Gerak Panji, Rangkaian Acara Sepanjang 2016

Inggil
Dalam waktu beberapa tahun belakangan ini mulai terasa ada pergerakan tersendiri terkait dengan Budaya Panji di berbagai daerah, khususnya di Jawa Timur. Mereka yang peduli terhadap Budaya Panji mencoba menggelar acaranya sendiri, dalam skala lokal, provinsi maupun nasional. Para pelaku itu, sayangnya, bergerak sendiri-sendiri sehingga terkesan tidak ada kordinasi dan bisa tumpang tindih.

Kondisi ini sebenarnya pernah dirisaukan oleh Lydia Kieven, sehingga arkeolog asal Jerman itu menggagas pertemuan antar pelaku Budaya Panji di Trawas tahun 2014. Tetapi nampaknya program yang dicanangkan belum sesuai yang diharapkan, maka dilakukan pertemuan serupa di Padepokan Mangundarmo Tumpang tahun 2015. Dan ternyata, juga belum menunjukkan hasil yang maksimal. Ada upaya untuk membentuk semacam “sekretariat bersama” antar pelaku Budaya Panji. Dan itu ternyata memang tidak mudah mewujudkannya, apalagi menjalankan programnya.

Sampai kemudian, Prof. Wardiman Djojonegoro menghubungi beberapa pelaku Panji di Jawa Timur, yaitu Jamran (Kediri), Wima Brahmantya (Blitar) dan Henri Nurcahyo (Sidoarjo). Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era Soeharto itu menginginkan ada kesamaan langkah para pelaku Budaya Panji di Jawa Timur. Wardiman sangat antusias mendorong kepedulian para aktivis itu, bahkan dia ikut getol memperjuangkan Cerita Panji bisa diakui oleh Unesco. “Tolong kalian koordinasi, nanti kita menghadap Gubernur Jawa Timur agar Panji lebih dipedulikan minimal di daerah asalnya sendiri,” kata Wardiman.

Ajakan ini segera ditindak-lanjuti. Jamran segera menghubungi beberapa orang dan sepakat untuk mengadakan pertemuan terbatas di Restoran Inggil Malang, Kamis (26/5). Hadir dalam kesempatan itu adalah Jamran sendiri, Arief Kusuma, Gatot Lestari, Fachris (Kediri), Wima Brahmantya (Blitar), Semar Suwito (Surabaya), Henri Nurcahyo (Sidoarjo), Soleh Adipramono dan Dwi Cahyono Inggil serta M. Dwi Cahyono arkeolog (Malang).

Pertemuan singkat namun padat itu menghasilkan beberapa agenda dengan tema besar bernama “Gerak Panji” sebagai berikut:
1. Dwi Cahyono Inggil sedang membangun Museum Panji di dusun Slamet, desa Pandan Ajeng, Kec. Tumpang, Kab Malang, yang akan dibuka untuk umum tanggal 20 – 27 September 2016, dengan acara Festival Panji yang melibatkan masyarakat di 7 desa, dan berbagai daerah lain. Peserta pertemuan menyarankan agar dalam festival ini juga mengundang pengisi acara dari daerah lain, khususnya luar Jawa, dengan biaya sendiri, misalnya Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan.

2. Agenda rutin pergelaran Wayang Topeng Malangan sudah berlangsung di Padepokan Mangundarmo, Tumpang, setiap Sabtu malam minggu kedua setiap bulan. Sedangkan di Padepokan Asmarabangun, Pakisaji, digelar setiap bulan pada hari Minggu Legi malam Senin Pahing. Direncanakan, akan menggelar pergelasan Wayang Topeng Wilayah Timur di Padepokan Mangundarmo Tumpang. Masih di wilayah Malang, ada pergelaran rutin Wayang Krucil Malangan dalam acara Gebyak Syawal, hari ketujuh setelah Idul Fitri di dusun Wiloso, desa Gondowangi, Kecamatan Wagir. Dan memperingati HUT Kabupaten Malang pada bulan November akan digelar tari topeng massal dan jaran kepang kalap bareng (bersama-sama). Selain itu, direncanakan tanggal 23-25 September 2016 digelar pertunjukan wayang topeng dengan lakon Panji Margasmara. Mengingat waktunya bersamaan dengan Festival Panji di Tumpang, lokasi pergelarannya mungkin tidak lagi di Candi Singosari. Atau, bisa jadi dua-duanya, di Singosari dan juga Tumpang. Toh lokasinya berjauhan, sehingga dapat meraih penonton lebih banyak.

3. Di kawasan objek wisata Gua Selomangleng Kota Kediri, sudah berdiri Omah Panji, yang sekaligus menjadi nama komunitas pelaku Budaya Panji untuk Kota dan Kabupaten Kediri. Pada tanggal 27 – 29 Oktober 2016 direncanakan beberapa acara, antara lain Sarasehan Panji, Workshop Seni Kriya Berbasis Panji, Lomba Mendongeng dan Seni Pertunjukan. Koordinator acara ini adalah Jamran.

4. Mewakili wilayah Kabupaten Kediri, Fachris akan mengupayakan diselenggarakannya Sarasehan Panji untuk kalangan pelajar dan guru-guru. Disamping itu, juga akan mengadakan Jelajah Budaya Panji, dengan jalan berkunjung ke situs-situs terkait Panji di Kediri dan sekitarnya. Waktunya belum ditentukan. Soal Jelajah Budaya Panji ini juga akan dilakukan di Malang dan sekitarnya yang nantinya akan diatur oleh M. Dwi Cahyono. Sedangkan wilayah Mojokerto dan sekitarnya akan dikoordinasi oleh Henri Nurcahyo.

5. Festival Panji di Blitar sudah berlangsung rutin setiap tahun untuk ketiga kalinya. Pada tahun ini, akan diselenggarakan untuk keempat kalinya pada bulan Oktober 2016, dengan puncak acara berupa Purnama Seruling Penataran di Candi Penataran sebagaimana biasa.

6. Wilayah Sidoarjo, mencoba pergelaran Kentrung Panji, demikian juga di Lamongan dengan lakon Panji Laras Liris. Hal ini sebagai representasi Panji Pesisiran. Sementara di Surabaya akan mencoba mendorong Ludruk Irama Budaya yang rutin pentas di THR mementaskan lakon Panji Laras.

7. Tulungagung, juga merencanakan Festival Cindelaras yang akan dilaksanakan 16 November 2016, sementara 25 November digelar sendratari Panji non-topeng di Kalidawir. Sedangkan di daerah Sendang, masih di Tulungagung, ada arak-araknya Tumpeng Robyong tanggal 3-5 Suro di Candi Penampihan. Dalam kaitan ini akan diselenggarakan lomba sendratari Panji versi pendek untuk siswa SMA/SMK.

8. Diluar soal pergelaran, Semar Suwito diam-diam sudah mengerjakan film dokumenter Panji, dan masih terus berproses. Yang jadi kendala sekarang adalah soal editingnya. Butuh biaya. Henri Nurcahyo juga sedang mengumpulkan berbagai Cerita Panji yang nantinya akan dibukukan karena selama ini masyarakat justru tidak banyak yang mengenal apa saja yang tergolong Cerita Panji. Disamping itu, juga akan dibuat Komik Meme Panji dengan mengambil cerita dari salah satu atau beberapa lakon pergelaran wayang topeng.

Semua event tersebut di atas akan dilakukan oleh masing-masing pelaku Budaya Panji di kota-kota yang bersangkutan. Tidak ada penyatuan kepanitiaan, juga pendanaan, masing-masing bergerak sendiri-sendiri meski saling membantu. Koordinasi ini lebih dimaksudkan sebagai upaya untuk dapat memetakan apa saja yang dilakukan para Pelaku Budaya Panji, khususnya sepanjang tahun 2016 ini. Tentu saja mungkin masih ada yang terlewat, karena pertemuan kali ini belum melibatkan semua pihak. (hnr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *