Ada yang Hilang pada Tari Topeng

Foto Wahyu Eko Setiawan
Foto Wahyu Eko Setiawan
MALANG: Menyaksikan banyak tari topeng belakangan ini, terasa ada sesuatu yang hilang. Banyak orang yang sanggup menari topeng dengan baik dalam hal teknis menari, namun semakin sedikit bahkan nyaris tidak ada yang membawakannya dengan total. Tari topeng sudah kehilangan roh.

Keprihatinan ini disampaikan oleh Yongki Irawan, pegiat budaya dari Malang dalam acara rutin bernama Sinau Embongan ketujuh yang kali ini memilih topik “Topeng Malangan” di Rumah Budaya Peneleh Kota Malang, Jalan Bogor 1, Jum’at malam (25/12). Selain Yongki, tampil sebagai narasumber adalah Priyo Sunanto Sidhy, dan Suroso, pelaku Wayang Topeng Kedungmonggo Malang, serta juga Henri Nurcahyo, penulis buku, yang didaulat untuk memaparkan perihal Budaya Panji.

Mengapa banyak tari topeng yang kehilangan roh? Yongki menjawab sendiri, bahwa sekarang ini penari topeng sendiri sudah tidak menghargai topengnya. Banyak topeng yang dibiarkan terbuka begitu saja ketika tidak digunakan, diletakkan sembarangan, bukan di atas meja, apalagi dibungkus rapi dengan kain sebagaimana seharusnya. Bagaimana orang lain menghargai topeng kalau penarinya sendiri memperlakukan topengnya seperti itu.

Itulah sebabnya seniman tradisional yang sudah tua memperlakukan topeng dengan sangat bijaksana. Ketika topeng tidak digunakan dalam tempo yang lama, disimpan di kotak, kemudian sebulan sekali dikeluarkan, dilakukan ritual untuk “memandikannya” yaitu dengan cara diasapi dengan dupa. Maksudnya adalah, supaya topeng tidak berjamur. Bayangkan, kata Yongki, kalau ketika digunakan topeng berbau apek dan lembab lantaran berjamur.

Yongki juga menyampaikan keprihatinannya, bahwa penari sekarang tidak pernah ngudang topeng, yaitu mengajak “berbicara” agar karakter topeng itu dapat menyatu dengan penarinya. Dengan melakukan dialog bersama topeng maka karakter topeng itulah yang akan muncul ketika ditarikan. Bagaimana penari bisa menjelma menjadi tokoh topeng yang dikenakannya. Dan bukan sebaliknya, karakter topeng malah menuruti kemauan penari.

“Setiap topeng itu mempunyai karakter tersendiri yang meskipun tidak sedang menari akan berpengaruh terhadap jiwa pemakainya,” tambah Priyo dalam kesempatan yang sama.

Sementara itu, dalam diskusi yang dipandu oleh Wahyu ini, Suroso menambahkan bahwa mengapa para penari topeng dulu terasa seperti memiliki roh yang menyatu dengan topengnya. Sebab, katanya, mereka dulu latihan menari hanya dengan iringan musuk mulut, tanpa gamelan lebih dulu, sampai dengan mereka hapal betul. Tetapi sekarang, malah sudah banyak yang cukup menggunakan iringan rekaman belaka.

Suroso mengemukakan perbandingan, bahwa di Madura kalau ada orang ingin memesan celurit kepada empunya, dia ditanya lebih dulu hari kelahirannya, bagaimana karakternya, sehingga celurit bukan menjadi senjata yang menakutkan, melainkan menjadi pusaka bagi pemakainya. Begitu pula dengan pembuat topeng, selain menggunakan bahan kayu yang khusus, membuatnya disertai dengan doa. Sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa jadi sampai satu bulan sendiri untuk setiap topeng yang bagus. Topeng-topeng koleksi saya, kata Suroso, semua ada khodam-nya (penunggunya).

Diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Pelestari Budaya Malangan ini berlangsung dinamis, pembicaraan kemudian melebar kepada perhatian pemerintah terhadap keberadaan topeng Malangan. Bagaimana topeng Malangan dapat benar-benar menjadi ikon kota Malang, bukan hanya katanya. Bagaimana pemerintah dapat memberikan fasilitas terselenggaranya gebyak (pergelaran) topeng Malangan secara rutin sehingga masyarakat luar mudah menyaksikannya.

Beruntunglah di padepokan wayang topeng Kedungmonggo selalu digelar gebyak gratis setiap Minggu malam Senin Legian.
Para seniman Malang yang hadir dalam diskusi itu juga melontarkan rasa irinya kepada pemerintah Banyuwangi yang sangat peduli terhadap kesenian. Kalau perlu Pemerintah Banyuwangi mendatangkan seniman handal dari luar daerah sebagai pelatih, tetapi ketika acara berlangsung, semuanya ditangani seniman setempat.

Diskusi semakin panas, pembicaraan menjadi ajang curhat terhadap kepemimpinan Kota Malang dan sebagainya. Dan Henri Nurcahyo akhirnya menjadi pamungkas dengan membacakan puisi yang berjudul “Panji, Siapakah Kamu”.

Sejumlah komunitas yang mendukung acara ini adalah Rumah Peneleh Kota Malang, BARA JP Kota Malang, Pemuda Demokrat Kota Malang, Malang Berwarna, Paguyuban Ajisaka, keluarga besar Boworoso, Komunitas Ongis Nade (KOIN), Pemuda Sagaling, Forum Rembug Warga, Oposisi Malang Raya, Keluarga Bhinneka, Harian Bangsa dan Memo X. (hnr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *