Jalur Rempah, Kisah Panji dan Kita

koran_sindo_nasional_2016-09-02_daerah_melihat_kembali_kejayaan_nusantara_1
Oleh : PURNAWAN ANDRA

Pada Pekan Budaya Indonesia di Malang tanggal 1–6 September 2016 lalu Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud mengadakan pameran dengan tema “Jalur Rempah”. Tema ini dipilih berdasar kenyataan sejarah posisi strategis Indonesia diantara dua benua dan dua samudra membuatnya menjadi titik penting dalam jalur perdagangan internasional. Ia tidak hanya simpul persilangan jalur pelayaran dunia, tapi merupakan produsen komoditi ekonomi yang penting bagi dunia saat itu. Karena hasil rempah-rempahnya bangsa-bangsa Eropa dan lainnya menuju negara ini. Mereka mencari cengkih (eugenia aromatica), pala (myristica fragrans) dan biji pala, yang digunakan untuk pengobatan, kuliner dan lainnya.

Anthony Reid (1993) menyebut pada awalnya perdagangan rempah-rempah berupa pala dan cengkih dari Maluku mula-mula ditampung di beberapa pelabuhan Majapahit seperti Gresik, Tuban, Sedayu, dan Jaratan di Jawa Timur. Darisini rempah-rempah diteruskan pedagang Gujarat dan Arab melalui Laut Merah ke Timur Tengah dan akhirnya ke Eropa. Bandar lain yang berpengaruh dalam perniagaan rempah-rempah adalah Sriwijaya dan Malaka. Itulah sebabnya jalur ini disebut jalur pelayaran rempah-rempah (maritime spice route).

Lalu mengapa pameran jalur rempah diadakan di Malang dan bukan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur yang termasuk dalam jalur rempah seperti Tuban, Gresik dan Surabaya?

Dalam konteks kemaritiman, perlu dipertimbangkan bahwa wilayah maritim tidak melulu mengacu pada daerah pesisir, namun juga jaringan perairan di sungai-sungai besar pedalaman dan pelabuhan pesisir sebagai pelabuhan perdagangan. Malang Raya (sekarang wilayahnya meliputi Kabupaten dan Kota Malang, Kota Administratif Batu dan Kabupaten Pasuruan) di masa lalu merupakan wilayah Kerajaan Singasari dengan pelabuhan maritimnya di aliran Sungai Porong dan Brantas. Singasari merupakan embrio kerajaan yang mengawali kemunculan negara multi bangsa (emporium) dengan ekspedisi Pamalayu tahun 1275 dan 1278, ketika Kartanegara mengirim delegasi ke Negeri Melayu di lembah Sungai Batanghari. Singasari juga menjalin hubungan dengan Cina masa dinasti Yuan (1280-1367) dan Ming (1368-1643). Hubungan dua kerajaan ini terus berkembang dan berlanjut pada masa Majapahit melalui pelabuhan utama Tuban, Gresik dan Sedayu di pesisir utara Jawa.

Malang juga menjadi wilayah Majapahit, kerajaan yang berkali-kali mengirim utusan ke Cina sambil membawa hadiah berupa barang-barang berharga, termasuk sejumlah budak berkulit hitam. Tahun 1381 Majapahit juga membawa lada ke Cina sebanyak 75.000 kati (Supratikno, 2016). Bandar-bandar Majapahit menjadi pintu gerbang perdagangan rempah dengan dunia internasional.

Penyebaran
Pergaulan ekonomi ini tidak hanya berhasil mendistribusikan komoditi perdagangan, teknologi, hingga sistem-sistem kepercayaan dan bermasyarakat yang diterapkannya (hukum, ekonomi, politik dan diplomasi), tapi juga bahasa, seni, dan tradisi lainnya. Dahana (2010) menyebut kemampuan masyarakat maritim itu tidak hanya berhasil mendistribusikan bahasa, teknologi, seni, dan tradisi lainnya hingga ke separuh dunia, bahkan telah menciptakan globalisasi untuk pertama kalinya di bumi ini.

Terdapat mata rantai perdagangan, pertukaran intelektual, pergerakan manusia, motif dan bentuk kesusastaraan dan kesenian yang (disebut budayawan Australia Adrian Vickers) menyediakan wawasan tentang peradaban khas Asia Tenggara. Th. Pigeaud, filolog Belanda, juga mengidentifikasi sastra pesisir yang tumbuh dari bandar-bandar besar di Jawa (Surabaya-Gresik, Demak-Jepara dan Cirebon-Banten) dan menyebar ke Lombok, Palembang, Lampung, Banjarmasin, Aceh hingga ke Campa, Kamboja, Filipina. Dalam bermacam-macam konteks dan bahasa, satu jenis narasi yang terus-menerus muncul sebagai contoh sastra pesisir adalah cerita Panji.

Roman cerita Panji, kisah Pangeran Jawa asli Jawa Timur, bukan cerita adaptasi India seperti Ramayana dan Mahabharata. Cerita yang berkisah mengenai Kerajaan Kadiri ini berkembang pesat pada masa Majapahit. Di Jawa Timur bahkan terdapat lebih dari dua puluh situs purbakala yang berkaitan dengan cerita ini, termasuk patung Panji di sebuah candi di lereng Penanggungan.

Dalam penyebarannya di jalur rempah, dikenal cerita Panji Angreni, Hikayat Raja Kuripan, Hikayat Rangga Rari di Sumatera. Catatan lain menyebut di Thailand terdapat cerita Panji berjudul Dalang (Inau Yay) dan Inau (Inau Lek). Di Burma terdapat pula cerita Panji berjudul Ienaungzat yang ditulis oleh seorang menteri Negara Raja Bodawhpaya, serta masih banyak lagi kesamaan cerita Panji lainnya.

Panji adalah cerita tentang budaya Indonesia. Sebagai dokumen kultural, teks-teks ini menguraikan pola-pola aktivitas yang mengatur kehidupan rakyat. Cerita Panji juga dapat dibaca sebagai sumber pengetahuan tentang kebudayaan Nusantara dalam aktivitas artistik kesenian (sastra, seni pertunjukan, seni rupa, seni tari), sejarah, arkeologi, filsafat, politik, ekonomi, perilaku keseharian masyarakat hingga lingkungan hidup. Sebagai bagian dari proses produksi peradaban, ia menyediakan struktur logika berupa kearifan lokal yang kontekstual terhadap perubahan dan keragaman.

Panji menjadi salah satu hasil verifikasi folklor, produk kultural di sepanjang jalur pelayaran rempah. Penjelajahan atas ruang-ruang produksi kebudayaan di zona jalur rempah semacam ini penting untuk mendapatkan pengetahuan lokal masyarakat dengan mengidentifikasi produk-produk dan rute-rute persebaran kebudayaan dan nilai-nilai budayanya.

Sosok dan konsep pemikiran cerita Panji di sepanjang jalur rempah tak hanya romantisme imaji dan narasi, namun basis logika yang membuka ruang pemaknaan, tapi juga dapat digunakan sebagai ikon diplomasi budaya untuk menyebarluaskan nilai-nilai peradaban bangsa di dunia internasional. Oleh karenanya perlu kesadaran para pemangku kepentingan untuk merumuskan rancangan strategi kebudayaan yang visioner, kontekstual dan berdaya guna. Selain pameran, bisa dibangun jalur pelayaran, perdagangan dan ekonomi berdasar rute jalur rempah, promosi kuliner ataupun presentasi produk seni budaya yang berhubungan dan di sepanjang jalur rempah.

Tiongkok telah berhasil menciptakan pola diplomasi historis dan ekonomi melalui jalur sutranya. Maka bukan tidak mungkin jalur (budaya) rempah-rempah ini bisa dikembangkan menjadi komoditas kultural bangsa melalui forum-forum akademis di dalam negeri maupun forum-forum ekonomi dan budaya di tingkat dunia. Kesemuanya itu berujung pada masa depan bangsa yang lebih cemerlang dan bermartabat.

Foto: http://103.253.112.93/epaper/data/Koran%20Sindo%20Nasional/2016-09-02/Daerah/Melihat%20Kembali%20Kejayaan%20Nusantara/Koran_Sindo_Nasional_2016-09-02_Daerah_Melihat_Kembali_Kejayaan_Nusantara_1.jpg.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *