Pagelaran Lingga Kadiwatan Mandala Giri

02KEDIRI: Entahlah, apa yang dimaksudkan dengan acara yang berjudul “Pagelaran Lingga Kadiwatan Mandala Giri”. Mungkin maksudnya “pergelaran” bukan pagelaran. Yang jelas, acara yang diselenggarakan oleh Disbudparpora Kota Kediri ini berlangsung dua hari (7-8 Mei 2016) di kawasan wisata Gua Selomangleng. Hari pertama diisi workshop Pelestarian Cagar Budaya dan Warisan Budaya Tak Benda. Hari kedua digelar serangkaian pertunjukan oleh sejumlah seniman dari berbagai daerah dan mancanegara.

Soal workshop, sudah saya tulis sebelumnya, kali ini saya bercerita soal rangkaian pergelaran itu. Acara pergelaran semacam ini sudah pernah diselenggarakan oleh institusi yang sama, di tempat yang sama dan dengan penyaji yang hampir sama pula. Bahkan, menurut rencana akan diselenggarakan setahun tiga kali. Katanya, supaya objek wisata Selomangleng semakin banyak dikunjungi wisatawan dengan acara-acara kesenian, yang ujung-ujungnya juga akan menguntungkan para pedagang yang mengais rejeki di situ.

Para penyaji kali ini nampaknya merupakan jaringan dari Suprapto Suryodarmo dari Padepokan Lemah Putih, Surakarta. Mereka inilah yang memang sering tampil di berbagai tempat bersama Mbah Prapto, seperti acara tahunan Srawung Seni menyongsong pergantian tahun baru di Candi Sukuh Karanganyar yang sudah berlangsung sepuluh tahun secara berturut-turut. Diantara nama-nama itu adalah Diane Butler, Mugiyono Kasido, Wangi Indria, dan Memet Chairul Slamet. Juga ikut tampil dalam kesempatan kali ini adalah Mbah Bima dari Klaten, Elisabeth Nila (asal Jepang), Darmawan Dadijono, Suroso Topeng (Malang), Daryono dan Agus Gunawan (Solo – Lampung), Georgi Panoyotov (asal Bulgaria), Agnes Christina (asal Singapura) dan siswa SMP Pawiyatan Daha 1 Kota Kediri.
06
Acara ini dimulai pukul 09.30 dengan prosesi yang dipimpin oleh Suprapto Suryodarmo di jalan depan Museum Airlangga. Di depan hamparan lembaran kain putih panjang itu kemudian seluruh peserta berjalan perlahan menuju lokasi pementasan Wayang Topeng Padepokan Asmarabangun yang kali ini dipimpin oleh Suroso. Acara kemudian diawali dengan pertunjukan tari oleh siswi SMP Pawiyatan Daha 1 Kota Kediri, disusul pergelaran wayang topeng dengan lakon “Lahirnya Kediri”. Lokasi pentas kal ini memang tidak biasa, bukan persis di depan gua, melainkan di sebuah tempat istirahat pengunjung di sisi jalan.

Usai pentas wayang topeng, rombongan penyaji bergeser ke samping. Di situ sudah ada perempuan berbusana lumayan minim duduk di sebuah batu. Meliak-liuk sedemikian rupa, dan kemudian menari di tongkat stainlees yang tegak terpancang. Elisabeth Nila namanya, perempuan asal Jepang yang sedang kuliah di ISI Yogyakarta. Nila melingkarkan tubuhnya di tiang itu, naik dan turun, bahkan dengan posisi kepala di bawah. Turun lagi, menari di atas batu yang berbeda, melepas kebaya yang jadi baju luarnya, mengenakan topeng hijau, menari lagi di tongkat itu. Ahh… pemandangan yang indah. Inikah Dewi Sekartaji itu?

Dalam satu rangkaian dengan pergelaran Nila ini, Georgi Panayotov sudah berada dalam posisi menggantung di dua helai kain merah yang disangkutkan di cabang pohon. Lelaki asal Bulgaria itu kemudian menari dengan media dua kain yang menggantung itu. Tak lama kemudian Elisabeth Nila bergantian menari di kain yang sama. Georgi naik lagi, menari lagi, Nila menuju tiang stainlees, Georgi menyusul Nila, dan keduanya menari di media tiang yang sama. Kemudian mereka saling berpelukan mengapit tiang. Selesai di situ, sampai tak terpikir memberi hormat pada penonton. Sebuah pertunjukan dahsyat yang mengundang tepuk tangan meriah.
012
Lokasi pertunjukan bergeser lagi. Kali ini Memet Chairul Slamet sudah bersiap di bebatuan Gua Selomangleng memainkan serulingnya. Seorang penari meliak-liukkan tubuhnya dalam balutan busana hitam panjang yang berbelah setinggi paha. Perempuan berambut panjang ini (Agnes Christina?) menari di sepanjang bebatuan di depan gua, seirama dengan alunan musik seruling Memet.

Keseluruhan pertunjukan yang berlangsung hingga pukul hampir pukul 14.00 ini memang terasa panjang, melelahkan, dan sama sekali tidak ada pembawa acara yang menyampaikan informasi pada setiap penampilan. Tentu saja, penonton tidak tahu siapa yang tampil, apa judul penyajiannya, apalagi sinopsisnya. Dari sisi apresiasi, pilihan cara seperti ini tidak menguntungkan penonton, khususnya para wisatawan lokal yang tentunya butuh edukasi kesenian. Kecuali, kalau memang para seniman yang tampil kali ini lebih sibuk dengan diri mereka sendiri, tak peduli dengan penonton, yang penting tampil begitu saja.

Begitulah, setelah Memet, entah siapa yang menari, empat perempuan berkebaya, berkonde, mengenakan kacamata hitam dan berselempangkan selendang hijau. Seorang lelaki berambut panjang nampak seperti pemimpinnya. Nampaknya ini sejenis tari pergaulan, lantaran menjelang akhir pertunjukan, keempat penari itu mengganti dengan selendang berwarna merah dan mengajak penonton berjoget.

Diawali dua lelaki berbusana putih-putih melakukan ritual pembuka dengan mencipratkan air, Suprapto Suryodarmo, seperti biasa tampil dengan gerakan-gerakan spiritual bernuansa Budhis. Dua perempuan dan seorang lelaki duduk di bebatuan depan gua, memainkan musik dan melantunkan mantram Budhis. Suprapto melakukan olah tubuh dengan sebatang sapu lidi, seorang perempuan berada dalam sangkar ayam bersama dengan beberapa ekor merpati, sebelum akhirnya juga menari. Kemudian Diane Butler masuk arena, menari dengan selendang putih.

Berikutnya, Wangi Indria menyusul naik ke bebatuan, langsung masuk dalam ceruk gua dan melantunkan tembang. Setelah itu saya tidak mengikuti lagi pertunjukan ini karena ada pertemuan dengan para seniman di Omah Panji. Mereka membahas perihal koperasi seniman dan rencana acara minggu berikutnya di alun-alun kota Kediri.

Menurut informasi, acara berlangsung mengalir saja, dan saya lihat penonton sudah jauh berkurang, tidak lagi berjubel seperti pada awalnya. Wayang Panji Jantur dari Ki Bimo gagal pentas utuh karena keburu diserobot Jaranan dari Kediri dan prosesi tumpeng buah sebagai penutup acara. Sayang sekali. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Acara berakhir dengan doa bersama dan tumpengan. (hn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *