Perjuangan Panji Menuju Unesco

OLEH HENRI NURCAHYO
IMG20170326115359[1]
Berita itu sungguh menggembirakan, Prof. Wardiman Djojonegoro menyatakan bahwa ada 6 (enam) negara yaitu Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, Inggris dan Belanda siap berkolaborasi siap mengangkat Cerita (-cerita) Panji untuk mendapatkan pengakuan sebagai Memory of the World (MoW) dari Unesco (Kompas, 4/3/17). Padahal dua minggu sebelumnya, mantan Mendikbud era Soeharto itu menyatakan di Surabaya bahwa hanya Thailand yang “tidak menjawab ketika diajak bergabung”.

Cerita Panji adalah karya sastra lisan dari Jawa Timur yang sangat populer pada zaman Majapahit, kemudian tumbuh dan berkembang ke seluruh Nusantara, bahkan sampai ke kawasan Melayu, Thailand, Laos dan Kamboja. Ditemukannya relief Cerita Panji di sejumlah candi di Jatim era Majapahit setidaknya membuktikan bahwa pada masa itu Cerita Panji memang istimewa. Bahkan, juga ditemukan patung Raden Panji di Candi Selokelir di lereng gunung Penanggungan yang kini tersimpan di ITB, dan diduga patung ini memiliki pasangan yaitu Dewi Sekartaji, yang entah dimana posisinya saat ini. Pada era Hayam Wuruk konon Cerita Panji memiliki posisi yang “sejajar” dengan Ramayana dan Mahabarata.

Sedangkan MoW (Warisan Ingatan Dunia) merupakan salah satu program UNESCO yang bertujuan melestarikan kekayaan bangsa-bangsa di dunia dalam bentuk warisan budaya terdokumentasi (Documentary Heritage) berbentuk manuskrip, benda bersejarah, film, foto dan lain-lain. Selama ini warisan budaya Indonesia yang sudah mendapatkan pengakuan MoW adalah I La Galigo, Negara Kretagama dan Babad Diponegoro. Dan yang sedang diperjuangkan adalah naskah-naskah Konferensi Asia Afrika (KAA).

Pengajuan Cerita Panji menuju MoW kali ini terbilang istimewa, sebab biasanya manuskripnya harus tunggal dan masih dalam kondisi baik. Itulah sebabnya Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI dalam sebuah seminar di Jakarta Oktober 2014 memublikasikan bahwa Indonesia akan mengajukan naskah Panji Anggraeni dari Palembang untuk mendapatkan pengakuan MoW. Tetapi dalam seminar itu muncul sejumlah tanggapan, mengapa Panji Anggraeni? Mengapa bukan semua Cerita Panji?

Keinginan tersebut lantas ditindaklanjuti oleh Prof. Wardiman dalam posisinya sebagai konsultan Perpusnas. Lelaki kelahiran Pamekasan itu lantas bergerilya ke berbagai negara untuk ikut serta memperjuangkan Cerita Panji diakui oleh Unesco. Dan ternyata, Cerita Panji yang asli dari Jawa Timur itu hanya tersimpan sebanyak 76 naskah Panji di Perpusnas. Itupun separuhnya dalam kondisi rusak.

Sejak diusulkan ke UNESCO sebagai warisan ingatan dunia, April 2016, Wardiman menemukan data ratusan naskah Panji dari enam perpustakaan di negara-negara tersebut di atas. Di Malaysia terkumpul 7 naskah hikayat Panji, di Kamboja 1 naskah, di Thailand sekitar 500 naskah, di Inggris 20 naskah dan di Belanda 252 naskah. Perhatikan angka-angka tersebut, mengapa justru Thailand yang sangat banyak menyimpan naskah Panji? Faktanya, perhatian pemerintah Thailand terhadap Cerita Panji memang luar biasa. Cerita Inau –sebutan Cerita Panji di Thailand– diajarkan di sekolah-sekolah seni, dipopulerkan oleh Raja Thailand sendiri, bahkan Festival Panji Internasional sudah diadakan di Thailand tahun 2013.

Barangkali karena hal itulah Thailand semula agak berat hati ikut bergabung bersama Indonesia mengajukan Cerita Panji sebagai MoW. Bagaimanapun Thailand tidak mungkin memungkiri fakta historis Cerita Panji memang berasal dari Indonesia, khususnya Kediri Jawa Timur. Menurut Wardiman, UNESCO sangat senang Cerita Panji yang tidak jelas siapa penulisnya itu diusulkan oleh beberapa negara sekaligus, tidak hanya satu negara saja.

Sementara itu upaya menuju UNESCO ini bukan suatu hal yang serta merta. Belasan tahun terakhir ini kalangan pelaku budaya, khususnya di Jatim, sudah berusaha memopulerkan kembali Cerita Panji di tanah kelahirannya sendiri. Apa boleh buat, Cerita Panji yang sangat populer di Thailand itu nyaris tidak dikenal dengan baik oleh warga Jatim.
Dalam prakteknya selama ini, Cerita Panji hanya bertahan dalam kesenian Wayang Beber (Pacitan), Wayang Topeng (Malang), Wayang Thengul (Bojonegoro), Wayang Klithik (Kediri), Penthul Tembem (Madiun), Kethek Ogleng (Pacitan), Tari Legong Kraton (Bali), Tari Topeng Cirebon, dan beberapa kesenian rakyat lainnya. Padahal, keberadaan beberapa diantaranya sudah menjadi kesenian yang tersisihkan, langka, bahkan nyaris punah.

Kronologi perjuangan itu dimulai tahun 2003 dalam pertemuan terbatas di Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya, digagas membuat hajatan internasional tahun 2005 namun tidak terlaksana. Baru kemudian ada seminar internasional Cerita Panji di Malang tahun 2007, disusul Pasamuan Budaya Panji di Trawas (2008), dan setelah itu terus menggelinding berbagai acara terkait Panji antara lain di Candi Penataran, Museum Bung Karno Blitar, Jombang, Kediri, Malang, Tulungagung, Bandung, Solo, Yogyakarta, termasuk juga di Candi Sukuh Karang Anyar dan kawasan Candi Borobudur.

Lagi-lagi karena peran Wardiman Djojonegoro yang kemudian mempercepat gerak perjuangan ini menjadi semakin nyata. Dalam audensi dengan Dirjen Kebudayaan tahun 2015 bersama dengan penulis, dicetuskan bahwa akan diselenggarakan Festival Panji Nasional tahun 2017 dan skala internasional tahun 2018. Kebijakan bagus ini segera disambut oleh Disbudpar Prov Jatim, Pemerintah kota dan Kabupaten Kediri untuk secara bersama-sama melaksanakan Festival Panji Nasional yang sudah dijadwalkan berlangsung tanggal 16-22 Juli nanti. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah penulis sampaikan secara pribadi kepada Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, agar Pemerintah menunjukkan komitmennya mengangkat kembali kejayaan Cerita Panji sebagaimana era Majapahit.

Beruntunglah cerita yang telah menjadi arus utama kebudayaan (kesusastraan) di masa lalu itu tidak jadi lenyap tanpa jejak. Hal ini bukan tanpa sebab atau merupakan sebuah kelalaian dari suatu generasi yang “tidak peduli” terhadap kebudayaan. Sebaliknya, hal ini merupakan akibat dari suatu strategi politik kebudayaan yang dipilih. Bahwa Cerita Panji merupakan simbol dari kebesaran dan kekuatan kultural, politik, dan ekonomi dari suatu bangsa yang berdaulat di masa lalu yang bernama “nusantara”.

*) Penulis buku “Memahami Budaya Panji”

Artikel ini sudah dimuat di Harian Jawa Pos, 26 Maret 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *