Kontes Inu Kertapati dan Sekartaji, Mengapa Tidak?

IMG-20151224-01783SIDOARJO: Cerita Panji perlu disosialisasikan kepada kalangan generasi muda. Bukan hanya dalam bentuk ceramah dan penulisan buku melainkan perlu aksi kongkrit misalnya mengadakan kontes Inu Kertapati dan Sekartaji sebagaimana pemilihan ratu-ratuan selama ini. Kalau ada kontes Puteri Indonesia, Raka-Raki, Guk Yuk, Cak Ning dan sebagainya, mengapa tidak diadakan Pemilihan atau Kontes Inu Kertapati dan Sekartaji?

Gagasan ini dikemukakan oleh Soekarno, budayawan dari Porong Sidoarjo, dalam kesempatan Sarasehan Budaya Panji yang diselenggarakan oleh Teater Puska Unair dan Rumah Budaya Pecantingan di Pecantingan, Sidoarjo, Kamis malam (24/12).
Menurut Soekarno, kalau kontes Inu Kertapati-Sekartaji itu dilaksanakan, maka tidak ada posisi runner up seperti pemilihan selama ini. Bisa saja diganti, bahwa juara kedua Panji sebagai Pangeran Brajanata misalnya. Karno yang menyebut dirinya pencetus pemilihan Guk-Yuk Sidoarjo itu juga mengritik pemilihan Raka-Raki Jawa Timur karena menggunakan istilah yang salah. Sebutan Raka itu sudah benar, katanya, tetapi tidak ada sebutan Raki. Yang betul adalah Rara. Jadi seharusnya bukan Raka-Raki, melainkan Raka-Rara.

Soekarno yang juga penekun sejarah itu menguraikan panjang lebar mengenai posisi Jenggala dalam Cerita Panji. Selama ini Sidoarjo jarang disebut-sebut setiap kali membicarakan Cerita Panji, hanya Kediri saja. Padahal, Raden Panji Inu Kertapati itu sendiri adalah putera mahkota kerajaan Jenggala, yang sekarang menjadi kabupaten Sidoarjo. Bahkan, hari lahir Sidoarjo yang selama ini ditetapkan berdasarkan staadblad Belanda tanggal 31 Januari, sudah seharusnya diubah menjadi 24 November, yaitu saat dibentuknya kerajaan Jenggala.

Dalam sarasehan yang mayoritas dihadiri mahasiswa ini, Henri Nurcahyo juga memperkenalkan buku terbarunya, yaitu “Memahami Budaya Panji”. Menurutnya, budaya Panji harus dipromosikan kembali secara terus menerus agar tidak tenggelam oleh budaya asing. Kalau zaman Majapahit Cerita Panji sangat populer dan bahkan menyebar ke berbagai negara, mengapa sekarang justru menjadi asing di negeri sendiri? (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *