Pertunjukan Topeng Cirebon MENARIKAN TOKOH-TOKOH CERITA PANJI

IMG_4346
Oleh Toto Amsar Suanda

Pengantar

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menganalisis cerita Panji, melainkan hanya untuk menelisik cerita tersebut dalam kaitannya dengan pertunjukan topeng Cirebon. Pertunjukan tersebut dipilih sebagai bahasan dengan alasan, bahwa satu-satunya seni pertunjukan yang sangat kental kaitannya dengan cerita Panji adalah topeng Cirebon. Alasan tersebut dipandang sangat logis, karena di Jawa Barat, walaupun terdapat berbagai jenis pertunjukan topeng, namun cerita yang disajikan atau tokoh-tokoh cerita yang ditarikan, pada umumnya tidak merujuk pada cerita Panji. Simak misalnya topeng yang hidup di sekitar Karawang, Bekasi, Cisalak (Bogor), dan sekitarnya, tari-tariannya lebih banyak mengusung cerita wayang (terutama Ramayana dan Mahabharata). Beberapa di antaranya malah tidak jelas latar belakang ceritanya. Jika melakonkan sesuatu, isi lakon yang disajikan biasanya lebih banyak mengungkapkan fenomena keseharian kehidupan masyarakat. Simak misalnya judul-judul lakon dalam topeng Banjet dari Karawang atau topeng Bekasi: Doraka Ti Kolot, Haji Dul Majid, Ngaliter, Pahili Jodo, Cendarwasih, Dodoja Bagja Cilaka, Bapa Jantuk, Bapa Sarkawi, Bapa Doblang, Berkat Jarah Kubur, dan sebagainya.
Lalu, bagaimana kaitan antara cerita Panji dengan pertunjukan topeng Cirebon? Kita bisa menelusurinya dengan cara memerhatikan teks tari-tariannya. Itulah fokus pembahasan yang akan disampaikan dalam makalah ini.

Cerita Panji dalam Topeng Cirebon

Sepanjang yang saya ketahui, cerita Panji tidaklah begitu dikenal masyarakat Jawa Barat. Bahkan di Cirebon pun, yang konon merupakan pusat persebaran topeng di Jawa Barat, cerita tersebut kalah kurang begitu dikenal, walaupun penampilan topeng itu terasa sangat “Panjiisme”. Di Jawa Barat, cerita Panji kalah populer jika dibandingkan dengan cerita pantun atau wayang purwa (Mahabharata dan Ramayana). Dalam hal ini mudah difahami, karena kedua jenis cerita itu diusung oleh dua genre seni pertunjukan. Cerita pantun dilakonkan oleh juru pantun melalui pertunjukan pantun, dan cerita wayang dilakonkan dalam bentuk pertunjukan “boneka” wayang (kulit atau golek), atau wayang wong. Itulah sebabnya, mengapa di Jawa Barat, tradisi seni pertunjukan yang melakonkan cerita Panji amatlah jarang ditemukan.

Satu-satunya pertunjukan topeng yang (dulu) biasa melakonkan cerita Panji adalah topeng gaya Losari. Pada masa lalu, topeng gaya daerah tersebut pernah mempunyai tradisi melakonkan cerita Panji “karangan”, namun kini sudah amat jarang disaksikan lagi. Cerita tersebut biasanya ditampilkan setelah topeng babakan selesai ditampilkan dan gaya penyajiannya sangat mirip dengan wayang wong. Cerita Panji, sesekali juga hadir dalam pertunjukan wayang golek cepak di Indramayu.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa cerita Panji memang amat lekat dengan topeng Cirebon, bahkan menjadi salah satu ciri utamanya. Akan tetapi, bukanlah ceritanya yang disuguhkan melainkan hanya beberapa tokohnya yang diungkapkan dalam bentuk tari-tarian. Karakter tokoh-tokohnya “dipinjam” untuk mengungkapkan fenomena kehidupan manusia, mulai dari lahir sampai mati; dari yang berwatak alus atau baik sampai “kasar” atau buruk; dan dari tingkatan syariat sampai makrifat. Oleh sebab itu, nama-nama tariannya, walaupun beberapa di antaranya sama dengan tokoh-tokoh dalam cerita Panji, tidak secara eksplisit menarasikan alur yang ada dalam cerita tersebut. Topeng Panji, Samba, dan Klana misalnya, gerakannya sama sekali bukanlah gambaran naratif tokoh dalam cerita Panji.

Cerita Panji sebagai background pertunjukan topeng Cirebon adalah salah satu ciri utamanya. Dalam hal ini, topeng Cirebon gaya Losari bisa dijadikan sebagai rujukan. Dalam topeng Losari, nama-nama tariannya senantiasa dikaitkan dengan tokoh-tokoh dalam cerita Panji, misalnya Topeng Pamindo disebut sebagai tokoh Panji Sutrawinangun; Topeng Patih disebut sebagai tokoh Patih Jayabadra; dan Topeng Klana disebut sebagai tokoh Klana Bandopati atau Klana Budanagara. Demikian pula beberapa tari topeng gaya daerah lainnya, mengusung sebagian tokoh yang terdapat dalam cerita tersebut, bahkan salah satu tarinya, yakni tari perang Topeng Tumenggung vs Jinggananom, penyajiannya lebih mirip dengan sebuah pragmen cerita Panji.

Kisah Panji yang “menempel” dalam pertunjukan topeng Cirebon sudah mulai luntur dan kini sudah banyak yang hilang. Hilang, seiring dengan meninggalnya para tokoh topeng itu. Kalaupun demikian, kita masih bisa menelusurinya kepada mereka yang pernah mengalaminya. Dalam hal ini, saya mempunyai beberapa catatan yang didapat dari seorang bodor topeng dari Indramayu, Plodro (Ropendi) namanya, dan dari Sujana, dalang topeng asal Slangit, tentang bagaimana cerita Panji itu sangat jelas “hadir” pada beberapa tarian topeng.
Mari kita perhatikan keterkaitan dan ketidakterkaitannya antara kelima tarian pokok dalam pertunjukan topeng Cirebon dengan cerita Panji berikut ini:

IMG_4305
Topeng Panji yang Bukan Panji

Yakinlah, bahwa tari ini bukan menggambarkan tokoh Panji. Bahkan sebagain besar dalang topeng Cirebon, tidak mengetahui siapa tokoh Panji itu. Mereka hanya faham, bahwa Panji itu adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa “ibu” mereka, siji (satu) atau pertama. Mungkin pula disebabkan karena dalam pertunjukan topeng, tari Topeng Panji selalu ditarikan pada bagian pertama. Malah ada juga yang menganggap sebagai “kirata basa”, mapan sing siji (percaya pada Yang Satu). “pengaji, utawa ngaji, wong ngelmu iman, tauhid, marifat Islam Tarinya malah dimaknai sebagai seorang bayi yang baru lahir. Demikianlah pandangan mereka, sehingga lebih memperkuat penelisikkan, bahwa tari topeng ini tak sedikitpun mevisualisasikan tokoh Panji.

Jadi, Topeng Panji itu bukan siapa-siapa; bukan laki-laki atau perempuan; bukan pula wandu. Ia adalah pemaknaan Dewa turun dari Dunia Atas, menjelma menjadi raja. Dewa memanifestasikan dirinya menjadi raja-raja, dari dunia roh ke dunia material-jasmaniah. Sebagai dewa, raja tentu saja dia amat keramat. Kekeramatan raja ini disebarkan sebagai berkat ke segala arah mata angin kerajaannya. Hadirnya tari Topeng Panji pada awal pertunjukan mempunyai arti turunnya Dewa ke pusat kerajaan. Demikian kata Jakob Sumardjo. Topeng Panji berada pada dunia noumenal. “Dunia di balik makna-makna yang tidak bisa kita ketahui. Dunia benda-benda pada dirinya sendiri, tidak bisa disentuh oleh struktur akal manusia dan tetap tinggal penuh misteri dalam wajah dunia yang sensuous” (Kant dalam Sutrisno, 1999: 131).

Hadir dalam Topeng Pamindo, Rumyang, dan Tumenggung
Seperti halnya Topeng Panji, Topeng Pamindo dan Rumyang pun tidak secara eksplisit mengungkapkan suatu tokoh dalam cerita Panji. Menurut para dalang topeng Cirebon, kata Pamindo malah berasal dari kata pindo atau mindo. Artinya kedua. Boleh jadi ini sangat berkaitan dengan urutan penyajian topeng itu sendiri, yang pada umumnya ditampilkan pada bagian kedua. Kata Rumyang juga diinterpretasikan berasal dari kata ramyang-ramyang (remang-remang). Suatu peralihan dari gelap ke terang.

Topeng Pamindo sering juga disebut Topeng Samba dan nama Samba adalah salah satu tokoh yang disebut-sebut dalam cerita Panji. Dalam pertunjukan topeng gaya Losari (seperti telah disebutkan di atas), Topeng Samba atau Pamindo diibaratkan sebagai tokoh Panji Sutrawinangun. Atas dasar penokohan itulah, kemungkinan besar, mengapa di Losari, kita tidak akan pernah menyaksikan adanya tari Topeng Panji. Kedok Panji tersimpan di dalam kotak dan hanya akan dipakai menari sebagai tokoh Panji jika lakonan ditampilkan.

Pada bagian tertentu (bodoran), tari Topeng Pamindo bisa dengan jelas menggambarkan tokoh Kudapanulih. Pada bagian tersebut Topeng Pamindo (Kuda Panulih) disertai bodor yang mengenakan kedok Pentul dan bernama Patrajaya. Demikian pula dalam tari Topeng Rumyang. Sedangkan dalam tari Topeng Tumenggung vs Jinggananom (perang), kita bisa dengan jelas melihat sebagian alur cerita Panji.
IMG_4320
Perhatikan sebagian dialog Kudapanulih (Pamindo) dan Patrajaya (Pentul):
Patrajaya: . . . Kang kula aturaken, namining abah-abah,
Penganten. Abah-abah penganten wau, kang kasebat:
Garuda marep, garuda mungkur, tampal-jaja, ulur-ulur,
sadah saler, kilat bahu, gelang-gana, gelang-pangsor,
sumping, jamang, sinanggaing praba, dodot wrayang
gangseng kencana.
Cacah pinten Mas Raden?
Raden Kudapanulih menjawab(melalui dalang) apa yang ditayakan Patrajaya:
Kudapanulih : Cacah sanambang gungipum, kakang Patrajaya!
Patrajaya : Kantun ngaturaken warnaning jejer,
Yen si jejer nganggo kayu jati, warnaning jati:
Jati, jatos, jati pilong, jati reab, jati angas.
Para Nayaga : wah, akeh temen warnane!
Patrajaya : Ya iya akeh, sira kang beli ngerti
Para Nayaga : Kapriben artine?
………………………………………………………………………………..
Perhatikan pula dialog dalam tari Topeng Rumyang berikut ini:
Patrajaya : Den niku jogedan punapa?
Rumyang : Iki jogedan urang unggut, Kakang.
Dalang topeng kemudian melanjutkan tariannya, dan setiap gerakan yang dilakukannya senantiasa ditanyakan oleh Patrajaya:
Patrajaya : Den, jogedan apa niku, Den?
Rumyang : Iki jogedan yuyu miring, Kakang. Dalang menari lagi
dengan gerakan welut sakembu, Patrajaya bertanya lagi:
Patrajaya : Niku jogedan apa sih, Den?
Rumyang : Iki jogedan bebek ngoyor, Kakang.
……………………………………………………………………………………………………..
Catatan yang sangat penting dari dialog tersebut adalah, disebutnya dua tokoh itu: Kudapanulih dan Patrajaya yang sekaligus menandakan adanya keterhubungan antara topeng Cirebon dan cerita Panji. Sayang, dialog semacam itu kini sudah tidak bisa disaksikan lagi. “Artefak Panji”, sedikit demi sedikit mulai hilang. Kini, yang tersisa hanya ada pada bagian tari Topeng Tumenggung vs Jinggananom. Fragmen tari ini mengisahkan Tumenggung Magangdiraja dari Kerajaan Bawarna mencari Jinggananom yang “kabur” dan sudah lama tidak mengirim upeti. Jinggananom memproklamirkan diri sebagai raja di Jongjola. Ia sudah merasa merdeka. Mempunyai keraton sendiri dan sudah kaya. Ketika Tumenggung menemukannya, dan memaksa untuk kembali ke Bawarna, Jinggananom menolak. Terjadilah peperangan di antara keduanya. Jinggananom akhirnya dapat dikalahkan.

Topeng Klana juga bukanlah tari yang mengisahkan Raja Klana. Di kalangan dalang topeng Cirebon, Topeng Klana adalah gambaran karakter manusia yang serakah, tamak, dan tidak bisa mengendalikan diri. Di luar Cirebon, tari tersebut malah diadaptasi oleh para koreografer tari Sunda dan namanya menjadi Topeng Rahwana yang menggambarkan Rahwana yang sedang gandrung pada Dewi Shinta.

Epilog
Dari pertunjukan topeng Cirebon, kita bisa menyimak keterkaitan dan ketidakterkaitannya antara tari-tarian yang ditampilkan dengan cerita Panji. Konteks tarinya berada di wilayah abu-abu, antara jelas dan tidak jelas; antara mengisahkan dan tidak mengisahkan cerita Panji.

Gaya topeng Losari telah menunjukkan kepada kita, bahwa ada pemisahan antara tari-tarian yang lebih mengedepankan karakterisasi (alus, genit, gagah) dan lakonan. Sedangkan gaya topeng Cirebon lainnya, lebih mengedepankan karakterisasi dan tidak mempunyai tradisi lakonan.

Topeng Cirebon juga lebih mengusung unsur filosofinya (terutama Islam), sehingga tari-tariannya dipandang sebagai gambaran kehidupan manusia dan tuntunan hidup. Keseluruhan tari-tariannya menggambarkan sebuah pertarungan antara yang baik dan yang buruk dan visualisasinya diwakili oleh Topeng Panji dan Klana.

Di Cirebon, cerita Panji lebih berkembang dalam bentuk tari-tarian, sedangkan di Jawa Timur, berkembang dalam bentuk lakonan. Itulah perbedaan mencolok di antara keduanya.


Daftar Pustaka

Endo Suanda. (1983). “Topeng Cirebon: in Social Context”. A Thesis submitted to the Faculty of Wesleyan University in partial fulfillment of the requirements for the degree of Master of Arts. Middletown. Connecticut.

Mudji Sutrisno. (1999). Kisi-Kisi Estetika. Yogyakarta. Kanisius.

____________. (2005). Teks-Teks Kunci Estetika, Filsafat Seni. Yogyakarta. Galangpress.

Sumardjo, Jakob. (2002). “Tafsir Kosmologi Topeng Cirebon”. Bandung: Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

Toto Amsar Suanda. (2009). Topeng Cirebon. Bandung. Jurusan Tari. Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

Lampiran:

CONTOH
BEBERAPA CERITA PANJI VERSI LOSARI


Jaka Bluwo

Di dusun Pesawahan, Jaka Bluwo menjadi seorang petani. Kerjanya menanam labu, oyong, dan cabe. Ketika ia tengah mencangkul, kakinya terkena ayunan cangkul sendiri. Pacul disembahnya sampai akhirnya luka di kakinya sembuh.
Nyi Randa Miskin mengirim Bluwo dan teman-temannya yang juga selamanya bertani. Ia menemukan wulung membawa ayam dan kemudian dipelihara sampai menjadi ayam aduan. Ketika ayamnya diadukan, ayamnya lari, namun larinya ke depan sampai menabrak kuali pembatik. Bluwo mengetahui bahwa yang membatik adalah putri cantik, Lara Ketuwon. Ia jatuh cinta dan meminta kepada ibunya (Nyi Randa Miskin) bahwa ia ingin kawin dengan putri tersebut.
Di dusun Pesawahan, Nyi Randa Musajem dan Laraketuwon sedang menceritakan tentang banyaknya orang yang melamar putri, namun semuanya ditolak, termasuk Jaka Bondan. Kemudian datanglah Jaka Bluwo melamar dan lamarannya diterima putri Laraketuwon. Ketika Jaka Bluwo tengah bertunangan dengan Lara Ketuwon, datanglah Klana yang juga ingin melamar putri tersebut. Ketika ia melihat putri tengah berduaan dengan orang yang dianggapnya jelek, Klana kemudian marah. Terjadilah peperangan antara Jaka Bluwo dan Klana. Jaka Bluwo dipanah, akhirnya berganti rupa menjadi Panji. Peperangan diteruskan lagi antara Panji dan Klana. Klana akhirnya dapat dikalahkan.

Kuda Leleya

Di Banjar Kemelaten, Panji Tambak Baya dan istrinya tengah bercengkrama. Dikatakan bahwa jika istrinya mengidam lagi, Panji disuruh ke Orawan. Panji pun berangkat karena hal tersebut merupakan suatu tugas.
Di Orawan, ratu dan para dayang tengah menceritakan, setelah hilangnya Timbul Lautan negara merasa aman. Namun ada lamaran dari raja Kesabrangan. Permintaan putri, mau bertemu dengan Klana asal Panji Tambak Baya mau jadi pajangan pengantin. Kemudian datang Panji dan ratu berjanji, jika nanti putri bertunangan, Panji menemani. Panji pun menyanggupinya dan ia terus ke luar karena ia merasa tengah kena guna-guna Nyi Aldalawardi. Ia terus menuju Gegelang.

Di Gegelang, Nyi Aldalawardi yang sebenarnya adalah Nyi Permani, sangat mencintai Arjuna walaupun wujudnya kelong wewe namun maunya kepada putri. Ketika ia mendengar Panji datang ia berganti wujud menjadi Nyi Aldalawardi dan ia merasa amat gembira serta Panji tidak ingat lagi kepada istrinya dan tugas-tugasnya.
Dikisahkan di Banjar Kemelaten, Dewi Sekartaji sudah melahirkan dan anaknya sudah besar. Anak tersebut diberi nama Kuda Leleya. Kemudian Rd. Perbatasari ingat kepada ayah anak tersebut, terus ia permisi untuk memasrahkan anak tersebut kepada Panji dan pawongan Patrajaya untuk diasuh.

Di gegelang, Panji tengah bersenang-senang, kemudian datang Perbatasari yang bermaksud untuk mempertemukan anaknya. Nyi Aldalawardi masuk ke dalam keraton, Panji kemudian merangkul anaknya.

Nyi Aldalawardi yang berada di kamar tengah menghafal ilmu agar Panji membenci anaknya sendiri. Kemudian Panji seperti tak sadar dan ketiga tamu diusirnya sehingga meraka lari dan pergi menuju Gegelang.

Di Orawan, putri tengah menunggu kedatangan Perbatasari dan ketika ia datang, Perbatasari menceritakan apa yang terjadi di Gegelang. Lalu Candrakirana pergi menuju Gegelang dan amat marah kepada tingkah laku Aldalawardi. Setibanya di Gegelang, Candrakirana langsung menemui Panji dan Aldalawardi, ia kemudian menjambak rambut Panji sehingga Panji meminta ampun. Panji kemudian kembali ke Jenggala.

Di Banjar Kemelaten, Dewi Sekartaji tengah berbincang dengan Dewi Ragil Rajauju yang tengah bersimpati terhadap adiknya, Perbatasari. Perbatasari mengaku bahwa kakak Panji sudah tidak mengaku saudara lagi malah ia disiksa. Anak itu kemudian diberikan kepada Dewi Ragil sedangkan Sekartaji dan Perbatasari pergi untuk menyamar.

Panji kemudian datang dan bertanya kepada Dewi Ragil, ke mana Sekartaji dan Perbatasari? Dewi Ragil menjawab, bahwa semua pergi bahkan juga pawongan. Panji kemudian menitipkan anaknya untuk dijaga Dewi Ragil dan ia memberi nama anak tersebut dengan Raden Gagak Pernala. Panji kemudian pergi untuk mencari istrinya.

Diceritakan bahwa Dewi Sekartaji dan adiknya Perbatasari berada di kampung Pasewakan. Perbatasari menyamar jadi Nyi Randa bernama Musajem. Sekartaji menyamar menjadi Dewi Lara Ketuwon. Sedangkan Tembem disuruh pergi.
Panji terus mencari istrinya, namun ia tidak menemukannya. Ia kemudian menyamar menjadi orang jelek. Tembem menyamar menjadi Nyi Randa Miskin. Sedangkan Palasentika dan Nilaperbangsa menyamar menjadi pajangan bangsal kencana dan menjadi leluhur Lawon Bumi dan Sarung Trondol.

Jaka Penjaring

Dimulai dari negara Orawan, ratu dan Kili tengah membicarakan banyaknya orang yang melamar putri Candrakirana. Prabu Lembu Jaya Miluhur merasa bingung karena ada 25 negara yang melamar putri, termasuk raja Kasabrangan, Prabu Klana Singasudarsa. Kemudian ia memanggil Candrakirana dan menanyakan siapa yang akan diterimanya. Candrakirana hanya meminta, bahwa barang siapa yang bisa mengalahkan seekor gajah, maka ialah yang akan menjadi jodohnya.

Gajah tersebut berada di Wantilan, dan ia bukan gajah sembarangan, bernama gajah Pergoti yang asalnya dari cerita Parikesit dan berganti nama menjadi Gajah Suandana. Ia memang ditugaskan untuk menghadapi para pelamar putri.

Di alun-alun Camara, para pelamar, termasuk Klana, semuanya berusaha untuk mengalahkan gajah tersebut, namun gajah mengamuk dan semuanya tidak ada yang kuat menghadapinya. Para pelamar akhirnya bubar.
Di Pedukuhan, Jaka Penjaring tengah dikerumuni para gadis yang mencintainya. Masing-masing ingin menjadi istrinya. Ketika datang Nyi Randa Miskin, gadis-gadis diusirnya, karena sebenarnya ia juga jatuh cinta terhadapnya. Jaka Penjaring adalah anak angkat Nyi Randa Miskin yang ia temukan di tengah hutan. Nyi Randa berterus terang bahwa ia mencintai Jaka Penjaring, malah ia mengajak untuk berbuat tidak selayaknya sebagaimana ibu terhadap anaknya. Tentu saja Jaka Penjaring menolak dan oleh sebab itu ia akhirnya diusir. Jaka Penjaring pergi dan tiba di tengah hutan. Namun Nyi Randa Miskin akhirnya juga merasa menyesal, ia pun segera mencari anaknya.

Ketika Jaka Penjaring tengah berada di tengah hutan, ia bertemu kembali dengan ibunya. Pada suatu saat datanglah seorang yang akan mencuci pakaian dan seorang yang berjualan minyak. Keduanya menyuruh Nyi Randa untuk mencucikan pakaian tersebut dan menjualkan minyak. Namun Nyi Randa malah menyuruh Jaka Penjaring untuk mencuci pakaian tersebut dan juga jualan minyak. Karena ia tak terbiasa, cucian semuanya hanyut. Demikian pula tanggungan minyaknya tumpah.

Nyi Randa Miskin masih merasa penasaran terhadap anaknya. Ia pun kembali merayu Jaka Penjaring untuk berbuat tidak senonoh. Namun ketika tengah merayu, datanglah Gajah Suandana dan Nyi Randa dilemparkannya sampai jatuh di tempat yang sangat jauh. Jaka Penjaring kemudian disuruh menunggangi gajah tersebut dan ia dibawa ke Orawan untuk dipertemukan dengan Dewi Candrakirana.

Setibanya di Orawan, kemudian Panji disuruh masuk ke dalam keraton dan dipertemukan dengan Candrakirana. Jaka Penjaring ditanya asal-usul loleh Prabu Lembu Jaya Miluhur. Ia mengaku berasal dari Jenggala, anaknya Prabu Tambak Baya. Lembu Jaya ingat hubungan masa lalu yang kurang baik dengan Tambak Baya, akhirnya Jaka Penjaring diusir lalu pergi dari Orawan. Seperginya Jaka Penjaring, Candrakirana kemudian jatuh sakit.
Jaka Penjaring kemudian sampai di tengah hutan. Ia bertemu dengan Dewa Narada dan disuruhnya menyamar menjadi orang jelek dan berganti nama menjadi Rudamala. Ia juga disuruh bertapa di jurang goda merdana di bawah pohon randu kombala.

Catatan:
Makalah ini dibacakan dalam acara MENDISKUSIKAN PANJI di Galeri Seni Abun, Bandung, Selasa, 19 Januari 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *