Pengembangan Cerita Panji dalam Berbagai Program “Gerak Panji”

03
Catatan Henri Nurcahyo

Gerak Budaya Panji sudah semakin membahana dalam satu dasawarsa belakangan ini. Bahkan sudah melebar dari wilayah Jawa Timur yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Cerita Panji. Berbagai acara bertema Panji sudah diselenggarakan dimana-mana, mulai yang berskala internasional, nasional, setingkat provinsi, selingkup kota atau kabupaten, maupun forum kecil di lingkungan komunitas tertentu. Termasuk juga, tema Panji dilekatkan pada acara-acara lain yang tidak secara khusus membahas Panji. Pertanyaannya, apakah makna dari kesemuanya ini?

Pertama-tama, marilah kita baca bagaimana pemetaan Gerak Budaya Panji ini. Pada mulanya, semuanya ini berasal dari sebuah acara bernama “Pertemuan Seni Panji” di Pusat Kerjasama Budaya dan Bahasa Prancis (CCCL) Surabaya tanggal 12 Agustus 2004, diprakarsai oleh Soeprapto Suryodarmo (Padepokan Lemah Putih Solo), Lydia Kieven (arkeolog dan pakar Panji) serta Suryo Wardoyo Prawiroatmojo (Ashoka Fellow dan pegiat lingkungan dan budaya, Trawas).

Tujuan dan harapan pertemuan waktu itu antara lain:
a. Menyamakan dan menyatukan persepsi serta visi tentang seni berbasis Panji.
b. Revitalisasi dan revival budaya berlandaskan Panji untuk membangkitkan semangat dan jiwa serta jatidiri kepribadian Jawa, demi menghadapi tantangan globalisasi yang dapat mengeliminasi dan memarginalisasi budaya adiluhung.
c. Membicarakan rencana penyelenggaraan suatu program Panji yang komprehensif, menurut tataran seni budaya, sosiologi, sejarah sampai penanaman kebangsaan pada generasi muda.
d. Membicarakan kemungkinan adanya suatu “Panji Centre” yang menggalang poros seni budaya Panji: Bali – Jawa Timur – Jawa Tengah dan DIY serta jaringan di negeri berbudaya Panji, seperti Thailand, Cambodia dan Champa (Vietnam Selatan).

Pertemuan tersebut lantas menghasilkan tekad, bahwa pada tahun 2005, tepat 60 tahun Indonesia merdeka pantas menjadi saat yang sesuai untuk penyelenggaraan suatu acara besar skala internasional berpusat pada Budaya Panji, yaitu; membahas berbagai segi lewat workshop, seminar, pelatihan, kajian ilmiah, diskusi serta pertunjukan tentang berbagai bentuk budaya Panji; seni gerak, bunyi, kriya, lukis, motif, performance art, sastra, arsitektur bangunan dan pertanian. Juga demo misalnya membahas sulukan dan janturan Panji Majapahitan, ritual desa, nilai sakral topeng, ruwatan dan sebagainya. Peserta direncanakan semua wilayah yang berbudaya Panji; Siam (Thailand), Khmer – Kambodia, Champa (Vietnam), Panji Melayu serta wilayah-wilayah di Jawa, Bali dan Lombok.

Sayang sekali gagasan besar tersebut tidak sempat terlaksana sesuai jadwal, dan baru pada tahun 2007 sebuah seminar besar bertema Panji diselenggarakan di Universitas Merdeka Malang. Inilah titik awal Gerak Budaya Panji yang muncul ke permukaan dalam bentuk kajian ilmiah. Satu tahun berikutnya, November 2008, acara yang lebih lengkap diselenggarakan selama dua hari di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman Trawas dan Candi Patirtan Jalatunda. Selain seminar, juga digelar pameran topeng, pergelaran Wayang Topeng dan kesenian tradisi, juga performance art yang melibatkan seniman dari Solo, Jawa Tengah, Indramayu, dan Jepang serta Inggris. Pada saat inilah Dewan Kesenian Jawa Timur sebagai salah satu penyelenggara mencanangkan program Konservasi Budaya Panji dan mengusulkan agar Cerita Panji sebagai ikon budaya provinsi Jawa Timur.

Tahun 2009, Dewan Kesenian Jawa Timur secara mandiri menyelenggarakan Festival Panji di Blitar selama dua hari, yaitu seminar dan pameran di kompleks Perpustakaan Bung Karno dan berbagai pertunjukan dilaksanakan di Candi Penataran. Acara yang mirip diselenggarakan lagi di tempat yang sama tahun 2010 dengan nama Festival Seni Rupa Panji, yang didahului diskusi di Museum Penataran. Setelah itu, terus menggelinding berbagai acara bertema Panji di even Malang Tempo Doeloe, pameran seni rupa Panji di Jombang, Srawung Seni Candi di Candi Sukuh Karanganyar, Festival Pasar Panji di Solo, seminar internasional dan festival Panji di Museum Paduraksa Candi Borobudur, Festival Panji Nusantara di Blitar lagi, juga di Kediri, dan beberapa even kecil di berbagai daerah.

Klasifikasi Gerak Budaya Panji mewujud dalam beberapa bentuk acara:
1. Dalam bentuk PERGELARAN seni pertunjukan melalui festival atau semacamnya, selain yang sudah disebutkan di atas, dilangsungkan Festival Panji Internasional di Thailand (Maret 2013), dan Festival Topeng Internasional di Solo (2014). Yang berlangsung rutin dan sudah akan memasuki tahun keempat (2013, 2014, 2015 dan akan 2016) adalah Festival Panji di Blitar yang melibatkan peserta siswa SD, SMP, SMA dan kalangan sanggar seni. Disamping juga beberapa acara yang tidak terkait langsung dengan Panji seperti Karnaval Topeng dan semacamnya (Malang dan Kediri). Dan juga tahun 2016 Kabupaten Kediri mencanangkan tema “Panji Pulang Kampung” dalam memperingati Hari Jadi Kabupaten Kediri ke 1222. Yang menarik di event ini, ada Lomba Melukis Wayang Beber Bertema Panji oleh kalangan pelajar. Hal ini dapat dijadikan event tahunan sebagaimana di Blitar dalam hal seni pertunjukan.

Catatan lama menyebutkan, pernah dibuat Topeng Panji maskot Bantul Ekspo (2007) yang berhasil memecahkan rekor MURI sebagai topeng terbesar. Topeng yang berukuran tinggi 4,40 meter, lebar 3,5 meter dengan ketebalan 100cm berhasil mengungguli topeng penthul tembem dalam Gelar Budaya Purworejo 11 Mei 2006 dengan tinggi 1,8 meter dan lebar 1,6 meter.

2. SEMINAR atau kajian ilmiah dilakukan di Unmer Malang (2007), Seminar Internasional di Malang (2010), seminar di Blitar dalam kaitan Festival Panji Nusantara (2011), di Museum Paduraksa Borobudur, ISI Yogyakarta (2014), Perpusnas Jakarta (2014), Balai Soedjatmoko Solo (2014), dan banyak sekali diskusi-diskusi kecil di berbagai kota (Malang, Kediri, Sidoarjo, Tulungagung, Blitar, Jombang, Bandung dll). Surabaya malah belum pernah  Dalam seminar di Perpusnas itulah sempat dicetuskan untuk mendaftarkan Cerita Panji Anggraeni ke Unesco sebagai Memory of the World, namun dalam perkembangannya yang didaftarkan adalah semua koleksi Cerita Panji.

3. PENERBITAN BUKU pertama kali terkait Budaya Panji dilakukan Dewan Kesenian Jawa Timur (2009) dengan judul “Konservasi Budaya Panji” (editor Henri Nurcahyo) yang merangkum beberapa makalah dari acara sebelumnya dan prosiding diskusi terbatas di CCCL serta catatan perjalanan Lydia Kieven. Tahun 2014 adalah Tahun Penerbitan Buku Panji yang diterbitkan oleh Depdikbud sebagai prosiding seminar di ISI Yogyakarta (Panji dalam Berbagai Tradisi Nusantara); Buku prosiding seminar Panji di Perpusnas (Cerita Panji sebagai Warisan Dunia); Buku kumpulan artikel berjudul “Topeng Panji. Mengajak Kepada yang Tersembunyi” oleh Balai Soedjatmoko Solo; buku “Menelusuri Figur Bertopi……” yaitu gubahan disertasi Lydia Kieven dan akhirnya “Memahami Budaya Panji” diterbitkan oleh Pusat Konservasi Budaya Panji (ditulis Henri Nurcahyo). Buku yang disebut terakhir inilah satu-satunya buku utuh (bukan antologi makalah) yang memberikan pemahaman dasar bagi kalangan masyarakat umum agar dapat mengenal Budaya Panji. Sayang sekali buku kumpulan makalah seminar internasional di Malang (2010) berjudul Panji Pahlawan Nusantara masih belum berhasil diterbitkan.

Sementara dalam bentuk novel ditulis oleh R. Toto Sugiharto dengan judul “Panji Asmarabangun” (2015) yang merupakan gabungan beberapa Cerita Panji. Sebelumnya, Ayip Rosidi pernah menulis novel “Candra Kirana” (2008). Dan jauh sebelumnya lagi Balai Pustaka pernah menerbitkan Panji Sekar (1933), Panji Raras (1933), Panji Dhadhap (1932), semua dalam bahasa dan huruf Jawa, tembang, yang kemudian diterjemahkan dan terbit ulang oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Juga pernah ada Serat Panji (Mbedhah Panji Nagari) oleh Soenarko H. Poespito (1979). Dan masih ada sejumlah buku lain yang sayangnya tidak beredar umum dan sulit ditemukan lagi sekarang. Diantara buku-buku tersebut, yang paling populer dan dijadikan rujukan banyak pihak adalah Ceritera Pandji dalam Perbandingan oleh Poerbatjaraka yang berbahasa Belanda dan diterjemahkan bahasa Indonesia tahun 1968 oleh Penerbit Gunung Agung.
Dewan Kesenian Jawa Timur pernah menyelenggarakan Lomba Cerpen Berbasis Cerita Panji, dan sudah ada pemenangnya. Sayang sekali janji akan menerbitkan hasil-hasilnya belum terlaksana hingga sekarang ini. Salah satu cuplikan cerpennya dimasukkan dalam buku “Memahami Budaya Panji”.

4. MONUMEN Panji justru dilakukan oleh kota Solo semasa Jokowi menjadi Walikota dalam bentuk memajang dekorasi eksterior Topeng-topeng Panji di Pasar Windu, depan stadion Manahan, bahkan di tepi sungai ada Taman Sekartadji berupa deretan topeng-topeng Panji dan relief serta ruang publik. Bersyukurlah Pemerintah Kota Kediri kemudian menghadiahkan sebuah bangunan yang kemudian diberi nama OMAH PANJI (2016) di kawasan wisata Gua Selomangleng yang dikelola sebagai pusat pengembangan industri kreatif. Sebelumnya di kota Kediri juga ada yang namanya TAMAN SEKARTAJI yang sayangnya hanya sekadar nama belaka, sangat berbeda dengan yang ada di Solo. Padahal, Kota Kediri sudah mengklaim sebagai KOTA PANJI dan Kabupaten Kediri sebagai BUMI PANJI. Terakhir, segera diresmikan MUSEUM PANJI di Tumpang, Malang, yang diprakarsai oleh Dwi Cahyono, pemilik Restoran Inggil dan Museum Malang Tempo Doeloe (September 2016).

5. EKONOMI KREATIF: Narsen Afatara yang pernah membuat KOMIK PANJI dan juga film animasi Panji yang merupakan proyek Depdikbud dengan judul Djaka Kembang Kuning yang merupakan visualisasi Wayang Beber Pacitan. Sebelumnya, RA. Kosasih juga pernah menulis komik beberapa seri bertema Panji Semirang dan sudah dicetak ulang.
Kemudian Nurryna Nisa Irtidyanti, mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) mahasiswa ITS Surabaya membuat tugas akhir film animasi Panji Kuda Semirang. Juga membuat website http://budayapanji.com, membuat digital story dan puluhan item bertema Cerita Panji, mempublikasikan Cerita Panji dalam aplikasi android, serta berbagai merchandize Cerita Panji (cangkir, poster, tas, pembatas ruang, hiasan dinding, kaos, kap lampu, notes mini, gantungan kunci, wayang beber mini dan midi, kalender meja, boneka kayu, wayang karton dan sebagainya).
Sanggar Wayang Topeng Asmarabangun sudah membuat cendera mata Panji dalam bentuk topeng untuk hiasan dinding dan topeng super mini untuk gantungan kunci. Sebuah toko online tokoyogya.net juga menawarkan topeng Panji yang dihias dengan kain batik. Bahkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ma Chung Malang pernah melakukan studi excursi untuk membuat alternatif berbagai souvenir berbasis topeng Malang.

Terakhir, Depdikbud baru saja menyelesaikan film animasi Panji Semirang dengan pendekatan anak muda (2015). Tetapi Malaysia sudah pernah membuat film layar lebar berjudul PANJI SEMERANG tahun 1961.

6. KAJIAN AKADEMIS, hanya Universitas Ciputra Surabaya yang menjadikan Budaya Panji sebagai mata kuliah tersendiri selama satu semester. Mengapa STKW Surabaya sebagai satu-satunya perguruan tinggi kesenian di Jawa Timur dan berada di bawah pengelolaan Pemprov Jatim belum memiliki perhatian yang serius terhadap Budaya Panji? Yang selama ini terjadi (maaf) STKW hanya mementaskan pergelaran sporadis dengan tema Cerita Panji.

7. JELAJAH BUDAYA.
(a) Yayasan Pring Woeloeng menyelenggarakan jelajah budaya yang diberi nama “Napas Panji”, dipromotori Yanni Krishnayanni (2015) menjelajah relief candi di Penataran, Gambar Wetan, Mirigambar, Situs Gambyok dan Candi Surowono, dengan narasumber Lydia Kieven.
(b) Pada tahun 2016 Pemkab Kediri dalam kaitan HUT Kediri 1222 juga menyelenggarakan Jelajah Budaya di beberapa candi berelief Panji di Kediri dengan narasumber arkeolog M. Dwi Cahyono.
(c) Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya juga menjelajah candi-candi berelief Panji sejak Candi Kendalisodo di lereng Penanggungan hingga di Blitar, Tulungagung dan Kediri sebagai tugas akhir mata kuliah Budaya Panji (2015).
(d) Kalangan pemerhati sejarah Mojokerto menelusuri puluhan candi di lereng Penanggungan (2016).
Acara ini sebetulnya dapat dikemas menjadi Wisata Budaya yang edukatif sebagaimana sudah dilakukan oleh Universitas Surabaya (Ubaya) yang menjual wisata petualangan menjelajah candi-candi di lereng Penanggungan.

8. JARINGAN KERJA:
a. Tahun 2010 diselenggarakan pertemuan antar pelaku Budaya Panji di LSM Kaliandra, Kab. Pasuruan bersamaan dengan kunjungan tahunan Lydia Kieven. Ada upaya untuk membentuk semacam “sekretariat bersama” antar pelaku Budaya Panji dan Kaliandra sebagai pusatnya. Dan itu ternyata memang tidak mudah mewujudkannya, apalagi menjalankan programnya.
b. Setahun kemudian, tahun 2011 pernah dicanangkan Tahun Panji Nusantara. Ini hasil keputusan pertemuan di kantor Lembaga Pendididikan Seni Nusantara (LPSN) Jakarta yang diprakarsai oleh Endo Suanda. Program ini berupa merajut berbagai program berbasis Panji di berbagai daerah, bahkan sampai di negara-negara tetangga. Sayang gagasan besar ini tidak terlaksana sesuai rencana.
c. Tahun 2014, lagi-lagi Lydia Kieven memprakarsai pertemuan para pelaku Panji di Trawas, dilaksanakan selama dua hari, yang kemudian menghasilkan forum komunikasi para pelaku budaya Panji, kemudian lahir website ppanji.org, dan menggagas museum virtual Panji dan menjadikan Yayasan Inggil sebagai pusat sekretariat bersama. Sementara itu Henri Nurcahyo sudah memiliki website budayapanji.com, kemudian lahir grup FB “Sahabat Panji dan Sekartaji” dan juga grup “Pecinta Panji”. Masing-masing berjalan seiring dan saling melengkapi.
d. Lantaran masih belum efektif juga, tahun 2015 diadakan pertemuan lagi di Padepokan Mangundarmo, Tumpang, Malang, bersamaan dengan kedatangan Lydia Kieven. Sayang sekali pertemuan ini juga belum menemukan pola yang tepat sebagai program lanjutannya. Henri Nurcahyo kemudian meluncurkan grup Whatts App “Budaya Panji” sebagai salah satu sarana komunikasi.
e. Sampai kemudian, Prof. Wardiman Djojonegoro menghubungi beberapa pelaku Panji di Jawa Timur, yaitu Jamran (Kediri), Wima Brahmantya (Blitar) dan Henri Nurcahyo (Sidoarjo), yang menginginkan ada kesamaan langkah para pelaku Budaya Panji di Jawa Timur sebelum bertemu dengan Gubernur atau Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pertemuan digelar di Resto Inggil, Malang (26/5/2016), dihadiri pelaku Budaya Panji dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Blitar dan Kediri. Hasilnya, menyusun agenda bersama sepanjang tahun 2016, namun masing-masing acara tetap mandiri (terlampir). Dari pertemuan inilah lahir sebutan Gerak Panji.
f. Tanggal 15 Juni 2016, atas prakarsa Bapak Wardiman, dilakukan audensi dengan Dirjen Kebudayaan di Jakarta, diikuti Henri Nurcahyo, Dwi Cahyono Inggil, Wardiman, Lydia Kieven, Ibu Yusma (staf Dirjen), Abduh Azis (sekjen Koalisi Seni Indonesia, staf khusus Dirjen), Heri Akhmadi (BPPI). Dijanjikan, tahun 2018 akan diadakan Festival Internasional Panji.
g. Dan akhirnya, terjadilah pertemuan hari ini (29/6), yang diprakarsai oleh Perpustakaan Nasional bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.
Catatan kronologis dan pembagian jenis aktivitas ini dimaksudkan agar apa yang dilakukan berikutnya tidak lagi hanya sebatas wacana belaka, melainkan harus langsung kerja kongkrit dengan mengacu hasil-hasil rekomendasi yang sudah pernah dihasilkan dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya (terlampir).

Sidoarjo, 29 Juni 2016
Henri Nurcahyo
Pusat Konservasi Budaya Panji – http://budayapanji.com
Email : henrinurcahyo@gmail.com
Mobile : 0812 3100 832

LAMPIRAN 1
Pokok-pokok Pikiran “Pertemuan Seni Panji” di Pusat Kerjasama Budaya dan Bahasa Prancis (CCCL) Surabaya – tanggal 12 Agustus 2004
1. Pertama, bagi generasi muda yang mulai tidak/kurang mengenali lagi budaya lokal dari leluhurnya, sebagai prioritas penting harus dicobakan menerapkan beberapa cara, antara lain: memperkenalkan kembali seni budaya lokal yang masih hidup, misalnya kunjungan ke padepokan dan sanggar budaya, mendalami budaya dan ritual pertanian serta kehidupan lainnya, seperti tumpengan, ruwatan dan sebagainya. Juga memperkenalkan musik pentatonis, perpaduan pentatonis dan diatonis. Untuk kalangan sekolah, bagaimana memperkenalkan dan menggunakan nama-nama serta istilah-istilah dalam budaya Panji, misalnya nama Taman Anggraeni untuk kebun sekolah.
2. Kedua, dengan mewariskan dan menerapkan budaya leluhur ini diharapkan manusia serta daerahnya diharapkan lebih “santun” karena tidak terkontaminasi tata cara yang kasar, serta teguh mempertahankan nilai jati diri.
3. Ketiga, perlu dikembangkan lebih lanjut akar pada budaya pertanian. Bagaimana model pertanian di Tumpang yang sudah mengembangkan pertanian “Jawa” Perlu mengembalikan budaya pertanian ini, misalnya dengan Beras Panji, Lombok jenis Panji, juga Panji sebagai simbol panen palawija, yang sebetulnya telah dikenal luas pada budaya pertanian rakyat. Karena itu perlu dikembangkan lebih lanjut konsep sosial-budaya desa, dengan membawa konsep-konsep pertanian, tata desa, tata ruang dan sebagainya.
4. Keempat, perlu dikembangkan suatu sistem “Taman Budaya Desa/Rural” dengan gagasan konsep holistik: kesenian, adat istiadat, kebiasaan hidup, peralatan-perlengkapan hidup yang mencerminkan sejarah perkembangan peradaban masyarakat secara luas, sebagaimana masyarakat Indonesia 80 persen pedesaan. Contoh peradaban dan budaya rural yang bertahan misalnya seperti di Jogja di lereng Merapi dan Merbabu, lereng Gunung Lawu dan masyarakat Tengger. Jika dapat diperluas lebih lanjut tentu akan mendapat simpati dan dukungan luas.
5. Kelima, pengembangan dan khususnya penamaan-peristilahan budaya Panji jangan menggunakan nama Majapahit karena untuk beberapa kalangan di luar Jawa hal ini membawa citra penjajah dan militeristik yang mengganggu dan sangat merugikan. Lebih-lebih karena rencana lanjutan budaya Panji ini sekali-sekali tidak mengekspose politik dan kekuasaan, namun mengungkapkan masalah nilai manusia yang berguna. Budaya Panji sendiri jauh lebih tua daripada Majapahit walaupun berkembang lebih luas pada zaman itu
6. Keenam, perlu adanya tahapan dalam pengembangan Budaya Panji ini. Yang pertama kali dilakukan adalah eksplorasi lebih lanjut, menentukan bentuk kegiatan lebih lanjut, apakah festival, pasamuan atau kolaborasi dengan berbagai aspeknya, yaitu meliputi seni rupa, kriya, gerak dan bunyi, bentuk ukiran (disebut motif Panji Sosi) sampai kepada seni bangunan dan tata ruang wilayah
Rencana Program:
1. Menyelenggarakan suatu “Pasamuan Budaya Panji Mancanagari” dengan berbagai kegiatan: workshop, seminar, pelatihan, pertunjukan tentang berbagai bentuk budaya Panji; seni gerak, bunyi, kriya, lukis, motif, performance art, sastra, arsitektur bangunan dan pertanian.
2. Pasamuan direncanakan diselenggarakan September 2005 di lokasi Jawa Timur dengan peserta semua wilayah yang berbudaya Panji; Siam (Thailand), Khmer – Kambodia, Champa (Vietnam), Panji Melayu serta wilayah-wilayah di Jawa, Bali dan Lombok.
3. Mengembangkan sarana-sarana Balai Budaya Desa dengan Budaya Panji sebagai dasarnya, dikembangkan pada berbagai aspek seperti tersebut di atas, menjadi suatu Taman Budaya Desa.
4. Melanjutkan pengembangan nilai Budaya Panji melalui pendidikan.
5. Melanjutkan serta mengembangkan cara-cara pertanian sehat dan alami dari cara pertanian Budaya Panji.

LAMPIRAN 2
Rekomendasi “Pasamuan Budaya Panji” yang diselenggarakan di PPLH Seloliman Trawas dan Candi Jalatunda (18-20 November 2008) :
1. Diperlukan kajian mendalam mengenai Cerita Panji dan segala aspeknya (khususnya kesenian dan lingkungan hidup) untuk dapat dideskripsikan, dan didokumentasikan dalam program Konservasi Budaya Panji.
2. Diperlukan sosialisasi dan publikasi secara meluas bahwa Jawa Timur khususnya, memiliki cerita asli yang dapat menjadi alternatif cerita wayang yang selama ini didominasi cerita impor dari India, berupa Mahabarata dan Ramayana. Bahwa cerita Panji juga dapat dijadikan pemandu arah dalam pengembangan kesenian.
3. Diperlukan eksplorasi terhadap cerita Panji terkait dengan lingkungan hidup sebagai bentuk keteladanan menjalankan pertanian ramah lingkungan dan menghormati keselarasan dengan alam.
4. Dihimbau kepada kalangan pendidik untuk menjadikan Cerita Panji sebagai bahan baku ajar (media pendidikan) mengenai sejarah, sastra, seni pertunjukan, biologi dan lingkungan dalam upaya menghargai potensi budaya lokal yang dimiliki Jawa Timur.
5. Diserukan kepada pemerintah untuk lebih serius memelihara berbagai situs terkait budaya Panji, dan memberikan perhatian dan pembinaan yang memadai bagi jenis-jenis kesenian tradisi yang membawakan Cerita Panji, serta kepada para pelaku yang sudah, sedang dan akan menjadikan Cerita Panji sebagai potensi budaya ataupun local genius Jawa Timur.
6. Diserukan kepada kalangan pelaku industri kreatif untuk mengeksplorasi Cerita Panji dalam berbagai bentuk karya berupa seni rupa, grafis, komik, seni patung dan pahat, seni video, cenderamata, sebagai upaya conter culture terhadap budaya impor.

Trawas, 21 November 2008

LAMPIRAN 3
Rekomendasi Diskusi Terbatas di CCCL Surabaya, 2 April 2009
Rekomendasi penting yang dihasilkan adalah, bahwa Jawa Timur perlu mengibarkan bendera untuk mengangkat citra budaya Panji sebagai ikon propinsi ini. Senyampang Jatim masih bingung menentukan ikon budayanya. Bahkan, kalau perlu menjadi salah satu kebanggaan budaya Indonesia.
Ada tiga point besar yang perlu dilakukan dalam konservasi budaya Panji.
• Pertama, dalam tataran konsep diperlukan sebagai pegangan dengan menyusun buku induk mengenai Budaya Panji dari kajian filsafat dan humaniora dari sejumlah penulis multidisipliner.
• Kedua, menyelenggarakan Festival dan Seminar Internasional Budaya Panji, yang disarankan diselenggarakan di Kediri sebagai pusatnya, dengan sejumlah kota lain sebagai pendukung acara.
• Ketiga, membuat etalase Budaya Panji yang melestarikan karya-karya seni rupa, menerbitkan cerita-cerita Panji dan seni sastra, dokumentasi seni pertunjukan berbasis cerita Panji.
Dari diskusi di CCCL itu, Dewan Kesenian Jatim, lantas didesak membuat seruan (appeal) kepada semua kepala daerah di Jawa Timur, khususnya yang memiliki basis historis dengan budaya Panji, agar mengedepankan tema Budaya Panji dalam setiap peringatan Hari Jadi kota/kabupaten masing-masing. Bukan hanya Kediri yang pernah berjaya dalam kerajaan Kadiri, namun juga Sidoarjo (Jenggala), Malang, Jombang, dan sejumlah kota lainnya.

LAMPIRAN 4
Pencanangan Tahun Panji Nusantara – 2011
Mengapa Panji Nusantara? Karena penyebaran Cerita Panji telah terbukti mampu merajut rumpun nusantara melalui silaturrahim budaya, mulai dari Thailand, Myanmar, Laos, Malaysia, Singapura dan berbagai daerah di Indonesia. (Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi).
Pemberdayaan masyarakat, mendorong ke arah pemahaman khasanah, potensi dan kearifan lokal yang ramah lingkungan. Masyarakatlah yang seharusnya berada di garis depan agar memunculkan lokalitas masing-masing wilayah.
Program ini musti memberikan dampak langsung pada masyarakat, yaitu mendorong masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan dan tekanan struktural sehingga memunculkan masyarakat yang inovatif dan kreatif.
Bentuk Program :
1. Purnama Seruling Penataran, gelar acara kesenian bulanan di Candi Penataran Blitar, sejak Oktober 2010. Acara yang biasanya hanya berlangsung satu malam ini akan diperluas menjadi 5 (lima) 12-16 Oktober 2011 dengan Kemah Budaya, sekaligus Pencanangan Tahun Panji Nusantara.
2. Festival Panji Asia Tenggara, bulan Maret di Muangthai, disusul bulan Juni-Juli di Taman Budaya Jawa Timur.
3. Gelar Panji Kelana Nusantara event berkesinambungan (road show) di wilayah-wilayah yang memiliki dan terinspirasi dengan Cerita Panji yang tersebar di seluruh wilayah rumpun nusantara (bukan dalam makna sempit wilayah negara Indonesia) GPKN adalah sebuah cultural sharing.
4. Tahun Panji Nusantara juga diharapkan meninggalkan jejak berkesinambungan berupa gerakan pendidikan seni budaya nusantara yang berlangsung terus menerus. Program ini merupakan perluasan dan kesinambungan yang dilakukan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN).
5. Venues GPKN tidak dilakukan di amphi theatre atau panggung mewah dengan perlengkapan dan tata lampu yang berlebihan, melainkan yang dekat dengan komunitas setempat, misalnya dekat dengan sawah, mata air, peninggalan budaya dan semacamnya. Hal ini dimaksudkan antara lain untuk menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat setempat.

LAMPIRAN 5
Catatan dari Sarasehan Panji
di Perkebunan Kopi Kalianyar Blitar
(24 Oktober 2015)

1. Perlu ada semacam sarasehan Panji di sekolah-sekolah. Jadi bukan mendatangkan siswa ke suatu tempat, namun jemput bola. Kalau Cerita Panji menjadi muatan lokal (mulok) di sekolah.
2. Sarasehan Panji harus sering diadakan dengan tema-tema yang spesifik, misalnya dari aspek pertanian, ekologi, arkeologi, pariwisata, cerita rakyat dan sebagainya. Jangan hanya membuat gerakan yang sporadis, namun ada goal yang jelas. Perlu konsistensi. Ada grand umbrella yang menaunginya. Pertemuan di kota-kota lain sebaiknya diselenggarakan dengan tenggang waktu 1-2 bulan sekali.
3. Kalau hendak menjadikan Panji sebagai objek pariwisata perlu hati-hati melakukannya. Jangan sampai aspek pariwisata dieksploitasi sedemikian rupa sehingga malah menghilangkan aspek budaya atau religinya. Bandingkan dengan keberadaan Candi Borobudur yang sangat ramai dikunjungi wisatawan namun mereka sama sekali tidak menyadari bahwa Borobudur adalah tempat suci yang sakral.
4. Dengan adanya grand umbrella itulah yang menaungi pertemuan yang ada di daerah-daerah tersebut. Tetap membicarakan isu yang berbeda namun berada dalam satu pemahaman yang sama. Jaringan itu sangat penting. Bukan hanya dengan birokrasi dalam arti sempit seperti Dinas Pendidikan atau semacamnya, namun perlu dibuka jaringan dengan Bappeda sebagai institusi yang memiliki kewenangan untuk membuat perencanaan. Bukan hanya di tingkat lokal, melainkan di level provinsi atau bahkan nasional.
5. Mengapa tidak menjajaki hubungan dengan pihak tentara? Bukankah organisasi isteri tentara itu bernama Persit Candrakirana? Mengapa memilih nama Candrakirana, yang notabene isteri Raden Panji Asmarabangun? Menarik sekali untuk mengkaji relasi antara tentara dan Cerita Panji.
6. Perlu menyelenggarakan Kongres Panji Nusantara, dengan peserta yang merupakan keterwakilan dari masing-masing daerah.
7. Menggelar acara besar dengan tema Panji sebagai Figur Perdamaian. Acara ini dapat diselenggarakan menjelang even politik seperti Pemilu atau Pilpres. (*)

LAMPIRAN 6
“Gerak Panji”, Rangkaian Acara Sepanjang 2016

No
Tanggal Nama Acara Tempat Penyelenggara Kontak
1 29 Juni 2016 FOCUS GRUP DISCUSSION PANJI Bromo Room kantor Disbudpar, Jl. Wisata Menanggal Surabaya Perpustakaan Nasional bekerjasama dengan Disbudpar Provinsi Jatim Ibu Sri Sumekar, telp: 0817 4878 657

2 18 – 24 September 2016 FESTIVAL PANJI dan Launching Museum Panji Dusun Slamet, desa Pandan Ajeng, Kec. Tumpang, Kab Malang Museum Panji Dwi Cahyono SE, telp: 0812 3210 426 – 0877 5974 6733

3 21 September 2016 SEMINAR REVITALISASI PANJI Taman Krida Budaya (TKB) Jawa Timur, Jl. Soekarno Hatta Malang UPT Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPPK)
Effie Wijayati, S.Sos, MPd (Ka UPT LPPK), telp:
0812 3504 2577
4 Setiap Sabtu malam minggu kedua setiap bulan
(9 Juli, 13 Agt, 10 Sept, 8 Okt, 12 Nov, 10 Des)
WAYANG TOPENG MALANGAN Padepokan Mangundarmo, desa Tulusbesar, Kec. Tumpang, Malang
Padepokan Mangundarmo M. Soleh Adipramono, telp:
0819 4480 2701
5 Setiap hari Minggu Legi malam Senin Pahing – tiap bulan
(10 Juli, 14 Agt, 18 Sept, 23 Okt, 27 Nov,
WAYANG TOPENG MALANGAN Padepokan Asmarabangun, Pakisaji, Kabupaten Malang Padepokan Asmarabangun Handoyo:
Telp 0817 540 4437
6 12 Juli 2016 GEBYAK SYAWAL WAYANG KRUCIL MALANGAN Dusun Wiloso, desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kab. Malang Padhepokan Wayang Krucil Angling Darmo “Ereng-ereng Gunung Kathu”
Sugondo,
telp: 0888 383 7735
7 13-15 Oktober 2016 FESTIVAL PANJI ke 4 dan PURNAMA SERULING PENATARAN
(tingkat SD, SMP, SMA, Sanggar)
Candi Penataran, Nglegok, Kab. Blitar Dewan Kesenian Kabupaten Blitar Wima Brahmantya, telp: 0816 4291 091

8 27 – 29 Oktober 2016 FESTIVAL PANJI
(Sarasehan, Workshop Seni Kriya Berbasis Panji, Lomba Mendongeng dan Seni Pertunjukan)
OMAH PANJI – Gua Selomangleng Kota Kediri Komunitas OMAH PANJI Jamran,
telp: 0812 5984 562
9 4-6 Okt 2016
ARAK-ARAKAN TUMPENG ROBYONG
Candi Penampihan, Tulungagung Pemkab Tulungagung Pemkab Tulungagung
10 16 November 2016 FESTIVAL CINDELARAS Tulungagung Pemkab Tulungagung Pemkab Tulungagung

11 25 November 2016 SENDRATARI PANJI NON-TOPENG Kalidawir, Tulungagung Pemkab Tulungagung Huda Fauzan, telp: 0857 0408 8002 – 0852 3445 7855

12 28 November 2016 TARI TOPENG MASSAL dan JARAN KEPANG KALAP BARENG (memperingati HUT Kabupaten Malang)
Malang Pemerintah Kabupaten Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *