Budaya Panji dan Gelar Panji

011
Pengantar:
Perlu diketahui, selain diskusi di grup Facebook “Sahabat Panji dan Sekartaji”, para pelaku Budaya Panji juga dapat berdiskusi melalui jalur grup Whats App (WA) di smart phone yang bernama “Budaya Panji”. Namun memang tidak semua dapat mengikutinya, karena ternyata ada yang tidak memiliki telepon seluler yang kompatibel. Karena itulah saya merasa perlu mengangkat diskusi di WA itu ke dalam forum diskusi grup di FB. Tetapi itupun kadang luput diikuti, karena tidak semua orang membuka FB setiap hari lantaran hanya mengakses melalui komputer. Solusinya, teks dalam grup ini saya upload di website: budayapanji.com agar mudah di-googling.
Bagi pelaku Budaya Panji yang belum dan ingin menjadi kontak di grup WA, silakan sampaikan nomor HPnya. Berikut ini adalah salah satu diskusi yang baru saja marak di grup WA, juga melalui jalur pribadi (japri). Tentu saja setelah saya lakukan editing seperlunya. Kemudian saya tambahi komentar saya sendiri. Sila disimak dan berdiskusi.

Tjuk Sukiadi (TS):
Mohon didefinisikan dulu apa yang dimaksud dengan budaya itu sendiri! Lalu baru kita bisa (kalau memang memungkinkan) membuat rekonstruksi apa pula itu “Budaya Panji!” Kebetulan kakek saya dari ibu berlatar belakang belakang Blitar – Diponegaran – Mataraman. Kebetulan pula nenek saya baik dari Ibu maupun Ayah adalah pendongeng yang handal! Saya sangat beruntung menjelang tidur ketika saya balita selalu mendengar dongeng dari nenek. Ceriteranya berputar di sekitar kisah Panji! Apakah Panji Laras, Kethek Ogleng, Ande Ande Lumut, Buto Ijo dan Thothok Kerot!

Saya yang bukan budayawan hanya ingin mengingatkan agar tidak mudah mengangkat sesuatu yang belum solid komprehensip disertai telaah historis. Jangan hanya karena ada yang menulis kemudian lalu kita tahbiskan jadi “Budaya Panji!” Coba buat komparasi menyandingkannya dengan “Budaya Samurai” di Jepang! Pertanyaannya apakah keduanya sudah dapat dipersamakan?
Henri Nurcahyo (HN):
Memang selama ini ada kecenderungan untuk memperluas makna Cerita Panji menjadi Budaya Panji. Lydia Kieven dalam bukunya “Menelusuri Figur Bertopi pada Relief Candi Zaman Majapahit” (Gramedia-EFEO, 2014) menyebutkan bahwa: “Budaya Panji adalah sebuah upaya untuk melakukan representasi revitalisasi tema Panji dan tertanam dalam konteks retradisionalisasi yang lebih luas.”

Gelar Panji

Lantas, apa hubungannya Cerita Panji dengan gelar Panji? Tjuk Sukiadi berpendapat, bahwa gelar Raden Panji (RP) dipakai oleh para Bangsawan Keturunan Campuran antara Jenggala dan Madura! Contohnya Tokoh Nasional RP Soeroso. Alm Pak Moh Noer sebenarnya juga bergelar RP namun hampir-hampir nggak pernah beliau pakai (beliau adalah cicit Cakraningrat 1V).

Sementara itu, Semar Suwito Yasin, yang mewawancarai Ki Suryo dari Candi Jago untuk film dokumenter TVRI Pusat, menyebutkan bahwa gelar Panji bukan turunan, tapi semacam gelar Honoris Causa (HC). Itu sebabnya tidak semua putra raja diberi gelar Panji atau MaPanji (lebih tinggi derajatnya). Airlangga memberi gelar MaPanji Menggala pada kakak iparnya yang berjasa memimpin gerilya dan melakukan telik sandi. Sehingga namanya menjadi Rakai Halu Dyah Tumambong Mapanjj Manggala. (Prasasti Terep 1032/954 S) ~ Dr. Ninie Susanti.
Tjuk Sukiadi:
Justru sebaliknya Cak, Gelar Raden Panji itu turunan. Hanya setelah Kemerdekaan banyak dari mereka yang tidak lagi menggunakan Gelar ini! Atas dasar kesadaran Nasionalis! Terus terang saja Alm Ayah saya juga masih boleh mengunakan gelar RP. Tapi sama sekali nggak pernah beliau pakai! Jangan langsung dicampur-adukkan antara Gelar RP dan Gelar Mapanji (seperti Mapanji Garasakan Putra Prabu Airlangga yang menguasai Jenggala). Raden sebenarnya hanya untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah Trah Bangsawan yang bisa dirunut dari jalur laki-laki kepada sosok seorang Raja! Dalam tradisi Mataram gelar Raden Mas hanya sampai kepada cucu raja. Setelah itu dan selanjutnya hanya boleh memakai gelar Raden saja! Keturunan Bangsawan dari sisi Ibu dengan Ayah yang bukan Trah Bangsawan diberi Gelar Mas (misalnya Haji Mas Mansur dan jangan lupa Seniwati Kondang RRI Surabaya Mas Ajeng Remu). Nah keturunan bangsawan campuran trah Jenggala-Surabaya- Madura ini (kalau mereka mau pakai) akan terus pakai Raden Panji sampai kepada keturunan yang keberapapun! (ini yang nyebal dari kebiasaan Kerajaan Mataram). Coba periksa Silsilah Bangsawan Surabaya Trah Boto Putih). Demikian sekedar urun rembug kepada para Budayawan dari seorang awam!

Semar Suwito Yasin:
Trah turunan itu yang mencampur aduk. Referensi yang ada paling sepuh ya yang diberikan Airlangga itu pada kakak iparnya yang putra sulung pendeta Terep, lalu anak Airlangga. Dan tidak semua anak Airlangga bergelar Panji. Baru Aji Jayabaya bergelar Panji. Begitu seterusnya sampai putra Ken Arok, hanya Toh Jaya yang bergelar Panji.
Panji Sepuh juga bukan nama, tapi semacam ritual Ruwat oleh Raja pada Putra Mahkota, dan hanya dua orang itu yg tahu + Tuhan Yang Maha Tahu…
Oh…Selain Toh Jaya ada Panji Seminingrat… mungkin perlu pelajari Geopolitiknya ya…sejak kapan Panji jadi trah/ turunan….karena itu juga kenyatakan yang ada. Saya kira sejak Mataram Islam.

M. Dwi Cahyono:
Bagus Pak Semar, Budaya Panji itu kan suatu kompleksitas, supaya fokus maka pembicaraan perlu dibingkai ke dalam sub-sub tema yang spesifik. Muaranya adalah khasanah Budaya (dalam arti luas) Panji.

Henri Nurcahyo:
Cerita Panji tidak ada hubungannya dengan gelar Panji. Bahwa ada tokoh utama cerita yang bergelar Panji, itu satu kebetulan saja. Jadi tidak semua orang yang punya gelar Panji ada hubungannya dengan Cerita Panji. Yang perlu dirumuskan itu adalah: apa deskripsi atau batasan bahwa sebuah cerita itu dapat digolongkan sebagai Cerita Panji.

Semar Suwito Yasin:

Lho bukankah babon Cerita Panji diawali dari figur yang bernama Panji, anak Lembu Amiluhur. Trus ditelisik sejak kapan gelar Panji ada / diberikan. Kenapa Singosari juga memberi gelar Panji? Kenapa juga pemberi batas wilayah juga gelar Apanji ? Jangan dibatasi cuma “cerita/ folklor Panji,” saja, tapi harus dicari juga akar budaya Panji, hingga mengapa ada Pertanian Panji…Beras Panji, Lombok Panji… Kalau hanya cerita atau trah Panji itu menyempit. Trah Panji itu akal-akalan Sultan Agung. Sebelumnya tidak begitu. Spiritnya seperti kyai, bukan keturunan, tapi ilmu, namun sekarang jadi keturunan.

Henri Nurcahyo:
Bukan disempitkan, tapi keduanya punya jalur yang berbeda tapi beriringan. Soal beras Panji dll itu selaras dengan karakter Raden Panji (dalam cerita) sebagai figur ideal seperti Arjuna.

Semar Suwito Yasin:

Lha…iyo…persoalannya pada memilah – memilih dari kearifan budaya Panji. Setuju Mas Dwi, masuk sub tema, dan tidak persempit spektrum budaya Panji. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *