Revitalisasi Kesenian Berbasis Cerita Panji

Oleh Henri Nurcahyo
img_2511
APAKAH yang dimaksud Cerita Panji? Dalam pemahaman secara mainstream, Cerita Panji dapat dikisah-singkatkan sebagai cerita yang berkisar mengenai percintaan Raden Panji Asmarabangun (Inu Kertapati atau Panji Kudawanengpati), putera mahkota kerajaan Jenggala, dengan Dewi Sekartadji (Galuh Candrakirana), puteri kerajaan Panjalu atau Kadiri. Namun jalinan kasih sepasang sejoli ini tidak berjalan mulus, banyak romantika berupa petualangan dan penyamaran hingga Cerita Panji kemudian melahirkan banyak versi dan varian berupa dongeng dan kisah-kisah lainnya. Meski pada akhirnya mereka berhasil menjadi sepasang suami isteri yang memerintah Kerajaan Kadiri, namun berbagai persoalan seakan tak pernah henti menimpa mereka sehingga justru semakin banyak melahirkan cerita-cerita baru lagi.

Tetapi dalam pemahaman yang lebih luas, Cerita Panji tidak hanya berurusan dengan Raden Panji dan Candrakirana, atau hanya berkisar mengenai kerajaan Janggala dan Panjalu. Cerita Sri Tanjung misalnya, dapat disebut sebagai cerita yang memiliki spirit Cerita Panji. Yaitu, kisah kasih yang terhalang, tentang kesetiaan seorang perempuan kepada pasangannya, dan perjuangan sang lelaki yang tak kenal takut menghadapi bahaya demi menunaikan sebuah tugas negara. Itu sebabnya, ketika Patih Sidopeksa akhirnya mengetahui isterinya tidak bersalah, dia kemudian memangku jenasah isterinya dalam posisi sangat mirip dengan Raden Panji Asmarabangun berkisah kasih dengan Candrakirana. Gambaran adegan inilah yang mengecohkan sebagaimana terdapat di relief Candi Surawana seperti yang dijelaskan oleh Lydia Kieven. Soal yang satu ini memang masih debatable.

Arkeolog M. Dwi Cahyono berpendapat, bahwa yang dimaksud Cerita Panji adalah berbagai kisah dalam beragam ekspresi dengan tokoh sentral Panji. Disebut Cerita Panji karena memiliki pola-pola tertentu, yaitu (1) tokohnya kekesatriaan, (2) memiliki pola integrasi-distegrasi-reintegrasi atau ketemu-pisah-ketemu lagi dan mengalami siklus berulang. (3) Ada kesan bermusuhan tetapi bersatu, seperti Romeo Yuliet, ada upaya penyatuan. (4) Ada balada yang segenerasi tapi bisa lintas generasi.

Karena itu, banyak kisah-kisah lain yang bisa saja disebut varian Cerita Panji karena indikator-indikator Panji yang ada di dalamnya. Dwi Cahyono membenarkan, bahwa cerita-cerita yang kemudian sekarang disebut Cerita Panji itu bisa jadi dulunya bukan bernama Cerita Panji, melainkan tersebar dalam banyak cerita dengan berbagai judul. Kemudian terjadilah “klaim akademis” yang melahirkan sebutan Cerita Panji. Bukan tidak mungkin, kata Dwi, sebelum Rassers meneliti sudah ada cerita-cerita seperti itu namun belum disebut Cerita Panji.

Menurut penelitian Ida Bagus Putera Manuaba, Adi Setijowati dan Puji Karyanto, tentang resepsi pembaca terhadap teks Cerita Panji menyimpulkan bahwa setidaknya terdapat sepuluh nilai yang terkandung dalam Cerita Panji, yaitu (1) kesejarahan, (2) edukatif, (3) keteladanan, (4) kepahlawanan, (5) budaya, (6) estetika, (7) kearifan lokal, (8) ekologi, (9) politik, dan (10) moral.

Bambang Pujasworo kemudian menambahkan lagi, ada ajaran yang belum disinggung yaitu ajaran asketisme dan nilai-nilai messianisme serta millenarisme dalam Cerita Panji. Dalam hal ini asketisme dimaknai sebagaimana dideskripsikan oleh Sartono Kartodirdjo, yaitu usaha dari seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan latihan untuk “menghilangkan keinginan atau hawa nafsu jasmaniah” dengan tujuan untuk mencapai kesempurnaan spiritual. Contoh-contoh asketisme misalnya; nglakoni prihatin, tarak brata, cegah dhahar lawan nendra, puasa dan bertapa.

Sementara dalam wilayah sastra, maka Sastra Panji merupakan hasil karya sastra yang sangat indah dan sarat dengan nilai-nilai filosofis serta ajaran moral-spiritual. Hingga saat ini kisah Panji masih dipakai rujukan bagi penciptaan seni pertunjukan, baik yang tradisi maupun modern. Ajaran asketisme yang termuat dalam Cerita Panji dapat dipakai sebagai acuan untuk membentuk karakter bangsa, sehingga terbentuk manusia yang mengedepankan nilai-nilai altruisme, yakni pembentukan sifat, sikap, dan perilaku yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Salah satu segi yang menyebabkan Cerita Panji sangat populer adalah kemampuannya dalam mengusung nilai-nilai universal.

Cerita Panji dalam Seni Pertunjukan
Salah satu keistimewaan Cerita Panji adalah diabadikan dalam berbagai bentuk kesenian, termasuk seni pertunjukan. Selama ini banyak pertunjukan rakyat yang menjadikan Cerita Panji sebagai bahan sajiannya, bahkan ada yang menjadikan Cerita Panji sebagai satu-satunya kisah yang dipertunjukkan. Beberapa contoh seni pertunjukan itu misalnya Wayang Topeng (Malang), Wayang Beber (Pacitan), Wayang Timplong (Nganjuk), Wayang Gedog, Wayang Krucil (Malang), Wayang Thengul (Bojonegoro), Kethek Ogleng (Pacitan, Wonogiri), Jaranan (Trenggalek, Tulungagung), Reyog Ponorogo (asal dari Ponorogo, yang menyebar kemana-mana), dan Lutung Kasarung (Jabar). Bahkan di Bali Cerita Panji menyebar dalam wujud berbagai kesenian seperti tari Legong Kraton Lasem, Drama Gong, Gambuh atau juga Bondres. Sedangkan Wayang Topeng di Madura (disebut Topeng Dalang) ternyata juga punya lakon Panji yang jarang dipentaskan lagi, yaitu cerita Polo Salaka. Topeng Dalang akhirnya hanya identik dengan pementasan lakon-lakon yang berbasis Mahabarata dan Ramayana saja.

Pada masanya, Cerita Panji menjadi alternatif dari cerita besar Mahabarata dan Ramayana yang menguasai banyak seni pertunjukan. Berhadapan dengan cerita legendaris seperti itu, Cerita Panji ternyata tidak tersisihkan. Dalam seni pertunjukan kadangkala Cerita Panji disajikan secara utuh (misalnya dalam Ketoprak, Wayang Topeng, Wayang Beber, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Andhe-andhe Lumut), namun adakalanya hanya ditemukan beberapa penanda yang berkaitan dengan Cerita Panji, sementara struktur lakonnya sendiri tidak jelas. Misalnya dalam seni pertunjukan Jathilan atau Reyog dimana keterkaitannya dengan Panji hanya dikenali karena adanya tokoh Bancak dan Doyok. Masih banyak lagi seni pertunjukan yang menjadikan Cerita Panji sebagai basis maupun hanya elemennya saja.

Cerita Panji merupakan cerita asli Indonesia yang bersumber dari kerajaan Kadiri dan Jenggala ini ternyata menyebar ke seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara, menyeberang ke Sumatra, Kalimantan, bahkan hingga ke negara-negara Malaysia (semenanjung Melayu), Thailand, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Asal tahu saja, Cerita Panji malah lebih memasyarakat di Thailand, dikenalkan di bangku sekolah dan buku Cerita Panji itu sendiri ditulis oleh raja Thailand sendiri, yaitu Raja Rama. Di Thailand Cerita Panji dikenal sebagai Cerita Inao, berasal dari kata Inu Kertapati. “Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada hasil kesusasteraan yang bersemangat Jawa yang penyebarannya di seluruh Kepulauan Nusantara menyamai penyebaran Cerita Panji.” (Poerbatjaraka, 1968: 409-410) Bahkan sangat dimungkinkan sastra Panji merupakan satu-satunya karya sastra Indonesia yang hingga saat ini paling banyak dipelajari oleh berbagai bangsa di dunia.

Abdul Rahman Kaeh, dalam seminar internasional Budaya Panji di Malang (2010) memberi kesaksian, bahwa: Orang Jawa boleh berbangga dengan Cerita Panji. Cerita ini memang asli kepunyaan mereka. Cerita-cerita seperti Ramayana, Mahabarata, Adiparwa, Wirataparwa, Kakawin Arjuna Wiwaha, Kakawin Smaradahana, Hikayat Seri Rama, Hikayat Sang Boma, dan sebagainya, tidak dapat dikatakan asli kepunyaan mereka, kerana cerita-cerita tersebut walaupun telah digubah dan disesuaikan dengan lingkungan alam Jawa, tetapi kita masih dapat mengetahui negeri asalnya, iaitu India. Sebaliknya kalau kita mau mencari negeri asal Cerita Panji ini di tempat lain tentulah tidak mugkin, kerana cerita yang bersifat demikian hanya bisa kita temui di Jawa saja.

Berbeda dengan naskah-naskah kuno tersebut di atas, popularitas Cerita Panji diceritakan dalam berbagai bentuk seni, termasuk cerita rakyat yang menandakan cerita ini juga tersebar di kalangan rakyat dan bukan hanya menjadi karya intelektual yang hanya dikonsumsi kalangan elit dan terbatas. Cerita Panji tidak hanya berhenti pada naskah namun berkembang sebagai cerita anak-anak yang juga disukai orang kebanyakan.

Kisah Panji mewakili suatu mahakarya (masterpiece) kejeniusan kreatif manusia sebab digubah oleh para pujangga Jawa kuno dengan tema dan lokasi cerita di Tanah Jawa sendiri, tidak mendapat pengaruh asing, namun memengaruhi kebudayaan masyarakat Asia Tenggara secara luas.

Memang merupakan suatu hal yang menggembirakan bahwa hingga sekarang ini Cerita Panji masih dapat terpelihara dengan baik di Bali dalam berbagai bentuk kesenian. Ketika Majapahit runtuh, maka banyak pusaka budaya termasuk Cerita Panji yang pudar setelah mengalami masa kejayaannya pada zaman Majapahit. Nah ketika Majapahit masih berjaya itulah Cerita Panji menyebar kemana-mana, dan nampaknya Bali merupakan salah satu dari sedikit habitat yang mampu mempertahankan kelangsungan Cerita Panji.

Robson (1971) menegaskan bahwa setelah masa penaklukan Bali oleh Majapahit hingga terbentuknya kerajaan Gelgel (abad 14-16), Bali telah mengambil alih usaha untuk mengembangkan tradisi kebudayaan Majapahit. Salah satu dari genre sastra yang ikut dikembangkan di Bali pada masa itu adalah Cerita Panji. Seiring dengan semakin merosotnya kesusasteraan Hindu Jawa, sebagai akibat dari pengambil-alihan kekuasaan Majapahit oleh penguasa Islam pada abad 16 maka Bali telah menempatkan diri sebagai penyelamat dan penerus tradisi kesusasteraan Majapahit.

Dikatakan Wayan Dibia, Cerita Panji merupakan sumber lakon yang paling populer melebihi Mahabarata dan Ramayana. Hingga kini ada 9 (sembilan) jenis seni pertunjukan di Bali yang menjadikan Cerita Panji sebagai sumber lakon. Genre-genre seni pertunjukan yang dimaksud adalah; dramatari Gambuh, tari Legong Kraton, Wayang Kulit Gambuh, dramatari Arja, Barong Landung, Wayang Kulit Arja, tari Kekebyaran, sendratari dan Drama Gong.

Gambuh adalah dramatari klasik Bali yang kaya gerak sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari/dramatari klasik Bali. Sendratari adalah kesenian ciptaan baru yang sejak tahun 1996 juga menampilkan lakon dari Cerita Panji. Sedangkan Arja, sering disebut sebagai Opera Bali, adalah drama tari yang menggunakan dialog-dialog bertembang (tembang macepat). Barong Landung dan Arja membawakan Cerita Panji dalam bentuk drama nyanyi yang memadukan gerak-gerak tari dengan dialog bertembang. Drama Gong lebih mengutamakan akting dan dialog non-tembang.
Cerita Panji masih tetap disukai di Bali hingga sekarang karena cerita ini mengandung nilai-nilai sosial, spiritual dan kultural, yang sejalan dengan prinsip satyam (kebenaran, kejujuran), shiwam (kesucian) dan sundaram (keharmonisan, keindahan hidup) yang diyakini masih relevan dengan kehidupan masyarakat Bali dewasa ini.

Cerita Panji dalam Seni Rupa
Wayang Beber, Wayang Gedhog, Wayang Klithik dan Wayang Thengul sesungguhnya adalah karya seni rupa yang dipentaskan. Aspek seni rupa itu berupa lukisan (dwimatra) dan seni rupa tiga dimensi (trimatra) yang menjadi elemen utama dalam seni pertunjukan tersebut. Bahkan dalam pertunjukan Topeng Dhalang (Wayang Topeng) dapat dikaji dari aspek seni rupa dari topeng yang dikenakan para pemain dalam pertunjukan tersebut. Itu sebabnya topeng versi Malangan berbeda dengan topeng Cirebon, topeng gaya Jawa Tengah dan ada ratusan varian topeng yang menarik untuk dikaji tersendiri dalam perspektif seni rupa.

Sementara itu, cerita Panji dalam senirupa dua dimensi yang bukan bagian dari seni pertunjukan terdapat dalam seni lukis berbasis Cerita Panji. Di desa Kamasan Klungkung sejak lama pelukis setempat sudah menuangkan adegan-adegan Cerita Panji dalam karya seni lukis. Salah satu contoh seni rupa dua dimensi berbasis Panji ada di Bali dalam bentuk lukisan-lukisan yang kebanyakan berfokus pada tema cerita Panji Malat Rasmi, yang dipublikasikan oleh The Virtual Museum of Balines Painting.

Terkait dengan batik, konon motif batik Parang Rusak itu ada hubungannya dengan Cerita Panji. Motif batik ini katanya muncul pada masa Raden Panji seorang pahlawan kerajaan Kediri dan Jenggala di Jawa Timur di abad ke 11. Ada juga yang berpendapat kalau motif batik parang rusak adalah karya Sultan Agung dari Mataram (1613-1645) yang terinspirasi dari meditasinya di pantai selatan Jawa. Konon Sultan Agung mendapat ilham dari fenomena alam berupa gelombang besar yang memecah karang hingga rusak. Tapi kalau disebut “pada masa Panji” menjadi kabur pengertiannya, sebab fiksi dan sejarah dibaurkan.

Tetapi memang ada batik dengan motif kuno keraton yang disebut pola Panji (abad ke-14), Gringsing (abad 14), Kawung yang diciptakan Sultan Agung (1613-1645), dan Parang, serta motif anyaman seperti Tirta Teja. Bahkan dalam daftar motif batik kuno yang tercatat sebanyak 1832 motif, terdapat sebuah motif bernama Panji (saja) dan 20 Panji lainnya, yaitu Panji Aloes, Panji Gènting, Panji Kénángá, Panji Kènari, Panji Kérémèk, Panji Késémèk, Panji Kintir, Panji Koeroeng, Panji Koyak, Panji Lintrik, Panji Mari-Kangen, Panji Nitik, Panji Oebin, Panji Sékétip, Panji Sérang, Panji Sérit, Panji Sikat, Panji Sisik, Panji Sosi dan Panji Tangkok.

Sementara dalam ragam Batik Gedhog khas Tuban, dikenal ada motif Panjiori, Kenongo Uleren, Ganggeng, Panji Krentil, Panji Serong dan Panji Konang. Tiga motif batik terakhir dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif Panji Krentil berwarna nila diyakini dapat menyembuhkan penyakit.

Tentu saja ini menarik. Ketika data tersebut kemudian dikonfirmasikan dengan Ibu Uswatun Hasanah, pengusaha batik Gedhog Tuban, dia mengatakan bahwa ada lagi batik dengan nama motif Panji Puro alias Selimun yang dikeramatkan. Beberapa nama kain yang juga dikeramatkan orang dulu adalah Rengganis, Kenongo Uleren dan Kethek Kloreo. Ketika ditanya lebih lanjut, mengapa menggunakan nama Panji? Jawabnya adalah: Pembatik di Tuban menggunakan nama tokoh-tokoh kerajaan Majapahit. Panji adalah menggambarkan kesatria, Pangeran atau Raja.

Masih sedikit yang memperhatikan aspek seni rupa dari Cerita Panji. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Narsen Afatara, staf pengajar jurusan seni rupa di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Yang dahulunya wayang beber terdiri dari 24 sequen/adegan, dicoba untuk dikembangkan menjadi ceritera bergambar dengan narasi dialog lewat bahasa cergam (cerita bergambar) sebanyak 60 lembar. Bukan hanya itu, Narsen kemudian mengembangkannya menjadi film animasi wayang beber Pacitan. Perkembangan terakhir dalam bentuk cergam dan komik wayang beber sebagai hasil penelitian Hibah Bersaing dari DIKTI. Menurut Narsen, wayang beber dengan bentuknya sebagai lukisan, selain memiliki ciri-ciri khusus sebetulnya dapat difungsikan sebagai elemen estetik, tetapi karena adanya keyakinan tentang nilai sakralnya barangkali wayang ini hampir tidak pernah dijumpai sebagai elemen estetik sebagaimana wayang kulit purwo.

Kajian seni rupa terhadap Cerita Panji juga dilakukan oleh Rina Nurhayati, mahasiswi Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas IKIP PGRI Adibuana (Unipa) Surabaya yang menulis skripsi dengan judul: Filosofis Estetika Topeng Panji Malang Khas Karimoen dalam Episode Cerita “Lahirnya Panji Laras”, 2010.

Dalam penelitiannya Rina menulis, bahwa Topeng Panji Malang khas Karimoen memiliki ciri-ciri yaitu simbol, warna dan ornamen yang mempunyai makna yang berbeda dengan topeng dari daerah lain. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah makna estetika simbol, warna dan ornamen yang berupa karakter topeng dengan tampilan topeng yang bersifat filosofis. Makna filosofis dari karakter tokoh protagonis pada topeng Panji Malang khas Karimoen digambarkan sosok yang baik, mulai dari estetika simbol, warna, dan ornamen yang mendukung, semua mempunyai makna yang baik.

Makna filosofis dari karakter tokoh antagonis pada topeng Panji Malang khas Karimoen digambarkan tokoh yang tidak baik, mulai dari estetika simbol, warna dan ornamen yang menyertai semua yang bermakna buruk. Makna filosofis dari karakter tokoh penghibur pada topeng Panji Malang khas Karimoen digambarkan tokoh berwajah jelek, lucu, secara jasmaniah cacad, secara psikologis setia dan rela mengabdi kepada kaum bangsawan dan satria. Diwujudkan pada estetika simbol raut wajah, warna dan ornamen yang menyertai bermakna lucu, jelek atau cacat selayaknya rakyat jelata tetapi setia dan rela mengabdi kepada kaum bangsawan dan ksatria.

Menurut Rina, pada topeng Panji Malang khas Karimoen terdapat unsur ornamen diantara alis (urna), hiasan kepala (cula), dan hiasan telinga (sumping). Bahkan Rina juga mendeskripsikan bentuk dan makna hiasan atau bentuk visual mata, alis, hidung, bibir, kumis, jenggot, jambang, rambut depan, hiasan dahi, jamang, dan juga warna. Ornamen pada topeng Panji Malang khas Karimoen selain sebagai hiasan juga mempunyai makna-makna tertentu sehingga menambah keindahannya. Bentuk-bentuk hiasan tersebut meliputi motif geometris, motif manusia, motif binatang, motif tanaman dan motif alam.

Yang sebetulnya menarik diteliti, dari manakah referensi visualisasi tokoh-tokoh cerita Panji dalam pertunjukan Wayang Topeng tersebut? Apakah berdasarkan sumber tertentu ataukah sepenuhnya hasil kreativitas pembuat topeng sendiri?

Ternyata, yang menciptakan karakter topeng Panji ini adalah Sunan Kalijaga berdasarkan Cerita Panji yang dipentaskan dalam Wayang Gedhog dan Sunan Kudus sebagai dalang yang pertama. Dari situlah kemudian Sunan Kalijaga menciptakan 9 (sembilan) jenis karakter topeng Panji pada tahun 1521 M, yaitu: (1) Putren, (2) Sarag, (3) Panji, (4) Gunungsari, (5) Andaga, (6) Klana, (7) Penthul atau Bancir, (8) Buta, dan (9) Raton.

Data ini menarik, sebab memberi makna bahwa topeng Panji baru jelas karakternya ketika zaman Islam. Padahal diketahui seni pertunjukan Topeng Panji sudah ada jauh sebelumnya. Setidaknya zaman Majapahit. Apakah masa pra-Kalijaga itu topeng-topeng Panji masih belum memiliki pakem karakter? Perlu penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Eksplorasi seni rupa Cerita Panji dilakukan secara total oleh Nurryna Nisa Irtidyanti, mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ITS Surabaya yang menulis tugas akhirnya dengan judul: “Perancangan Digital Story Cerita Panji sebagai upaya Preservasi Budaya Panji.” Dalam pameran tugas akhir yang digelar di mall City of Tomorrow (Cito) Surabaya (17-18 Januari 2014), gadis kelahiran Jakarta 23 tahun yang lalu itu menampilkan puluhan item merchandize dengan tema Panji. Mulai dari kalender, buku catatan, kaos, tas, mug (cangkir), kap lampu, hiasan dinding, wayang beber mini, buku cerita, gantungan kunci, hiasan interior, boneka kayu, sticker, termasuk juga sajian audio visual Cerita Panji, website serta aplikasi android di Google Play Store. Dalam hal ini dia sudah bukan lagi sekadar mengeksplorasi seni rupa Panji melainkan sudah menciptakan sekian banyak bentuk-bentuk industri kreatif berbasis Cerita Panji.

Sementara itu, merupakan suatu fakta yang menarik, bahwa Cerita atau Kisah Panji banyak ditemukan di berbagai peninggalan arkeologis. Kisah Panji dipahatkan dalam bentuk relief di beberapa candi era Majapahit. Itulah sebabnya Agus Aris Munandar berkeyakinan bahwa Kisah Panji pertama kali dikenal dalam zaman Majapahit karena berdasarkan peninggalan arkeologis belum ditemukan yang lebih tua dari zaman tersebut. Dan yang diketahui sebagai relief tertua terdapat di Candi Mirigambar, Tulungagung.

Terkait dengan tema Panji di relief candi ini Lydia Kieven menulis tesis doktoral di Universitas Sidney yang berjudul lengkap: Meaning and function of the figures with a cap in reliefs at East Javanese temples of the Majapahit period – a contribution to a new understanding of the religious function of the temples (Agustus, 2009). Tesis ini kemudian disunting menjadi buku dalam bahasa Inggris dan kemudian bahasa Indonesia berjudul: “Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit. Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke-14 dan ke-15. Jakarta: EFEO 2014.”

Menurut Lydia, terdapat 20 (dua puluh) peninggalan bersejarah pada era Majapahit yang terdapat sosok pria bertopi tekes sebagai ciri-ciri Raden Panji, meski hanya sebagian diantaranya yang terkait dengan Cerita Panji. Dalam penelitian Lydia Kieven tentang cerita Panji dalam relief pada candi-candi di Jawa Timur, maka Teras Pendopo di Candi Penataran adalah contoh yang paling menonjol. Relief di Teras Pendopo itu menyajikan tema perpisahan, tema perjalanan sambil mencari kekasihnya, dan tema persatuan. Disamping itu ada dua tema lain lagi yang beberapa kali muncul dalam gambar relief: Seberangan air, dan pertemuan dengan seorang Rsi sebagai guru spiritual.

Yang istimewa adalah sebuah patung Panji setinggi 1,25 meter yang ditemukan di Candi Selokelir dan kini tersimpan di perpustakaan seni rupa di ITB Bandung. Menurut Lydia, bukan tidak mungkin patung itu berpasangan dengan Sekartaji yang ternyata tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Namun belakangan Lydia mulai meragukan bahwa patung di Museum Nasional yang dikira Sekartaji itu bukan Sekartaji. Di situs Grogol (Sidoarjo) juga pernah ditemukan 3 (tiga) patung setinggi 60 centimeter yaitu Panji, Kadeyan dan Punakawan. Semuanya mengenakan kain panjang. Diantara ketiganya, sosok Panji ditandai dengan ciri khasnya berupa topi tekes yang memang mirip dengan yang ditemukan di Candi Selokelir. Hanya patung Panakawan dan Kadeyan (Kertolo) yang tersimpan di Museum Nasional, sedangkan patung Panji entah dimana keberadaannya.

Mengenai patung Grogol ini, arkeolog Dwi Cahyono memiliki dugaan bahwa yang dimaksud Grogol itu bisa jadi bukan Sidoarjo melainkan Grogol Kediri, sebagaimana situs Gambyok yang juga berada di wilayah kecamatan Grogol. Kebetulan di Sidoarjo memang ada desa bernama Grogol, kecamatan Tulangan, namun Dwi menyangsikan relevansi desa Grogol Sidoarjo dengan keberadaan tiga patung Panji tersebut.

Catatan Penutup
Pada mulanya Cerita Panji adalah Sastra Lisan berupa kidung, kemudian berkembang menjadi sastra tulis, dipahatkan dalam relief-relief candi pada masa Majapahit, menjadi bahan baku dalam banyak seni pertunjukan, dan juga menjadi inspirasi dalam seni rupa. Fakta ini memberikan pelajaran menarik bahwa sebuah pusaka budaya (heritage) ternyata dapat dieksplorasi dalam berbagai bentuk kesenian. Dan itu sudah dilakukan oleh mereka yang hidup jauh sebelum kita, meski pemahaman kesenian bagi mereka tidak sama perspekifnya dengan kita.

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Cerita Panji bukan sebatas kisah percintaan Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Cerita Panji bukan hanya monopoli Kediri saja. Masih banyak versi Cerita Panji lainnya yang digolongkan sebagai Cerita Panji Minor.

Tinggal sekarang, apakah kita hanya mendiamkan saja berbagai pusaka budaya dalam berbagai bentuknya yang sudah ada selama ini? Apakah kita hanya menjadikan dongeng hanya berhenti sebatas dongeng saja, bahkan sebagai dongeng itu sendiri akhirnya hilang ditelan perkembangan zaman? Mari kita diskusi. (*)

Catatan:
• Makalah ini disampaikan dalam Lokakarya Revitalisasi Seni Berbasis Budaya Panji, diselenggarakan oleh UPT Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, di Regent Park Hotel, Malang, 25-26 Oktober 2016.
• Isi makalah ini merupakan saduran dan cuplikan dari buku “Memahami Budaya Panji” yang ditulis oleh Henri Nurcahyo, diterbitkan Pusat Konservasi Budaya Panji, 2015.
• Henri Nurcahyo, lahir di Lamongan, 22 Januari 1959, seorang penulis seni budaya, pendiri Pusat Konservasi Budaya Panji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *