Wayang Beber Pacitan Tidak akan Punah

002Kekhawatiran terhadap kelestarian Wayang Beber Pacitan agaknya tidak beralasan lagi lantaran sekarang sudah ada dalang muda yang sanggup meneruskan estafet tradisi leluhur tersebut. Selama ini ada tradisi bahwa yang diperbolehkan meneruskan menjadi dalang wayang beber hanyalah keturunan langsung Mbah Sarnen. Beruntung setelah Sarnen meninggal dunia, masih dilanjutkan oleh anaknya, Gunocarita. Tetapi setelah Ki Guno juga meninggal dunia, keberlanjutan pergelaran wayang beber Pacitan terancam punah.

Selama ini hanya ada dua wayang beber yang tersisa, yaitu di Wonosari Gunung Kidul (DIY) dan di Pacitan Jawa Timur. Kekhasan wayang beber Pacitan ini hanya membawakan lakon Jaka Kembang Kuning yang merupakan rumpun Cerita Panji.

Menjelang kepergiannya (2010), Ki Guno sangat gelisah terhadap kelestarian tradisi leluhurnya tersebut. Ki Guno tidak memiliki anak laki-laki yang sanggup meneruskan keberlanjutan mendalang. Namun diam-diam Ki Guno tertarik kepada Rudi Prasetyo, anak muda kelahiran 22 Januari 1984 yang selama ini mengakrabi wayang beber. Lantas dikatakannya, “memang selama ini yang boleh mendalang hanya keturunan langsung dalang, kecuali yang sudah kewahyon.” Demikianlah, Rudi yang sudah dianggap anaknya sendiri itu kemudian mendapat “hak” untuk menjadi dalang wayang beber Pacitan sejak tahun 2009, sekitar 6 tahun sejak dia nyantrik.

Rudi adalah sarjana Sastra Jawa lulusan Unversitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang selama ini menjadi guru di SMP Satu Atap, Arjosari, Pacitan. Bapak dua anak ini merasa mendapat kehormatan dapat meneruskan tradisi menjadi dalang wayang beber Pacitan, meski diluar garis keturunan Mbah Sarnen. Tidak berhenti di situ, Rudi lantas mendirikan Sanggar “Lung” (2011) untuk mendidik generasi muda mencintai wayang beber. Mereka diajari bagaimana mendalang, melukis wayang beber dan juga karawitan sebagai musik pengiringnya.

Hasilnya, sudah banyak diproduksi lukisan wayang beber menggunakan media kanvas dan cat akrilik yang dipasarkan sebagai cenderamata, dan selalu kuwalahan melayani pesanan dengan harga berkisar Rp 1 juta hingga Rp 15 juta. Wayang beber yang asli menggunakan bahan kertas khusus, namanya Daluang yang terbuat dari kulit pohon. Sedangkan Rudi membuat duplikat wayang beber untu dipentaskan menggunakan kertas jenis Samson.
011
Dari aktivitas membuat lukisan wayang beber ini, pernah dihasilkan lukisan wayang beber sepanjang 82 meter, sudah tercatat di rekor MURI sebagai wayang beber terpanjang. Lukisan ini dikerjakan oleh 4 pelukis selama 18 hari, tetap dengan lakon “Jaka Kembang Kuning”. Sebelum ini, wayang beber koleksi budayawan Taufik Rahzen hanya sepanjang 60 meter.

Sementara itu sejumlah anak muda, yang menjadi muridnya sendiri di SMP Satu Atap, sudah dipersiapkan menjadi dalang dan akan diperkenalkan di depan publik bulan Februari mendatang, saat Hari Ulang Tahun Kabupaten Pacitan. Ada 17 dalang cilik, muridnya sendiri yang sanggup mendalang dan sudah diperkenalkan bulan Agustus lalu. Demikian pula urusan karawitan, Rudi berhasil mengajak rekan-rekan gurunya menjadi niyaga untuk mengiringi pergelaran wayang yang hanya membawakan Cerita Panji ini. Regenerasi pergelaran wayang beber Pacitan sudah terjadi.

Bukan hanya itu, Rudi juga melakukan reproduksi sendiri wayang beber milik keluarga Mbah Sarnen yang sudah rapuh dan hanya disimpan sebagai pusaka yang disakralkan. Wayang duplikat itulah yang kemudian dijadikan sarana pergelaran oleh Rudi dalam pergelaran di Pacitan sendiri maupun ke berbagai kota, seperti Malang, Solo, Yogyakarta, Jakarta, bahkan sampai ke Thailand dalam kesempatan Festival Panji 2013.

Beruntunglah masyarakat Pacitan sendiri masih menghargai keberlangsungan wayang beber ini, sehingga Rudi cukup sering mendapat undangan pergelaran dalam kaitan dengan acara ruwatan, bersih desa, khitanan dan pernikahan serta berbagai kesempatan lainnya. Meski demikian, lakon yang dibawakannya selalu sama, meski dengan judul yang berbeda, karena kisah cerita pergelaran wayang beber memang tergantung nampakan visualnya. Mengapa tidak mencoba membuat lukisan wayang beber dengan lakon yang lain, Rudi mengatakan masih belum siap untuk membuat kreasi baru.

Rabu malam, 26 Agustus 2015, Museum Negeri Mpu Tantular mengundang Rudi Prasetyo mendalang wayang beber. Cerita yang dimainkannya, tentu saja masih sama, yaitu “Jaka Kembang Kuning” namun kali ini dibuat dengan judul berbeda, yaitu “Kramane Dewi Sekartaji”. Pergelaran berlangsung 1 (satu) jam penuh, diantara dua sajian campursari yang mengapitnya. Sayang sekali posisi wayang jauh di belakang panggung sehingga jarak ke penonton sedemikian jauh dan tidak dapat disaksikan jelas gambar wayangnya. “Ya kami memang belum berpengalaman, baru kali ini menggelar wayang beber,” ujar Edi Irianto, kepala UPT Museum Negeri Mpu Tantular Jawa Timur. (hnr)

Foto-foto selengkapnya, sila klik: https://www.facebook.com/groups/703396646408981/851006808314630/?notif_t=like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *