Wayang Topeng Panji Jenggala

Catatan Henri Nurcahyo
011
Sanggar Wayang Topeng “Asmarabangun” dari Dusun Kedung Monggo, Desa Karang Pandan, Kecamatan Pakisaji, Malang menggelar pertunjukan di museum Mpu Tantular yang berlokasi di Sidoarjo. Pilihan lakon “Panji Kudanarawangsa” dalam acara yang berlangsung Jumat malam itu (25/9) seakan mempertegas bahwa Cerita Panji sebetulnya juga melibatkan keberadaan Jenggala, sebagaimana setting cerita lakon tersebut.

Selama ini, Cerita Panji selalu diidentikkan dengan Kediri. Bahkan Kabupaten Kediri sudah mengklaim sebagai Bumi Panji. Demikian pula Kota Kediri juga menyebut sebagai Kota Panji. Padahal, Cerita Panji tidak bakal ada tanpa keterlibatan Jenggala, yang dalam konteks sekarang ini adalah wilayah Sidoarjo.

Cerita singkat “Panji Kudanarawangsa” adalah saat seorang raksesi bernama Wadal Werdi merasa iri dengan kemesraan pasangan Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji. Maka melalui segala upaya dia berusaha melenyapkan Sekartaji agar dirinya dapat menggantikannya. Maka begitu Sekartaji “hilang” Wadal Werdi yang dibantu oleh ayahnya, Begawan Gajah Abuh, menggantikannya dengan menyamar sebagai Dewi Sekartaji. Panji Asmarabangun untuk sekian lama tidak menyadari bahwa yang mendampinginya adalah seorang raksesi yang penampilannya mirip isterinya.

Raden Panji merasa heran, mengapa isterinya begitu berlebihan minta dimesrai. Demikian pula selera makannya, dirasa sangat berlebihan ketimbang manusia biasa. Sementara itu, Dewi Sekartaji tahu-tahu berada di hutan belantara. Atas saran kedua pengawalnya yang setia, Jurudeh dan Prasanta, Dewi Sekartaji diminta melakukan penyamaran menjadi laki-laki dan berprofesi sebagai dalang ruwat. Namanya pun harus diubah menjadi Panji Kudanarawangsa.

Begitulah, Panji Asmarabangun yang heran atas perilaku isterinya lantas mengadu kepada ayahnya, Lembu Amiluhur. Raja Jenggala itupun lantas menggelar acara ruwatan untuk mengobati “Dewi Sekartaji”. Maka pada saat itulah muncul seorang lelaki yang mengenalkan diri bernama Panji Kudanarawangsa dan bersedia melakukan ruwatan. Pada saat mendalang itulah Panji Kudanarawangsa menyajikan cerita perihal Raden Panji Asmarabangun yang tidak menyadari bahwa perempuan yang selama ini dikira isterinya sesungguhnya adalah raksesi yang menyamar.

Merasa dirinya disindir. Wadal Werdi yang menyamar sebagai Dewi Sekartaji itupun mengamuk. Pergelaran wayang ruwatan itupun diobrak-abrik. Wadal Werdi yang masih dalam penyamaran sebagai Dewi Sekartaji akhirnya harus bertarung dengan Panji Kudanarawangsa sampai akhirnya penyamarannya pun terkuak, bahwa sesungguhnya yang selama ini menyamar sebagai Dewi Sekartaji adalah seorang raksesi.

Setelah rahasia penyamaran itu terbongkar, maka Panji Kudanarawangsa menunjukkan jatidiri yang sesungguhnya sebagai Dewi Sekartaji yang asli. Raja Jenggala dan puteranya, Raden Panji Asmarabangun, akhirnya lega bahwa upaya jahat Wadal Werdi dapat terbongkar.
012
Panji Jenggala
Pergelaran wayang topeng oleh sanggar pimpinan Handoyo dengan lakon “Panji Kudanarawangsa” ini seakan mempertegas bahwa sesungguhnya Cerita Panji adalah juga melibatkan Jenggala. Dalam banyak cerita, kisah-kisah Panji seringkali menghadirkan situasi di kerajaan Kediri, seolah-olah hanya Kediri yang “berhak” atas Cerita Panji. Ironisnya, di Sidoarjo sendiri tidak dapat ditemukan situs atau apapun yang terkait dengan Budaya Panji. Jangankan Panji, sedangkan dimana sesungguhnya posisi kerajaan Jenggala itu sendiri juga tidak jelas, di Sidoarjo bagian mana.

Konon, meski selama ini lokasi kerajaan Jenggala diklaim berada di Sidoarjo, pusat kerajaannya berpindah-pindah. Ada yang menyebut di lereng gunung Penanggungan, Porong, Gedangan, bahkan belakangan ada di wilayah yang sekarang menjadi kota Lamongan. Kerajaan Jenggala sendiri dalam sejarahnya memang sangat singkat keberadaannya, sampai ketika memasuki era Majapahit, Jenggala hanyalah sebuah kadipaten dan pelan-pelan menjadi wilayah kecil sampai akhirnya tidak diperhitungkan lagi.

Yang sedikit “menghibur” bahwa di Sidoarjo ada desa-desa dengan nama Panji seperti Banjar Panji dan Siwalan Panji. Apakah nama desa tersebut hanya kebetulan? Makna Panji itu sendiri identik dengan kebangsawanan sehingga daerah yang bernama Panji ditengarai dulu merupakan kawasan pemukiman para bangsawan atau kelas elit pada masanya. Pertanyaannya, apakah nama desa Panji di Sidoarjo itu ada hubungannya dengan Cerita Panji? Ini sebuah soal yang perlu ditelusuri lebih jauh. Jangan-jangan, siapa tahu, bahwa kerajaan Jenggala pada suatu masa memang pernah berpusat di desa yang kemudian dikenal memiliki kata Panji sebagai namanya itu.

Cerita Panji Kudanarawangsa, bisa disebut sebagai (salah satu) lakon yang memiliki setting di Jenggala. Jelas-jelas disebut keberadaan Jenggala Manik dengan rajanya bernama Lembu Amiluhur. Dalam cerita itu juga disebutkan bahwa pasangan Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji berada di Jenggala. Tidak jelas sebagai apa mereka berada di Jenggala, apakah sedang berkunjung ataukah memang menetap di Jenggala.
013
Dalam pergelaran di halaman museum Mpu Tantular itu, dalang Asnam membawakan cerita ini nyaris tanpa humor. Cerita meluncur dengan lancar dan hampir tidak ada improvisasi atau celetukan yang dapat menyegarkan suasana. Satu-satunya celetukannya yang sedikit mengundang senyum adalah ketika menyebut bahwa semua pemain adalah buto (raksasa), kecuali dalang dan penontonnya.

Suguhan pergelaran selama sekitar dua jam itupun berlangsung mulus, yang untungmya, sedikit mencair ketika ada selingan dua penonton diajak menari bersama di atas panggung oleh dua punakawan, Jurudeh dan Prasanta. Memang dalam pentas aslinya pertunjukan ini bisa berlangsung lebih lama lagi. Setidaknya bisa memakan waktu 4-5 jam. Namun kali ini, hanya sekitar dua jam. Itupun sudah termasuk Tari Beskalan yang menjadi pembuka tontonan ini.

Yang disayangkan, justru ketika berlangsung Tari Beskalan itulah pembawa acara membacakan sinopsis cerita sehingga suaranya ditelan oleh gamelan tarian tersebut. Penonton sama sekali tidak dapat menyimak dengan baik apa isi cerita pertunjukan ini.

Menurut Drs. Edi Iriyanto, MM, kepala UPT Museum Mpu Tantular Jatim, pergelaran ini merupakan sarana apresiasi untuk lebih memperkenalkan koleksi museum, sehingga bukan hanya dipajang sebagai benda mati saja, melainkan juga dipertunjukkan dalam sebuah pergelaran. Selain wayang topeng, bulan lalu juga digelar Wayang Beber dari Pacitan dengan dalang muda Rudi Prayitno. Sedangkan bulan November yang akan datang, digelar berbaga macam acara yang dikemas dalam event bernama Festival Tantular.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, DR. H. Jarianto, M.Si, menyebut acara ini sebagai upaya untuk lebih menarik masyarakat berkunjung ke museum. Bagaimana caranya agar mereka yang datang ke museum itu bukan hanya sekadar untuk melepas lelah dan tahu situasi museum, melainkan ada hal-hal lain yang ingin dikaji dari situasi museum itu sendiri. Bahwa museum adalah bentuk perlakuan masyarakat dulu secara profesional, disamping itu bagaimana ke depan ada inovasi-inovasi yang dapat dilakukan sehingga anak-anak muda dapat tertarik dengan museum. Yang tak kalah pentingnya, bagaimana memiliki idealisme yang kuat terhadap identitas bangsa ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *