sebelumnya. Bolak-balik perjalanan Jerman-Indonesia dilakukan Lydia selama lebih dari 20 (duapuluh) tahun sampai akhirnya dia mendapatkan fakta yang mengejutkan perihal makna dan fungsi figur bertopi di relief candi.

Bahwa ternyata topi adalah sebentuk tutup kepala kontemporer yang muncul sebagai mode baru dalam seni rupa Majapahit awal. Figur bertopi merupakan contoh yang menonjol dari kreativitas zaman Majapahit dalam konsep baru terhadap seni, sastra dan agama, yang lepas dari pengaruh India.

Seakan menemukan tantangan baru, usai menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Koln, Jerman, dengan tesis Arjuna Wiwaha di relief-relief candi Jawa Timur, maka Lydia meneruskan studi doktoral di Sydney University dengan topik “Menelusuri Figur Bertopi di Relief Candi era Majapahit”. Tesis inilah yang kemudian dibukukan dalam bahasa Inggris (Brill, Leiden, 2013) dan sekarang terbit dalam bahasa Indonesia. Terkait dengan pilihan topik penelitiannya itulah maka selain arkeolog Lydia juga menguasai sejarah kesenian zaman klasik.

Sebagai sebuah disertasi, memang harus bersabar untuk menemukan jawaban perihal misteri Panji dalam relief figur bertopi di sejumlah candi. Bagi kalangan umum, memang lumayan berat mengikuti analisis demi analisis Lydia dalam buku ini. Sebagaimana sebuah disertasi, Lydia memaparkan lebih dulu secara teoritis mengenai genre sastra, ikonografi relief candi periode Jawa Timur akhir, candi dalam konteks agama dan politik, dan membuat penggambaran figur bertopi dalam seni rupa zaman Majapahit secara kronologis. Dari 20 (dua puluh) situs purbakala yang memuat figur bertopi, kemudian Lydia hanya memilih 4 (empat) candi yang dibahas panjang lebar yaitu Candi Jago, Candi Penataran, Candi Surawana dan Candi Mirigambar. Ditambah lagi dalam bahasan khusus, mengenai tempat-tempat suci di gunung Penanggungan, meliputi Candi Kendalisodo, Candi Yudha dan arca Panji dari Candi Selokelir.

Dalam penelusuran pengajar di Goethe-Universitat Frankfurt ini, semula topi digunakan untuk penggambaran rakyat jelata, abdi, pemusik dan pelayan raja atau pelayan dewa, dan dengan cara itu mereka menyambut pengunjung candi. Namun topi juga semakin banyak digunakan sebagai tutup kepala dalam penggambaran kaum mulia, baik prajurit berstatus mulia, pemuda bangsawan dan pangeran. Bangsawan bertopi, khususnya, sering merepresentasikan Pangeran Panji dari cerita Panji yang populer. Figur bertopi itu ternyata kebanyakan menggambarkan Panji.

Pada titik inilah kemudian Lydia meneliti kaitan figur bertopi dengan Cerita Panji, sebagai cerita yang mendapat tempat istimewa pada zaman kerajaan Majapahit. Lydia menyimpulkan, Cerita Panjilah yang antara lain digambarkan di Teras Pendopo Candi Penataran, Candi Mirigambar dan Candi Kendalisodo. Hal ini didasari adanya unsur-unsur utama yaitu; perpisahan, perjalanan mencari satu sama lain, dan pertemuan kembali. Dalam relief di candi-candi tersebut, topi adalah tutup kepala khas Panji yang menandakan dia pahlawan cerita. Terkait dengan Cerita Panji inilah Lydia menaruh perhatian khusus, yang disebutnya sebagai bukti kreativitas budaya Jawa Timur.

Figur bertopi memiliki makna yang sangat penting karena ditemukan dalam sejumlah besar relief candi zaman Majapahit yang dalam kebanyakan kasus merepresentasikan Panji atau bangsawan lain. Topi, yang awalnya merupakan mode tutup kepala setempat, telah berkembang menjadi simbol perkenalan kepada pengetahuan spiritual. Munculnya Panji dan figur bertopi lainnya menjadi semacam ikon budaya Jawa Lokal pada zaman Majapahit.

Yang luar biasa, justru kisah Panji yang berciri khas kerakyatan dan termasuk dunia manusiawi, justru ditemukan di relief candi yang merupakan tempat suci. Hal ini dapat dimaknai bahwa cerita Panji selalu memberi pengantar kepada peziarah untuk menunjukkan jalan dari rangka duniawi kepada rangka suci dan dunia para dewa. Peran seperti ini terdapat di Candi Penataran karena di kompleks candi itu adalah halaman ketiga dengan candi pokok yang menggambarkan cerita Ramayana dan Kresnayana yang berasal dari sastra India dan yang dianggap lebih dikaitkan dengan dunia dewa.

Ditemukannya patung Panji di Candi Selokelir tahun 1936 oleh Stutterheim, semakin memperjelas posisi istimewa sosok Panji ini. Arca itu berdiri di atas teratai dan memakai upawita yang merepresentasikan tokoh setengah-manusia setengah-dewa. Namun berbeda dengan gambaran dewa sesungguhnya, arca ini kelihatan mirip sekali dengan manusia biasa, tidak seperti arca dewa lain yang sangat dihias dan kelihatan sangat sakral. Arca yang sekarang disimpan di perpustakaan ITB ini mungkin mau mengantar dan mempersiapkan para peziarah untuk naik Penanggungan dan mencari serta mendapat wahyu. Bahkan, dengan bentuk mirip dewa itu mungkin pula mengizinkan peziarah dan pemuja untuk berangan-angan menjadi dewa jika telah terlepas dari ikatan duniawi dan manunggal dengan Ilahi. Arca Panji dari lereng barat laut gunung Penanggungan ini menjadi perantara dan menandai puncak seluruh proses ini.

(Selengkapnya silakan baca: Jurnal Budaya Brang Wetan, edisi perdana, Mei 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *