Workshop Warisan Budaya dan Cerita Panji

01
Siapakah Panji? Georgi Panayotof, MA alias Joss menanyakan hal itu pada peserta “Workshop Pelestarian Cagar Budaya dan Warisan Budaya Tak Benda” di Museum Airlangga Kota Kediri. Maka masing-masing peserta diminta menulis satu kata saja di secarik kertas kecil terkait dengan Panji. Kemudian puluhan kertas bewarna-warni itu ditempel di sebuah kertas plano. Ternyata, hasilnya beraneka ragam. Dan itulah cara Joss memulai pengenalannya mengenai Panji dalam workshop yang diselenggarakan oleh Dinas Parbudpora Kota Kediri di kawasan wisata Gua Selomangleng itu, Sabtu (7/5/16).

Sebelumnya, acara dimulai dengan pemaparan oleh Diane Butler yang mengajak peserta untuk bersama-sama memahami apa itu cagar budaya dan warisan budaya tak benda (intangible heritage) dengan cara interaktif. Perempuan yang berasal dari Amerika Serikat, tinggal dan mengajar di Universitas Udayana Bali itu mengajak peserta untuk membacakan bagian-bagian makalah yang dibawakannya secara bergantian. Kemudian peserta dibagi tiga kelompok dengan tugas merumuskan pertanyaan. Namun sayangnya, Diane ternyata tidak menjawab secara kongkrit permasalahan yang diajukan peserta. Bahkan ketika ada peserta yang menodong Diane dengan persoalan rumah cagar budaya yang dibongkar di Surabaya, Diane mengelak dengan alasan tidak mau campur tangan.

Sementara Georgi Panayotof, MA didampingi oleh Nikolay Vlahof, MA, keduanya dari Bulgaria yang pernah kuliah di ISI Yogyakarta. Mereka menyampaikan materinya melalui permainan, mengajak peserta untuk menyampaikan siapa itu Panji hanya dengan satu kata, berdiri melingkar, saling mengenal, berkomunikasi, untuk mengakrabkan dan menggambarkan apa perbedaan pemimpin dan boss. Panji itu pemimpin, bukan boss. Kemudian peserta diminta membuat topeng kertas, memilih perannya sendiri, dan membuat adegan pertunjukan singkat dengan kelompoknya.
Cara semacam ini pernah dilakukan di Universitas Muhammadiyah Malang, dimana keduanya mengajar di sana. Sebuah teknik penyajian yang menarik. Peserta diajak terlibat langsung dan memerankan karakter topeng kertas yang dibuatnya sendiri.

Hari kedua, sepenuhnya pertunjukan yang diselenggarakan di altar depan Gua Selomangleng dan sekitarnya. Ditampilkan performance dari Soeprapto Suryodarmo, Mugiono Kasido (Solo), Suroso Topeng (Malang), Agnes Cristina (Singapura), Seni Jantur Panji Udan dari Bimo dan tim (Klaten), Darmawan, Memet dan Elisabeth Nila (Yogyakarta), Daryono dan Agus Gunawan (Solo – Lampung), Georgi Panayatov (Bulgaria) dan SMP Pawiyatan Daha 1 Kota Kediri. (hn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *