Mengembangkan Potensi Sastra dan Budaya Panji di Panggung Dunia

Wardiman (1024x576)
Oleh Wardiman Djojonegoro

Sejarah pengajuan naskah Panji ke dalam Ingatan Dunia /Memory of the World (MoW).
Pada tahun 2015 Perpustakaan Nasional (Perpusnas) telah memutuskan untuk mendaftarkan/nominasi naskah kuno Ceritera Panji ke Unesco, Memory of the World (MoW). Dasar dari pengajuan ini adalah kriteria UNESCO:
“represents a masterpiece of human creative genius and cultural significance”
(Mewakili puncak genius kreativitas manusia dan mempunyai arti budaya yang tinggi;)
“exhibits an important interchange of human values, over a span of time, or within a cultural area of the world, on developments in architecture or technology, monumental arts, town-planning, or landscape design”
(Menunjukkan sebuah pertukaran nilai kemanusiaan, selama waktu tertentu atau dalam sebuah wilayah budaya didunia, dalam perkembangan arsitektur, teknologi, seni yang monumental, tata kota atau desain landskap;)
“to bear a unique or at least exceptional testimony to a cultural tradition or to a civilization which is living or which has disappeared”
(Menunjukkan sesuatu yang khas atau bukti yang luar biasa mengenai tradisi budaya atau peradaban baik yang masih ada atau sudah musnah;)
Pihak Perpusnas berniat mengajukan Naskah Panji karena: Seni Budaya Indonesia dalam bentuk sastra ini perlu ditarik ke permukaan Internasional (dalam hal ini MoW/ Ingatan Dunia), untuk membuktikan bahwa Indonesia mempunyai budaya yang tinggi yang patut didaftarkan. Bahwa budaya ini mempunyai dampak budaya besar selama kurun waktu tertentu (7 abad), dan juga mempunyai dampak sampai sebuah wilayah di dunia (Asia Tenggara). Disamping itu juga akan menjadi sebuah pengakuan dunia Internasional akan kreativitas budaya nenek moyang Indonesia.
Sementara dilihat dari dalam negeri, akan merupakan kebanggaan bagi Indonesia, mempunyai arti kemanusiaan seni budaya tingkat dunia yang tinggi. Juga merupakan dasar untuk sosialisasi dan penelitian dan pengembangan Budaya Panji selanjutnya di Indonesia dan dunia.

DAFTAR WARISAN DUNIA
Seperti diketahui UNESCO mempunyai 3 (tiga) Penghargaan untuk Warisan Budaya Dunia, yaitu:
1. Warisan Dunia Benda (Tangible Cultural Heritage)
2. Warisan Dunia Tak Benda (Intangible Heritage)
3. Warisan Dunia Naskah Kuno (Memory of the World)
Selama ini Indonesia telah mencatatkan Warisan Budaya Tangible Cultural Heritage of Humanity, seperti :
1. Borobudur Temple Compound (1991)
2. Komodo National Park (1991)
3. Prambanan Temple Compound (1991)
4. Ujung Kulon National Park (1991)
5. Sangiran Early Man Site (1996)
6. Lorentz National Park (1999)
7. Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (2004)
8. Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy (2012)

Sedangkan dalam katagori Intangible Cultural Heritage of Humanity milik Indonesia yang sudah diakui oleh UNESCO adalah:
1. The Wayang Puppet Theater, 2003-2008
2. The Indonesian Kris, 2005-2008
3. The Indonesian Batik, 2009-2009
4. The Indonesian Angklung, 2010-2010
5. Saman Dance, 2011 – 2012
6. 3 genre Tarian Bali, terdiri dari 3 tari sakral (wali): Rejang, Sanghyang Dedari dan Baris Upacara; 3 tari semi-sakral (bebali): Topeng Sidakarya, Gambuh dan Wayang Wong; dan 3 tari hiburan (balhi balihan): Legong Kraton, Joged Bumbung dan Barong Ket Kuntisraya.

Dalam bentuk Naskah/Arsip Indonesia yang diterima didalam MoW, yaitu:
1. Tahun 2003: Arsip VOC, usulan Belanda bersama 5 negara lain: India, Indonesia, Afrika Selatan dan Sri Lanka.
2. Tahun 2011: I La Galigo, usulan Indonesia dengan Belanda.
3. Tahun 2013: Babad Diponegoro, usulan Indonesia dengan Belanda.
4. Tahun 2013: Negarakrtagama, usulan Indonesia.
5. Tahun 2015: Arsip Konperensi Asia Afrika Bandung 1955, oleh Indonesia (Arsip Nasional RI) bersama India, Pakistan, Srilanka dan Myanmar.

Proses pengajuan Naskah Panji kedalam Ingatan Dunia /Memory of the World (MoW)
• Proses persiapan pengajuan MoW dimulai dengan penyelenggaraan Seminar Panji pada November 2014; mendiskusikan sampai dimana Naskah Panji dapat di nominasikan.
• Langkah selanjutnya penyusunan formulir Nominasi dan penyusunan lampirannya, yang terdiri dari Katalog dan Bibliografi (daftar pustaka)
• Keputusan harus diambil: apakah satu naskah Panji yang akan diajukan seperti lazimnya di MoW. Karena naskah Panji tidak mencatat nama Pengarang maupun tahun penerbitannya, sehingga tidak dapat ditentukan naskah yang representatip, yang memenuhi kriteria MoW.
• Akhirnya diputuskan untuk mengajukan semua naskah yang ada dalam koleksi Perpusnas, yaitu 76 naskah.
• Pada 1 April 2016 Nominasi dikirimkan ke sekretariat MoW.
• Selanjutnya diputuskan untuk mengajak Perpustakaan Nasional (Perpusnas) baik Asia maupun Eropa yang mempunyai Naskah Panji untuk ikut nominasi. Nominasi bersama ini memang diharapkan oleh Unesco dan memperkuat kesempatan untuk terpilih.
• Perpusnas tersebut adalah: Malaysia, Kamboja, Thailand, British Library, dan Universitas Leiden. Para perpustakaan tersebut menyambut dengan baik ajakan ini. British Library menurut aturan di British Library tidak bisa ikut nominasi, tetapi mendukung nominasi ini dengan mengirimkan Letter of Support.
• Pada Februari 2017-satu tahun kemudian- 3 Negara ikut menandatangani Nominasi. British Library mengirim dukungan dengan Letter of Support. Thailand tidak ikut menandatangani Nominasi.
• Indonesia melampirkan 76 Naskah Panji; Malaysia melampirkan 7 Naskah Panji; Kamboja 1 naskah Panji, Universitas Leiden melampirkan 252 naskah Panji dari berbagai daerah dengan 8 bahasa lokal.
• Keputusan dari MoW Unesco akan diumumkan pada Oktober 2017.
Yang Unik Tentang Sastra dan Budaya Panji
• Merupakan local genius Nenek Moyang kita. Pengarangnya banyak dan tidak mencantumkan nama penulis (berarti ada ratusan naskah Panji).
• Alur ceritera adalah percintaan antara Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji, yang tidak disetujui oleh orangtua, menyebabkan kedua sejoli berkelana dan bertualang, berperang, menyamar , tetapi pada akhirnya bertemu kembali
• Setiap Penulis mengikuti fantasinya sendiri dan mempergunakan bahasa dan adat istiadat lokal. Ceritera cinta dan petualangan ternyata sangat digemari masyarakat
• Panji telah menginspirasi ungkapan seni lain seperti: seni tari, seni wayang, seni pentas, seni topeng. Dan nenek moyang mengabadikan Panji dalam berbagai relief di candi-candi.
• Yang mengagumkan adalah penyebaran keluar Jawa Timur, sampai ke Bali, Lombok, Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Sumatera. Di daerah maka ceritera Panji berkembang pesat dan ditulis dalam bahasa lokal. Di Bali nama ceritera Panji menjadi Malat.
• Dan pada abad ke 19 dibawa para pedagang menyeberang ke Malaysia, dan Vietnam, Kamboja, Myanmar, Kamboja dan Thailand; dan berganti nama di Malaysia menjadi Hikayat, dan di Kamboja Eynao, dan di Thailand Inau.
• Masyarakat di Asia Tenggara sangat menggemari tari Panji atau Inao/Eynao dan Bossaba yang berkembang di wilayah itu.

Kebangkitan Sastra dan Budaya Panji
• Sudah semestinya kita kagum kepada kreativitas dan jenius nenek moyang kita, yang sayangnya setelah 7 abad mengalami penurunan apresiasi dari masyarakat.
• Dirjen Budaya dan Pemda Jawa Timur telah menetapkan agar Sasrra dan Budaya Panji direvitalisasi lagi dengan berbagai Festival dan kegiatan Seminar
• Tema Seminar ini : Kebangkitan Sastra dan Budaya Panji, karenanya perlu kita dukung:
• Tujuan Seminar Kebangkitan Panji adalah:
• Mewujudkan agar cerita Panji mengakar dan menjadi jati diri masyarakat
• Menggali nilai-nilai edukasi, filosofi, dan history dalam cerita Panji
• Menumbuhkan cipta, rasa, dan karsa masyarakat agar ikut menjaga, melestarikan, dan mempertahankan Cerita Panji
• Mendiskusikan usaha kebangkitan Budaya Panji
• Pada kesempatan berbahagia ini, kita mengucapkan terimakasih kepada:
• Perpusnas, yang dengan pengusulan Panji ke MoW memberi kesadaran kepada kita akan makna dan arti dari Panji, dan membangkitkan tekan kita untuk melestarikan dan membangkitkannya. .
• Kepada Dirjen Budaya dam PemDa Jawa Timur khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang memutuskan untuk membangkitkan kembali sastra dan budaya Panji warisan nenek moyang kita.
• Revitalisasi atau kebangkitan Budaya dan Seni, juga merupakan ungkapan kebanggaan dan apresiasi akan warisan nenek moyang kita, tetapi juga hendaknya dijadikan penggerak dan inspirasi atau motor kehidupan kita dibidang sastra, budaya, seni, ekonomi, pariwisata, industri kreatip, desain dsb.
• Dan seperti diuraikan di atas Budaya Panji sungguh mengesankan: 7 abad bertahan; digemari di banyak daerah di Nusantara; menyebar sampai Asia Tenggara; menginspirasi seni pagelaran yang lain (Seni Tari, Pentas, Wayang, Topeng dsb). Kesemuanya itu menjadi alasan dan kebanggaan yang kuat untuk membangkitkan kembali.
• Di Jawa budaya Panji sudah mulai pudar, penggemarnya sudah berkurang, karena terdesak oleh budaya dari luar dan oleh teknologi publikasi yang kuat..
• Untuk revitalisasi/membangkitkan kembali Sastra, Budaya, Seni Panji, maka strateginya adalah:
(1) peningkatan apresiasi masyarakat, dengan menyesuaikan ceriteranya dengan selera masyarakat dalam masa modern ini
(2) memanfaatkan sepenuhnya segala kemampuan teknologi informasi yang ada, seperti TV dan media sosial untuk Publikasi, Sosialisasi, dan Promosi.
(3) Mengkaitkan dengan perekonomian dengan
• membangkitkan daya kreatif masyarakat
• mengkaitkan dengan kegiatan pariwisata.

Sastra dan Budaya Panji
• Sastra dan Budaya Panji meliputi berbagai Sastra, Budaya, dan Seni Pertunjukan: Naskah Panji, Tari, Pentas, Wayang, Topeng dan Relief di Candi
• Kemudian dalam zaman modern ini perlu dikembangkan pagelaran dan aktivitas yang lain, seperti: Fashion Panji, Cartoon, Karikatur dan Komik Panji, Sinetron dan Serie TV Panji di TV; Penelitian budaya dan seni Panji di Sekolah dan Universitas serta Publikasi, Sosialisasi , Promosi melalui TV dan Media Cetak dan Sosial.

Pelaksanaan Kebangkitan Panji
Pelaksanaan dari revitalisasi Panji ini sebaiknya dilakukan oleh berbagai Pelaku, dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, sampai ke Sanggar-Sanggar, Paguyuban, Blog, dan NGO, baik di Jawa Timur maupun di luar Jatim. Demikian juga Sekolah dan Akademi/ Perguruan Tinggi perlu dilibatkan.
Para Pelaku, terdiri dari:
– Pengarang dan penerbit;
– Seni: Sanggar dan pedalangan;
– Sekolah Seni: Para Media: TV, Surat Kabar; NGO MedSos,
Sedangkan sebagai pelaksana: Pemerintah Daerah, NGO. Pelaksanaan dilakukan oleh Daerah dengan kalender pelaksanaan yang teratur. Juga kalender pelaksanaan bisa dikoordinasi oleh provinsi untuk daerahnya dan oleh Paguyuban untuk antarprovinsi. Sekaligus menggalakkan kreativitas masyarakat dan usaha meningkatakan kepariwisataan
Pelaksanaan Kebangkitan Budaya Panji
Pelaksanaan Program kebangkitan Panji, sesuai pengarahan Dirjen Budaya akan dilakukan bertahap:
– Pada 2017: Festival Panji Nasional, dilaksanakan di berbagai Propinsi dan Daerah (Kabupaten/Kota).
– Pada 2018: Festival Panji Internasional, Pergelaran Internasional dipusatkan di Indonesia, dan diikuti oleh berbagai Negara dimana Panji memang dikenal masyarakat.
– Kegiatan terdiri dari: Seminar, Pertunjukan: Tarian, Wayang, Pentas; Pameran Naskah Panji, Topeng Panji; Pariwisata Panji;
– Pada 2018 akan diundang Kelompok Kesenian Panji dari Asia Tenggara untuk menggelar di Jakarta dan kota kota lain, seperti Yogyakarta, Surabaya dan Bali.

Beberapa Kegiatan Festival
• Mendorong kegiatan-kegiatan sanggar-sanggar (untuk 10 kegiatan di atas), seperti: sanggar tari, sanggar wayang, sanggar Topeng, sanggar kartoon, sanggar sinetron TV.
• Pembentukan Pusat Panji (Omah Panji, Graha Panji, dsb.)
• Mendorong penelitian mengenai Panji di Universitas dan Perguruan Tinggi; dengan berbagai topik penelitian: sastra, trian, wayang, topeng dsb.
• Penyebaran melalui TV dan Media, dan melalui kurikulum sastra, budaya di sekolah.
• Meningkatkan kreativitas dan fashion masyarakat, melalui sekolah (SMK), Akademi maupun Universitas.
• Meningkatkan kegiatan kepariwisataan, paket kunjungan, paket seni, pembuatan suvenir (topeng, fashion).
Usaha Kebangkitan Budaya Panji

EVALUASI

• Panji mempunyai potensi besar untuk dibangkitkan kembali,; beberapa fakta:
– Sudah berlangsung sejak 7 abad yang lalu;
– Populer di banyak wilayah dan juga di luar negeri;
– Ceriteranya menarik bagi seluruh lapisan masyarakat: percintaan, berkelana, petualangan, happy ending;
– Expressi budayanya luas: selai sastra, juga pergelaran tari, pentas, topeng, wayang;
– Expresi budaya Panji sangat lentur atau luwes dan mudah adaptasi kepada kebiasaan dan budaya lokal
Mengapa budaya Panji menurun popularitas dan penggemarnya? Sebabnya antara lain:
– TV dan media elektronik serta media cetak dengan mudah menyiarkan budaya lain yang presentasinya lebih menarik,
– Promosi Panji khusunya kepada anak anak terhenti karena ceritera Panji kalah populer dengan ceritera-ceritera modern;
– Pergelaran masih dalam tradisi lama: waktunya panjang, bahasanya juga tradisionil,
– Masyarakat sudah sangat berubah daya pandang dan seleranya

KESIMPULAN:

• Untuk mempopulerkan kembali budaya Panji maka perlu strategi yang berhasil di negara lain, yaitu membangun budaya itu dengan terkait dengan kegiatan ekonomi;
• Membangun sebuah “industri budaya”, yaitu bakat kreatif yang melekat di budaya itu diaktifkan;
• Bakat kreatif yang dipunyai oleh para seniman dan budayawan harus dapat diapresiasi / diminati/ oleh para pemirsa;
• Kegiatan sekarang bakat kreatif mendapat perhatian dengan pergelaran-pergelaran, tetapi para pemirsa tidak dibina, sehingga pergelaran tidak berbekas.;
• Pembinaan pemirsa dilakukan dengan
– Dari segi kreatif: Membuat ceritera, pagelaran lebih menarik disesuaikan dengan selera masa kini;
– Dari segi pemirsa: mencapai mereka dengan teknologi modern dan publikasi modern pula.
• Mensosialisasikan Sejarah Panji kepada masyarakat, terutama melalui media TV, Media cetak, dan media komunikasi yang lain.
• Memopulerkan ceritera Panji, menjadi acuan berbagai kegiatan seperti mengarang, narasi untuk tarian, tema dan ceritera untuk sinetron, untuk kartoon dan karikatur, untuk wayang,untuk pentas, dan tema untuk topeng agar lebih menarik.
• Membangkitkan kemampuan kreatif masyarakat yaitu kemampuan mencipta dan desain, tidak saja dalam tarian, tetapi juga untuk fashion, topeng, serial di TV dan kartoon. Fungsi kreatif mempunyai manfaat ekonomi yang besar.
• Kebangkitan Panji ini hendaknya dikaitkan dengan Fungsi ekonomi dan pariwisata: daya tarik peningkatan wista, dan kerajinan.
• Misalnya menjadikan tarian Panji, Topeng, Wayang Beber Panji, relief di Candi sebagai atraksi pariwisata; Mengadakan Napak Tilas Panji.
• Alur ceritera Panji, yaitu percintaan, perkelanaan dan petualangan, adalah universal, digemari baik oleh yang tua maupun yang muda. Karenanya Narasi Panji di setiap Pagelaran Panji, baik Tari, Wayang, Pentas, Topeng, perlu disesuaikan dengan selera masa kini.
• Dalam Pariwisata maka narasi atau sejarah merupakan faktor penarik yang penting.
Kebangkitan Budaya Panji di Bali
• Bali dua tahap lebih maju dalam kebangkitan dan kemajuan Seni dan Budaya, dan dalam kaitannya dengan Pariwisata juga yang terdepan di Indonesia.
• Seni Tari berkembang dengan pesat dan terkenal sampai keluar negeri (dan sudah dalam daftar warisan dunia UNESCO).
• Nilai ekonomi seni budaya Bali baik dalam bidang kreatif dan pariwisata Bali berada jauh di atas daerah lain.
• Pertanyaan: apakah budaya Panji di Bali, yaitu MALAT dan Gambuh perlu dibangkitkan? Apakah kebesaran Budaya di Bali bisa ditambah dengan satu sektor lagi, yaitu Panji/Malat/Gambuh?
• Seminar hari ini merupakan kesempatan yang baik untuk bersama dengan para hadirin semua: Budayawan, Pakar dan Tokoh mendikusikannya.
• Beberapa alasan di atas mengenai pentingnya dibangkitkan lagi, dikemukakan dibawah:
• Panji/Malat warisan nenek-moyang yang bertahan 7 abad
• Menyebar ke Nusantara dan Asia Tenggara: sangat Internasional;
• Menjadi inspirasi ungakapan pagelaran seni budaya yang lain;
• Potensi industri kreatif dan pariwisata cukup besar;
• Bali sebagai pusat pariwisata akan mempercepat kebangkitan Panji/Malat ke dunia internasional dan juga kebangkitan Panji di daerah lain. (*)

Riwayat Hidup Singkat
• Nama Lengkap WARDIMAN DJOJONEGORO
• Title Professor Doctor Ingenieur (Prof. Dr.-Ing.)
• Tempat/Tanggal Lahir Pamekasan, 22 Juni 1934
• Kegiatan Sekarang:
– Ketua Yayasan Pengembangan SDM IPTEK The Habibie Center
– Ketua Yayasan Puteri Indonesia (YPI)
• Profesi Akademik
– Ahli Peneliti Utama (APU).
– Guru Besar (Pensiun) Fak MIPA Univ. Padjadjaran, Bandung
• Pendidikan
– S-2 Universitas Teknik di Aachen, Jerman (1963)
– S-3 Universitas Teknik di Delft, Belanda (1985)
• Pengalaman Kerja
– 1963-1966: Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo)
• 1966-1979: Kantor Pemerintah Prop. DKI Jakarta
• 1979-1988: Kantor Menteri Negara RISTEK, Asisten Perencanaan
• 1981-1992: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Deputi Administrasi
• 1993-1998: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
• Kegiatan Sosial: 1990-1995
– Sekretaris Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI)
– 2005-…. Anggota Dewan Kehormatan ICMI

Catatan

Naskah ini disampaikan dalam acara Seminar Budaya Panji tanggal 17 Juli 2017, dalam rangka Festival Panji Nasional di Kediri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *