Gelar Tahunan Wayang Krucil Malangan

foto: halomalang.com
foto: halomalang.com
Tradisi pergelaran Wayang Krucil Malangan wajib dilakukan minimal satu tahun sekali, yaitu satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Kali ini jatuh pada tanggal 24 Juli 2015, pukul 13.00, di dusun Wiloso, desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Malang. Warga desa tersebut percaya, apabila tidak dilakukan pergelaran pada bulan Syawal tahun Jawa, bisa terjadi bencana. Adanya kepercayaan itu membuat mereka bergotong royong serta sukarela selalu menggelar seni tradisi yang sudah langka tersebut.

Khusus kali ini, seusai pertunjukan akan dilaksanakan Sarasehan. Gagasan ini dicetuskan oleh Dwi Cahyono (arkeolog) dan disambut baik oleh M. Soleh Adipramono yang siap hadir, disamping Semar Suwito Yasin, videografer yang akan mendokumentasikan pertunjukan ini.

Wayang Krucil Malangan, sebagaimana wayang krucil lainnya, memiliki bentuk dua dimensi. Tidak seperti wayang kulit, Wayang Krucil dibuat dari bahan kayu pule, tebalnya sekitar 2 cm. Di daerah lain ada yang terbuat dari kayu sengon. Pertunjukan wayang Klitik tidak memerlukan kelir (layar) untuk menciptakan bayangan. Oleh karena itu sering pula disebut sebagai kelir kaca. Artinya pertunjukan tembus pandang antara penonton yang bertempat di depan maupun di belakang dalang.

Di seluruh kabupaten Malang pertunjukan ini hanya tersisa di desa Gondowangi ini saja, dalang dan perangkatnya. Disebut wayang krucil Malangan karena menggunakan gending-gending gaya Malangan. Demikian pula di Nganjuk disebut Wayang Timplong, juga karena iringan gendingnya.

Di beberapa daerah wayang krucil disebut wayang Klithik. Konon wayang ini pertama kali diciptakan oleh Pangeran Pekik, adipati Surabaya, dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan wayang krucil. Munculnya Wayang Menak yang terbuat dari kayu, membuat Sunan Pakubuwana II kemudian menciptakan Wayang Klithik yang terbuat dari kayu yang pipih (dua dimensi). Tangan wayang ini dibuat dari kulit yang ditatah. Berbeda dengan wayang lainnya, wayang klithik memiliki gagang yang terbuat dari kayu. Apabila pentas menimbulkan bunyi “klithik, klithik” yang diyakini sebagai asal mula istilah penyebutan wayang klithik.

Wayang Krucil Malangan merupakan warisan leluluhur yang usianya mencapai ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun. Seluruh perangkat wayangnya masih asli, yang selama ini tersimpan di kotaknya dan hanya bisa dibuka pada bulan Syawal tahun Jawa saja. Dalam satu kotak wayang, tercatat ada sekitar 70 tokoh Wayang Krucil Malangan, tidak memiliki duplikasi. Bahkan, nuansa magis masih menyertai benda-benda itu. Ada ritual yang dipercaya untuk menjaga kelestarian Wayang Krucil Malangan, salah satunya, harus berpuasa pada hari-hari tertentu dan memberikan sesajian di sekitar kotak wayang.

Khususnya di desa Gondowangi, Wayang Krucil dianggap sebagai bagian dari keberadaan desa, perawatannya berlangsung turun-temurun. Keberadaannya sudah sebagai benda pusaka yang dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Pementasan dalam upacara Syawalan (setiap minggu awal bulan Syawal) setahun sekali adalah hal wajib. Kesakralannya terwujud dalam upacara pergelaran yang harus disertai sesajen khusus, dan dibacakan mantra oleh Mbah Yem, selaku pemilik turun temurun. Selama ini perangkat wayang ditempatkan di rumah Mbah Saniyem, 85 tahun, yang merupakan generasi ketujuh sebagai ahli waris dari Wayang Krucil Malangan.

Dari sisi cerita, Wayang Krucil mengambil beberapa sumber, diantaranya cerita yang berkaitan dengan Kerajaan Kediri. Seperti kisah Panji Semirang Panji Asmara Bangun, Candra Kirana, atau cerita sempalan seperti Lakon Lembu Amiluhur Krido. Cerita rakyat tentang perlawanan kepada Belanda juga diangkat. Atau, cerita lain seputar Walisongo dan pendirian Kerajaan Islam Demak. Bahkan ada juga cerita dari Serat Menak yang diadaptasi dari Persia yang berkaitan dengan perkembangan agama Islam. Namun, untuk penamaan tokohnya sudah diadaptasi. Sang Dalang juga bisa mengambil sumber cerita sendiri yang dikenal sebagai Lakon Carangan.

Pementasan atau Gebyak Wayang Malangan dimainkan sedikitnya 15 orang, yang terdiri dari 1 dalang, 2 sinden, dan 12 wiyogo atau pemain gamelan pengiring pertunjukan. Gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini amat sederhana, berlaras slendro berjumlah lima macam, yakni : kendang, saron, ketuk, kenong, kempul (barang), gong suwukan dan berirama playon bangomati (srepegan). Ada kalanya wayang klithik menggunakan gending-gending besar.

Jumlah lagu/gending yang dipergunakan untuk mengiringi tidak banyak dan kurang variasinya sehingga sangat senada. Gamelannya boleh dikatakan sama dengna irama Jatilan atau kuda lumping. Apalagi bila terjadi adegan perang, sangat monoton dengan iringan gending srepegan. Pada setiap adegan yang dinamakan jejeran, Ki dalang mengiringinya dengan tembang macapat seperti Dandanggula, Sinom, pangkur, Asmaradana dan sebagainya. Tembang ini berperan sebagai suluk dalam wayang kulit dengan penambahan candra wayang untuk setiap tokoh-tokoh wayang yang sedang dilakonkannya. Sewaktu talu sebagai persiapan memasuki fase pagelaran wayang yang sesungguhnya dipakai gending Undur-undur.

Upaya Pelestarian

Upaya melestarikannya sudah dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah menggelar pementasan tidak hanya setahun sekali, melainkan pentas untuk memeriahkan kegiatan bersih desa, hari ulang tahun Kabupaten Malang, atau pementasan di even tahunan seperti “Malang Tempo Doeloe”.

Danis Setyo Nugroho, Kepala Desa Gondowangi, adalah salah satu koordinator pelestari wayang krucil tersebut. Dia bersama warga Dusun Wiloso merasa bertanggung jawab untuk melestarikan dan menjaga warisan leluhur tersebut. Karena itu, dia terus berusaha bagaimana caranya wayang krucil banyak dikenal masyarakat, minimal di Wagir sendiri. ”Jika hanya saat gebyak, berarti hanya satu kali pementasan, nantinya membuat generasi selanjutnya tidak tahu,” ungkapnya.
Menurut Danis, wayang krucil awalnya adalah wayang dakwah keliling. Ceritanya mengenai sejarah Islam, mulai dari cerita para wali, Damar Wulan, Minakjinggo, Kebolembung, serta cerita Panji. Selain sebagai misi syiar agama, pembawa wayang krucil yang ada di Dusun Wiloso juga mencari saudaranya. ”Awalnya ngamen dan sambil mencari keluarganya, yang ada di sini (Gondowangi). Kemudian menikah dengan orang sini,” kata pria berusia 29 tahun ini.

Asal usul wayang krucil di desa ini, katanya, berawal dari Mbah Taram, warga Desa Putat, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Mbah Taram kemudian mempunyai anak bernama Kandrim, Tayik, dan Sarpi. Wayang kemudian diturunkan ke Kandrim. Sementara dari Kandrim sendiri mempunyai anak bernama Ngarimun, Rusman, Tani, Rantiman. Wayang diwariskan kepada Ngarimun yang telah menikah dengan Saniyem. Sekarang ini wayang ada di Saniyem (Mbah Yem). Saniyem mempunyai anak Gunari, Supomo, Sutik, Jumik, Suprat, dan Nario. Sehingga saat ini yang meneruskan adalah Gunari dan saudaranya, serta dibantu oleh keturunan dari Tayik, yaitu Abu Hasan dan menantu Mbah Saniyem, yaitu Drais Kartono.

Diperkirakan, wayang krucil Malangan ini sudah ada di Desa Gondowangi sekitar tahun 1910. Karena saking lamanya, wayang saat ini sudah ada yang patah karena faktor usia, dan kadang untuk pertarungan wayang. Upaya untuk membuat penggantinya tidak mudah karena wayang ini terbuat dari kayu pule yang saat ini sudah susah dicari. Namun pihaknya ingin sekali membuat duplikat wayang untuk latihan dan regenerasi. ”Sekarang ini sudah kami alokasikan dari dana desa untuk membuat duplikat,” ungkapnya.

Nantinya dari wayang yang duplikat ini digunakan untuk latihan. ”Sekarang kalau untuk latihan memang kesusahan, karena jika menggunakan yang asli, takut rusak. Kalau tidak ada duplikat, kami sulit regenerasi,” imbuh kepala desa yang hobi ngetrail ini.

Dahulu pernah membuat wayang dari kertas karton untuk latihan. Namun mudah rusak. Harapannya memang jika ada yang duplikat, nantinya selain untuk latihan, juga untuk pertunjukan. Supaya wayang yang asli disimpan dan untuk acara gebyak. Namun, tidak menuntut kemungkinan jika orang atau yang ingin pertunjukan mengeluarkan wayang yang asli.

Hingga saat ini pun, Danis dan warga selalu mengakomodasi pertunjukan wayang krucil. Baik pengumpulan dana untuk acara gebyak, serta acara yang mempopulerkan wayang krucil. Wayang ini sudah pernah dipentaskan di acara Malang Tempoe Doeloe tahun 2011, 2012, dan 2013, serta menjadi hiburan saat Pekan Budaya Kabupaten Malang 2014 lalu. Dalam setiap pertunjukan wayang, dibutuhkan dana sekitar Rp 2 hingga 2,5 juta. Karena itu, dalam setiap gebyak, warga kerap patungan untuk menggelar wayang krucil. Bahkan tak jarang, Danis mengajak warga untuk menggalang dana agar pementasan wayang krucil tetap hidup. (hn)

(sumber: radar malang, koran sindo, situs desa gondowangi, Wikipedia, majalah gatra, wawancara m. soleh adipramono)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *