Cerita Panji Sebagai Sumber Penciptaan Karya Seni

DSC00026 (1024x649)
Oleh: I Wayan Dibia

Latar Belakang
Cerita Panji, yang di kalangan masyarakat Bali lebih dikenal dengan dengan Malat, adalah salah satu sumber lakon terpenting dalam seni pertunjukan Bali. Cerita ini merupakan sumber lakon terbesar ketiga dalam seni pertunjukan Bali, setelah epos Mahabharata dan Calonarang. Lebih dari itu, para seniman di Bali telah sejak lama menggunakan cerita Panji sebagai sumber inspirasi untuk melahirkan karya-karya seni ciptaan baru.

Dengan tokoh sentralnya Raden Panji Inukertapati, yang memiliki sederetan nama samaran, cerita Panji berkisah tentang dinamika dan romantika perjalanan putra-putri raja dari empat kerajaan bersaudara di Jawa, yaitu Kahuripan, Daha, Gagelang, dan Singasari. Pertemuan dan perpisahan, penyamaran, penculikan, serta pertempuran di antara mereka menjadi daya tarik dari kisah ini. Jika disimak lebih dalam, sesungguhnya cerita Panji banyak berkisah tentang hal-hal yang cukup relevan dengan kehidupan masyarakat di zaman modern ini seperti nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, kesucian, keberanian, dan lain sebagainya. Intinya, di balik nuansa feodalnya, cerita Panji banyak menyajikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan kultural yang masih sangat relevan dalam kehidupan masyarakat zaman sekarang.

Makalah ini menyajikan keberadaan cerita Panji sebagai sumber penciptaan karya seni berdasarkan apa yang terjadi di kalangan para seniman Bali. Melalui penyajian ini penulis ingin menunjukkan dua hal yang berkaitan. Pertama, di Bali cerita Panji telah lama menjadi sumber penciptaan karya seni, baik secara langsung maupun tidak langsung. Berbagai jenis karya seni ciptaan baru telah dihasilkan oleh para seniman di Pulau Dewata dengan cerita Panji sebagai sumber inspirasi. Kedua, dalam melakonkan cerita Panji, setiap seni pertunjukan menggunakan format dan mode (mode) yang berbeda-beda sesuai prinsip estetik dari kesenian yang bersangkutan. Kedua hal ini membuktikan bahwa cerita Panji masih tetap disukai di Bali hingga sekarang karena cerita ini mengandung nilai-nilai sosial, spiritual, dan kultural, yang sejalan dengan prinsip satyam, shiwam, dan sundaram yang menjadi salah satu landasan kesenian Bali.

Cerita Panji Dalam Tradisi Budaya Bali
Hingga dewasa ini di Bali masih ada sedikitnya tiga aktivitas budaya yang melibatkan cerita Panji. Tiga aktivitas yang dimaksud adalah sajian seni pertunjukan (igel-igelan), mendongeng (mesatwa), dan membaca karya sastra Panji (magaguritan).

Untuk mengawali uraian ini, berikut disajikan satu bait pembuka, dalam pupuh ginada, dari Gaguritan Pakang Raras (1992), sebuah kisah romantis yang sangat populer di kalangan masyarakat Bali yang diyakini berakar pada cerita Panji (Malat).

Ada kidung satwa malat
Matembang rondan sarupit
Ana Ratu ring Jenggala
Nruwe putra lintang bagus
Sawiji mantring Koripan
Kari alit
Kantun Ida mapinggel mas

Terjemahan bebasnya:

Ada kisah dalam cerita malat
Memakai tembang rondan sarupit
Mengisahkan raja Jenggala
Memiliki putra yang sangat tampan
Diberi nama Mantri Koripan
Masih kecil
Beliau memakai gelang emas.

Gaguritan Pakang Raras mengisahkan seorang pemuda tampan yang menghamba di Kerajaan Daha. Tak ada yang tahu bahwa Pakang Raras adalah putra mahkota Jenggala yang sejak kecil hilang dari istananya lalu terdampar di sebuah desa dalam batas wilayah kerajaan Daha. Prabu Daha yang akhirnya mengetahui kisah cinta putrinya (Galuh Daha) dengan Pakang Raras, yang dikiranya orang sudra, kemudian mencari jalan untuk melenyapkan Pakang Raras, atas desakan para patihnya dan demi menjaga demi kewibawaan kerajaan Daha. Baru setelah menemukan bukti-bukti berupa busana kebesaran yang di tanam oleh Pakang Raras di bawah pohon nagasari, Prabu Daha sadar bahwa yang dilenyapkannya adalah bukan orang sembarangan melainkan seorang putra mahkota kerajaan Jenggala.

Sajian Seni Pertunjukan

Pertunjukan cerita Panji bisa dilakukan dengan beberapa jenis kesenian Bali, baik yang tradisional maupun yang kreasi baru atau modern.

Dua kesenian tradisional Bali yang dikenal sebagai dramatari Panji (Dibia, 1996: 5-8) adalah gambuh dan arja. Dramatari arja yang berdialog tembang macepat, yang sering dijuluki sebagai opera atau komedi musikal (deZoete dan Spies, 1977:196), membawakan lakon-lakon Panji dalam bentuk dramatari nyanyian; seni dramatari berdialog tembang. Berbeda dengan arja, dramatari gambuh, menyajikan cerita Panji melalui seni drama tari berdialog non-tembang. Di luar kedua kesenian ini, cerita Panji juga dipertunjukan dalam sejumlah kesenian lainnya yang akan dijelaskan pada bagian lain dari tulisan ini.

Seniman seni pertunjukan Bali telah menjadikan cerita Panji sebagai salah satu sumber inspirasi untuk menciptakan lakon-lakon baru. Ada yang menggunakan cerita Panji sebagai dasar untuk menghasilkan cerita-cerita carangan, dan tidak sedikit yang hanya meminjam nama-nama tokoh atau kerajaan dalam cerita Panji untuk melahirkan karya sastra baru yang berbentuk cerita sempalan. Beberapa contoh lakon baru seni pertunjukan Bali yang diciptakan dengan sumber inspirasi dari cerita Panji adalah I Godogan, Linggar Petak, dan Cilinaya.

Di bidang seni rupa, para seniman Bali telah lama menjadikan cerita Panji sebagai tema dalam berkarya. Di desa Kamasan Klungkung, sejak lama para pelukis setempat sudah menuangkan adegan-adegan dalam cerita Panji ke dalam karya seni lukis. Dalam buku Journeys of Desire (2005) Adrian Vickers menampilkan sejumlah karya seni lukis klasik Kamasan bertemakan cerita Malat yang diperkirakan berasal dari pertengahan atau akhir abad XIX. Hal yang sama juga terjadi pada seni patung dengan munculnya patung-patung batu padas menggambarkan tokoh-tokoh dalam cerita Panji.

Menuturkan Cerita Panji
Menuturkan cerita Panji dalam bentuk mendongeng (nyatwa) sudah lama menjadi kegiatan penting dalam kehidupan keluarga di Bali. Salah satu materi cerita yang banyak didongengkan adalah cerita Panji yang sering disebut dengan cerita Daha-Jenggala. Mendongeng atau nyatwa adalah kegiatan malam hari yang biasanya dilakukan oleh kaum ibu ketika akan menidurkan putra-putri mereka, atau oleh para orang tua, kakek-kakek dan nenek-nenek, tatkala menemani cucu-cucu mereka menjelang tidur.

Sejak munculnya “pendongeng” elektronik berupa televisi di Bali pada tahun 1978, kegiatan mendongeng mulai jarang dilakukan. Anak-anak di zaman modern ini lebih tertarik menonton televisi dari pada mendengar dongengan orang tua, atau nenek dan kakek mereka. Merasa bahwa mendongeng merupakan suatu kegiatan yang positif dan diyakini dapat membangun daya imaginatif anak-anak, banyak pemerhati seni dan budaya di Bali yang mengusulkan kepada stasiun-stasiun televisi di Pulau Dewata untuk memasukkan acara mendongeng ke dalam program acara mereka. Dengan masuknya program mendongeng kini anak-anak di Bali masih bisa menonton acara mendongeng sekalipun secara pasif.

Membaca Cerita Panji
Di kalangan masyarakat Bali terdapat sejumlah aktivitas budaya kegiatan yang melibatkan pembacaan cerita Panji. Kegiatan yang lazim disebut dengan magaguritan ini adalah sebuah kegiatan membaca dan menyanyikan karya-karya sastra yang ditulis dalam tembang macapat. Biasanya magaguritan diadakan dalam kaitan dengan pelaksanaan upacara-upacara ritual keagamaan dan adat yang biasanya melibatkan para penembang dan pengulas/penegas. Penembang, laki-laki atau perempuan, membaca karya sastra secara baris perbaris yang kemudian diulas atau dibahas oleh pengulas/penegas. Salah satu karya sastra yang banyak dibaca dalam kegiatan magaguritan adalah cerita Panji.

Sejak tahun 1980-an magaguritan mulai masuk ke dalam aktivitas budaya pembacaan karya sastra yang disebut dengan pesantian. Pada awalnya, pesantian didominasi oleh pembacaan karya-karya sastra berbentuk sekar agung atau kakawin (Ramayana atau Mahabharata). Dengan masuknya magaguritan, pesantian kemudian menjadi panggung pembacaan karya-karya sastra kakawin (makakawin) dan sastra macepat (magaguritan). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Bali telah lama memperlakukan cerita Panji yang asli Nusantara sejajar dengan epos-epos besar dari India. Satu hal lagi, kini pembacaan cerita Panji telah mendapat ruang baru (di luar panggung pertunjukan).

Seni Pertunjukan Panji
Di dalam tradisi budaya Bali terdapat sembilan genre kesenian pertunjukan yang bisa disebut sebagai seni pertunjukan Panji, karena menjadikan cerita Panji sebagai sumber lakon. Genre-genre seni pertunjukan yang dimaksud adalah: dramatari gambuh, tari legong keraton, wayang kulit gambuh, dramatari arja, barong landung, wayang kulit arja, tari kakebyaran, sendratari, dan drama gong.

Ada dua hal penting yang dapat dicatat dari pertunjukan cerita Panji di Bali. Pertama, cerita Panji disajikan dengan format yang berbeda-beda. Format penyajian cerita Panji ini bisa diklasifikasikan menjadi: sajian tari, sajian drama, dan sajian pakeliran. Dalam format pertama cerita Panji ditarikan dan dituturkan menggunakan bahasa gerak, dalam format kedua cerita Panji dibawakan dan disajikan menggunakan perpaduan antara gerak tari, akting dan dialog verbal, dan dalam format ketiga cerita Paji disajikan menggunakan wayang kulit dua dimensional melalui olah bayangan. Kedua, sejalan dengan pergeseran selera estetis masyarakat Bali, mode (mode) penyajian cerita Panji telah berubah dari yang semula berupa seni drama yang menyeimbangkan adegan serius dan lucu (tragicomedy) menjadi seni drama yang mengutamakan adegan-adegan lucu (comedy).

Gambuh, legong keraton, sendratari, dan kakebyaran adalah jenis-jenis seni pertunjukan Bali yang menyajikan cerita Panji dalam bentuk seni tari dan atau drama. Gambuh adalah dramatari klasik Bali yang kaya akan gerak-gerak tari sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari/dramatari klasik Bali. Dalam pertunjukannya, dramatari gambuh biasanya menampilkan lakon-lakon pokok seperti Terbunuhnya Kuda Dalang Anteban, Perang Undur-Undur, Terbunuhnya Misa Jayanti, Klana Carang Naga Puspa, dan lain sebagainya (baca cerita ini dalam Poerbatjaraka, 1963)

Dalam dramatari gambuh, penggambaran tokoh-tokoh dan juga alur dramatik cerita Panji disajikan dengan olah tari yang diperkuat dengan dialog verbal yang “melodis.” Menggunakan gamelan pengiring yang dimainkan dengan gamelan pegambuhan berlaras pelog tujuh nada (saih pitu), dramatari gambuh biasanya menampilkan peran-peran inti yang terdiri dari condong, kakan-kakan, putri, arya/kadean-kadean, panji (raja atau patih manis), demang tumenggung, panasar, dan prabu. Dalam membawakan peran-peran ini semua penari tampil dengan jalan menari dan berdialog langsung (tanpa tembang); pada umumnya dalam bahasa Kawi, kecuali peran panasar, dan condong yang berbahasa Bali (alus, madya, dan kasar).

Legong keraton adalah tari klasik Bali yang memiliki perbendaharaan gerak yang sangat komplek, yang terjalin erat dengan tabuh pengiring, yang konon banyak dipengaruhi oleh gambuh. Adakalanya tarian ini ditarikan oleh 2 (dua) orang gadis atau lebih dimana biasanya salah satu diantaranya ada yang berperan sebagai condong, yaitu peran yang pertama kali tampil di pentas guna memulai tari legong ini. Dalam legong keraton, seperti halnya gambuh, sajian cerita Panji didominasi olah gerak tari. Kalaupun ada narasi, penggunaannya lebih banyak bersifat mendukung sajian tari. Bagian cerita Panji yang biasa ditampilkan dalam legong keraton adalah pertemuan Prabu Lasem dengan Diah Rangkesari yang lazim disebut dengan Pangipuk Lasem.

Tari kakebyaran, yang meliputi berbagai jenis tarian tunggal, duet, trio, kelompok, adalah sekelompok tarian Bali yang tidak hanya diiringi dengan gamelan gong kebyar melainkan juga yang memiliki gerak-gerak dinamis bernafas kebyar. Di kelompok ini, tari panji semirang karya I Nyoman Kaler (1942), dan dua karya baru dari I Wayan Dibia yaitu tari baris papotetan (1982) dan tari jaran teji (1986) adalah beberapa contoh karya ciptaan baru dengan sumber inspirasi cerita Panji (Dibia, 2012).

Sejak tahun 1996 sendratari mulai membawakan lakon-lakon Panji. Dalam Pesta Kesenian Bali ke XVIII tahun 1996 cerita Panji sebagai tema sentral. Dengan tema “Panji Wreddhi Sura Wangsaja” (Panji Sebagai Wujud Semangat Bangsa) seluruh materi acara PKB ketika itu menjadikan cerita Panji sebagai landasan. Dengan tema seperti ini, seluruh kegiatan kesenian di PKB 1996 terkait dengan cerita Panji. Ketika itu, salah satu lakon yang ditampilkan dalam sendratari (persembahan STSI Denpasar) adalah Gugurnya Prabu Lasem.

Mengintegrasikan gerak-gerak tari, yang dibantu dengan dialog-dialog verbal dan narasi lainnya, mode penyajian cerita Panji dalam gambuh, legong keraton, tari kakebyaran, dan sendratari cenderung serius dan dalam suasana yang formal. Selain mengutamakan bagian-bagian cerita yang serius, keempat jenis pertunjukan ini menyajikan cerita Panji mengikuti struktur formal pertunjukan yang berlaku di masing-masing kesenian.

Mode penyajian cerita Panji yang sedikit lebih cair, atau menyeimbangkan adegan serius dengan yang lucu, dapat dilihat pada barong landung, arja, dan drama gong. Ketiga seni pertunjukan Bali ini menyajikan cerita Panji ke dalam seni drama yang memadukan dialog verbal, gerak tari dan akting, termasuk nyanyian berupa lagu-lagu rakyat, dan tembang macepat (untuk barong landung dan arja).

Barong landung adalah seni bebarongan yang menampilkan barong-barong berwujud manusia purba bertubuh besar dan tinggi (landung). Barong ini biasanya dibuat berpasangan; barong laki-laki (jero lanang) dan barong perempuan (jero istri), yang masing-masing ditarikan oleh seorang penari. Di Kota Denpasar dan sekitarnya, barong landung biasanya dilengkapi dengan peran-peran arja seperti: mantri, galuh, limbur, dan cupak. Hal ini menunjukkan bahwa barong landung menyajikan cerita Panji mengikuti format penyajian arja yaitu dramatari nyanyi.

Arja, yang sering disebut sebagai opera Bali, adalah dramatari yang menggunakan dialog-dialog bertembang (tembang macepat). Dramatari ini biasanya diiringi dengan gamelan gaguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan para penari. Kata arja diduga berasal dari kata reja (bahasa Sanskerta) yang berarti indah atau mengandung keindahan. Beberapa contoh lakon arja yang bersumber pada cerita Panji (Malat) adalah Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya, dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat.

Drama gong adalah suatu bentuk seni drama Bali yang tergolong relatif baru. Drama ini diciptakan dengan memadukan teknik drama modern (non-tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Kiranya tidaklah terlalu menyimpang untuk mengatakan drama gong sebagai percampuran dari unsur-unsur budaya Barat (teater modern) dengan budaya Timur (teater tradisional Bali). Para ahli seni drama Bali memberikan nama drama gong kepada seni drama baru ini dengan satu alasan yaitu bahwa dalam pementasan drama baru ini setiap tokoh yang muncul, setiap perubahan suasana dramatik, dan setiap pergerakan pemain di panggung, semuanya diselaraskan dengan, atau diikat oleh, irama gamelan pengiring berupa gong kebyar. Beberapa contoh lakon drama gong yang diambil dari cerita Panji adalah Luh Seleneg, Cilinaya, dan Panji Semirang.

Perlu dicatat bahwa jika barong landung dan arja membawakan cerita Panji dalam bentuk dramatari nyanyi yang memadukan gerak-gerak tari dengan dialog bertembang, drama gong lebih mengutamakan akting dan dialog non-tembang. Dalam hal struktur pertunjukan, drama gong banyak meniru dramatari arja.

Dua jenis seni pertunjukan Bali yang menampilkan cerita Panji menggunakan boneka dua dimensi, dalam bentuk karya pakeliran, adalah wayang kulit gambuh dan wayang kulit arja. Secara singkat dapat dikatakan wayang gambuh mengikuti prinsip estetis dramatari gambuh yaitu menari mengikuti irama tabuh iringan (ngigelang tabuh) sedangkan wayang arja mengikuti prinsip estetis dramatari arja yang dikenal dengan menari untuk menghidupkan tembang atau ngigelang tembang.

Wayang kulit gambuh, varian wayang kulit yang sudah tergolong langka di Bali, pada dasarnya adalah wayang kulit yang melakonkan cerita Panji atau Malat yang biasa dimainkan dalam dramatari gambuh. Karena lakon dan penggambaran tokoh-tokohnya, termasuk pola iringannya, mengacu kepada dramatari gambuh, dalam banyak hal wayang gambuh merupakan pertunjukan gambuh dengan di atas layar (kelir). Hampir semua tokoh-tokoh yang ditampilkan ditransfer dari tokoh-tokoh pagambuhan, demikian pula nuansa antawacananya.

Wayang kulit arja adalah wayang kulit Bali yang diciptakan pada tahun 1975 oleh Dalang I Made Sidja dari desa Bona-Blahbatuh. Konon gagasan untuk menciptakan untuk menciptakan wayang arja datang dari I Ketut Rinda yang dirangsang oleh kondisi kehidupan dramatari arja yang ketika itu sangat memprihatinkan, kehilangan pepularitas karena dikalahkan oleh drama gong.

Walaupun masih tetap mempertahankan pola pertunjukan wayang kulit tradisional Bali (Wayang Parwa dan Wayang Ramayana), wayang arja menampilkan lakon-lakon yang bersumber pada cerita Panji (Malat) yang biasa dipentaskan dalam dramatari arja. Di antara lakon-lakon yang biasa ditampilkan adalah Waringin Kencana, Klimun Ilang Srepet Teka, Pakang Raras, dan Banda Kencana (Banda Sura). Dalam wayang ini, alur dramatik dan struktur pertunjukan disusun hampir sama dengan yang terdapat dalam dramatari arja. Oleh sebab itu, dalam banyak hal, wayang arja menjadi pertunjukan arja yang menggunakan boneka-boneka kulit, atau dramatari arja yang di-wayang-kan.

Patut dicatat bahwa mode penyajian cerita Panji dalam kedua seni pewayangan ini cenderung serius. Mengikuti dramatari gambuh, wayang kulit cenderung menyajikan adegan-adegan serius dalam pertunjukannya.

Mengapa Cerita Panji ?
Ada beberapa jawaban yang kiranya bisa diajukan untuk menjawab pertanyaan ini. Salah satunya adalah muatan cerita Panji yang sejalan dengan konsep estetika Hindu Bali yang memadukan unsur-unsur satyam, shiwam, dan sundaram. Cerita Pakang Raras adalah sebuah lakon Panji yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal ini.

Dalam alur yang lebih lengkap, cerita Pakang Raras dapat diuraikan sebagai berikut. Ketika sedang berjalan-jalan di sebuah taman istana, Galuh Daha menemukan seorang anak laki-laki yang tengah tersesat. Anak itu kemudian dibawa ke istana dan dijadikan teman bermain dan diberi nama Pakang Raras. Dalam bahasa Bali, pakang berarti tandus atau miskin, raras berarti wajah yang simpatik. Setelah menginjak usia remaja, Pakang Raras tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan, berbudi luhur, dan sangat pintar. Hal ini membuat saja sang raja menjadi sayang kepada Pakang Raras, dan Galuh Daha menjadi semakin dekat bahkan jatuh hati kepadanya. Dengan alasan untuk belajar menyanyikan sekar alit (magaguritan) atau membaca sekar agung (makakawin), Galuh Daha setiap saat memanggil abdi yang dikasihinya untuk datang ke taman.

Sementara itu, diam-diam kedua emban sang putri, Ni Bayan dan Ni Sanggit, juga tergila-gila kepada Pakang Raras. Pada setiap kesempatan mereka berusaha untuk menarik perhatian Pakang Raras walaupun sang abdi tetap saja bersikap dingin. Merasa dirinya bertepuk sebelah tangan, I Bayan merasa sangat kesal dan kecewa. Ketika pada suatu malam ia melihat Pakang Raras tengah bermesraan dengan Galuh Daha, bahkan sampai mengambil bunga dari kepala sang putri, Ni Bayan segera melaporkan hal ini kepada Sri Baginda. Mendengar laporan Ni Bayan, sang raja menjadi kaget dan terhenyak. Agar perbuatan sang abdi tidak sampai menodai kehormatan puri, Sri Baginda menugaskan seorang patih istana untuk membawa Pakang Raras ke dalam hutan untuk di bunuh. Rencana ini diketahui oleh Pakang Raras. Pada malam menjelang keberangkatannya ke hutan, dengan berlinang air mata ia menulis sepucuk surat untuk Galuh Daha untuk menjelaskan bahwa dirinya yang tiada lain dari Mantri Koripan, putra raja Jenggala. Melalui surat ini ia juga menyampaikan ucapan selamat tinggal karena dirinya akan “pergi jauh” sebagai hukuman atas dirinya yang telah berdosa mencintai sang putri. Surat itu ia selipkan di bawah bantal tempat tidurnya.

Keesokannya, di pagi hari, sang patih datang menjemputnya dan merekapun berangkat. Begitu memasuki dearah hutan, Pakang Raras minta sang patih agar tidak terlalu jauh mencari tempat untuk membunuh dirinya. Sebelum mempersilahkan sang patih untuk mencabut nyawanya, Pakang Raras berpesan agar nanti sang patih memperhatikan bau darahnya, jika harum ini pertanda dirinya adalah seorang bangsawan. Setelah menyampaikan pesan ini, Pakang Raras mempersilahkan sang patih untuk membunuh dirinya. Sang patih betul-betul kaget tatkala darah segar berbau harum yang mengalir dari luka Pakang Raras. Ia baru sadar telah membunuh seorang putra bangsawan. Takut akan terjadi apa-apa terhadap dirinya, sang patih cepat-cepat berlari meninggalkan Pakang Raras yang sudah menjadi mayat.

Hilangnya Pakang Raras secara tiba-tiba membuat Galuh Daha curiga. Diam-diam sang putri datang ke tempat Pakang Raras di mana ia mendapat sepucuk surat. Sang Putri hampir menjerit demi mengetahui bahwa Pakang Raras yang dicintainya adalah putra Prabu Jenggala. Sang Putri lalu lari ke dalam hutan untuk mencari Pakang Raras yang kemudian diketemukannya tergelatak sudah menjadi mayat di bawah sebuah pohon, karena di bunuh. Galuh Daha yang tidak tahan kehilangan kekasihnya menagis sambil menciumi mayat Pakang Raras. Dalam keadaan putus asa, sang putri kemudian mengunus keris hendak melakukan satia (bunuh diri). Tiba-tiba Batara Shiwa turun dari khayangan menemui Galuh Daha sambil berjanji menghidupkan Pakang Raras. Setelah hidup kembali, Pakang Raras kemudian mengambil busana kebesaran yang ia sembunyikan di bawah sebuah pohon. Pakang Raras (Raden Panji) diringi Galuh Daha kemudian kembali ke Daha untuk menemui sang raja. Sri Baginda kemudian menjadi murka kepada Ni Bayan yang telah berbohong dan menyampaikan laporan palsu kepada raja. Atas perbuatannya ini, Ni Bayan segera dihukum dengan cara diusir dari istana.
Nilai satyam atau kebenaran/kejujuran dalam cerita Pakang Raras antara lain terlihat pada pengaduan Ni Bayan kepada raja Daha, pengakuan Pakang Raras kepada patih Daha yang akan membunuh dirinya, dan ketulusan Galuh Daha dalam mencintai Pakang Raras.

Walaupun apa yang dilaporkan Ni Bayan tentang perbuatan Pakang Raras terhadap Sang Putri memang benar adanya, namun aksi melapor ini lebih banyak dibakar oleh api cemburu. Karena merasa gagal mendapatkan Pakang Raras, yang dikiranya hanya seorang abdi dari orang kebanyakan, maka Ni Bayan nekat melapor kepada Sri Baginda tanpa menyadari bahwa Pakang Raras dan Galuh Daha sama-sama saling mencintai. Laporan Ni Bayan inilah yang kemudian membuat sang raja memutuskan bahwa Pakang Raras harus disingkirkan dengan jalan membunuhnya.

Pengakuan Pakang Raras bahwa dirinya adalah seorang putra bangsawan, putra raja Jenggala, benar-benar terbukti, dari darahnya yang berbau harum kemudian dari busana kerajaan yang diambilnya dari tempat dimana busana tersebut disembunyikan. Apa yang ditulisnya dalam surat yang ditujukan kepada Galuh Daha benar-benar terbukti.

Cinta Galuh Daha terhadap Pakang Raras juga betul-betul murni dan tulus. Karena tidak rela kehilangan sang kekasih, Galuh Daha hampir saja melakukan satia (bunuh diri) karena ingin mengikuti jejak Pakang Raras. Karena kekuatan cinta yang murni ini, Batara Shiwa turun ke bumi untuk menemui sang putri dan menghidupkan kembali I Pakang Raras.
Nilai shiwam dari cerita Pakang Raras antara lain terlihat dari adanya keterlibatan kekuatan Tuhan dari alam atas (niskala). Pertama, ketika Mantri Koripan (Pakang Raras kecil) berburu ke dalam hutan dimana ia tiba-tiba diterbangkan angin kencang dan jatuh di taman Daha. Di sini ia kemudian ditemukan oleh Galuh Daha yang akhirnya menjadi kekasihnya. Hal ini menunjukkan bahwa pertemuan Mantri Koripan dengan Galuh Daha sudah menjadi kehendak dan direncanakan oleh Tuhan. Kedua, ketika Batara Shiwa (biasanya dalam bentuk rangda) menjumpai Galuh Daha untuk menghalangi sang putri melakukan satia atas kematian Pakang Raras. Setelah menghidupkan kembali I Pakang Raras, Batara Shiwa menitahkan agar pasangan ini kembali ke Daha. Ketiga, dihukumnya Ni Bayan oleh Raja Daha merupakan buah (karma phala) dari perbuatan tak terpujinya terhadap Pakang Raras negeri asal Mantri Koripan. Karena cemburu, Ni Bayan telah berani melebih-lebihkan laporannya kepada Sri Baginda.

Nilai sundaram cerita Panji, seperti yang terlihat dalam salah satu adegan dari pertunjukan Arja Pakang Raras Bon Bali di tahun 1970-an, salah satunya terlihat dalam adegan roman antara Pakang Raras dengan Galuh Daha. Dalam tembang sinom, Pakang Raras mengungkapkan isi hatinya dengan jalinan kalimat tembang seperti di bawah ini.

Tityang mangkin manguningang
Wenten sekar cpaka kuning
Makita tityang nyumpangang
Nanging genahnya ngulangit
Maangas makaput duwi
Masungga belahan pucung
Yan paksa tityang mangalap
Tan urungan tityang mati
Mati ngapung
Bunga tong bakat sumpangang.

Artinya:
Sekarang hamba sampaikan
Tentang sekuntum bunga cempaka kuning
Ingin rasanya hamba menyuntingnya
Namun tempatnya jauh tinggi di langit
Pohonnya dibalut duri-duri tajam
Dikelilingi ranjau-ranjau pecahan botol
Kalau hamba memaksa memetiknya
Pasti ajal jua yang hamba temui
Mati sia-sia
Bungapun tak mungkin didapat.

Menjawab ungkapan hati I Pakang Raras, Galuh Daha menjawabnya dengan jalinan kalimat tembang sebagai berikut.
Yening saja sakeng sarat
Nguda takut tangkah sakit
Makita manganggo bungah
Nanging tong bani nglakonin
Dija ke cahi mengalih
Gelah anak uli aluh
Twara bani menyajayang
Duh kapan ja kapucingin
Joh di duhur
Bungane bisa ngendepang.

Artinya:
Jika benar engkau ingin memetik bunga itu
Mengapa takut memanjat pohonnya
Ingin mendapatkan sekuntum bunga indah
Tetapi tidak berani berbuat sesuatu
Mana mungkin engkau akan mendapatkan
Milik seseorang dengan cara mudah
Jika benar engkau mau berbuat
Ndak mungkin akan ditolak
Walau nun jauh di atas
Bunganya bisa turun sendiri.

Daya pikat cerita Panji, seperti yang terlihat dalam kisah Pakang Raras, juga terletak dari alur dramatiknya yang penuh dinamika dan romantika, serta adegannya yang serba berisi (pada misi), ada sedih, ada lucu, ada tegang, ada roman dan sebagainya, ada bagian-bagiannya yang penuh tutur dan ada pula yang menghibur. Semuanya kandungan cerita ini tentu saja bisa menyentuh perasaan berbagai tingkatan umur di penonton.

Penutup
Semua yang telah diuraikan di atas menunjukkan bahwa dalam tradisi budaya Bali cerita Panji (Malat) telah lama menjadi salah satu sumber penciptaan karya-karya baru. Para seniman di daerah ini secara kreatif mengolah isi cerita untuk kemudian dituangkan ke dalam berbagai jenis karya baru. Di tengah-tengah pergeseran nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Bali, sebagai akibat dari pengaruh nilai-nilai budaya modern dan global, cerita Panji masih tetap digemari di Bali karena cerita ini mengandung pesan-pesan moral serta nilai-nilai spiritual, sosial, dan kultural yang sesuai dan relevan dalam kehidupan masyarakat Bali dewasa ini.

Semoga ke depan akan lahir lebih banyak lagi karya-karya seni yang berinspirasikan cerita Panji yang merupakan sebuah karya sastra agung dari bhumi Nusantara. Jika hal ini bisa terjadi maka jagat seni Indonesia akan disemarakkan oleh karya baru bahkan kontemporer menggunakan teknologi canggih namun masih tetap ber identitas budaya yang kuat, yaitu budaya Nusantara.

Denpasar, 6 Juli 2017.

Daftar Pustaka
• Brandon, James R. Theatre in Southeast Asia. Cambridge-Massachusetts: Harvard University Press, 1967.
• deZoete, Beryl, Walter Spies. Dance and Drama in Bali. Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1971.
• Dibia, I Wayan. “Seni Drama dan Tari Panji; Dari Gambuh Hingga Drama Gong.” Dalam Wretta Cita Majalah Kampus STSI Denpasar (No.6, Tahun III, Juni 1996), hal: 5-8.
• ————. Ilen-ilen Seni Pertunjukan Bali. Denpasar: Bali Mangsi, 2012.
• Gautama, Wayan Budha. Gaguritan Pakang Raras. Denpasar: Cempaka 2, 1992.
• Poerbatjaraka, R.M.Ng. Tjeritera Pandji Dalam Perbandingan. Jakarta: Gunung Agung, 1968.
• Vickers, Adrian. Journeys of desire; A Study of The Balinese text Malat. Leiden, KITLV Press, 2005.
• Yousof, Ghulam-Sarwar. Dictionary of Tradisional South-East Asian Theatre. Singapore: Oxford University Press, 1994.
• Zoetmulder, P.J. Kalangwan; Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Penerbit Djambatan, 1983.

Biodata

I Wayan Dibia, lahir di Singapadu-Gianyar, adalah seniman dan akademisi seni pertunjukan. Sejak tahun 1970-an, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia tahun 1997-2001 ini telah melakukan berbagai eksperimen dengan elements kesenian tradisional Bali untuk melahirkan karya-karya baru dan kontemporer.

Pendidikan seni formal yang dilaluinya mencakup Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar), Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar. Ia diangkat sebagai dosen pengajar di ASTI Denpasar pada tahun 1974, dan pernah menerima beasiwa dari The Asian Cultural Council, New York pada 1982 untuk mengambil program Master (MA) di bidang seni tari, dan The Fulbright Hays pada tahun 1987 untuk menempuh program Ph.D. di bidang Seni Pertunjukan Asia Tenggara, Keduanya di University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat.

Guru Besar ISI Denpasar ini telah menulis ratusan artikel dan sejumlah buku, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Dua karya seni terbarunya adalah Legong Massal “Karna Gugur” (2011) dan Topeng garapan baru “Tuan Tepis” (2012). Artikelnya yang berjudul “Revitalizing Arja in Globalized Bali” diterbitkan dalam Asian Theatre Journal (Vol. 29, No.2, Fall 2012). Di antara buku-bukunya yang paling baru adalah: Balinese Dance, Drama, and Music; A Guide to the Performing Arts of Bali (2004) yang ditulis bersama Rucina Balinger, Taksu in and Beyond Arts (2012) dan Puspasari Seni Tari Bali (2013), Kecak Dari Ritual ke Teatrikal (2017)

Sementara masih aktif mengajar di ISI Denpasar, Prof Dibia juga sebagai dosen tamu pada program Pascasarjana di Universitas Udayana, Universitas Hindu Indonesia, Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta). Pada tahun 2004 Prof. Dibia membangun sebuah pusat olah kreativitas seni yang diberinama Geria Olah Kreativitas Seni, GEOKS, di desa kelahirannya (Singapadu). Pada tahun 2005 sampai 2007, selama dua tahun, ia menjadi pengajar tamu untuk seni pertunjukan Bali pada The College of Holy Cross, Massachusetts, dan pada tahun 2011 menjadi konsultan pameran seni dan budaya Bali bertajuk Bali Dancing for The Gods di Horniman Musium, London-Inggris. Pada tahun 2016 ia diundang sebagai dosen tamu di Dance Department, Taipei National University of the Arts (TNUA), Taiwan. (*)

Catatan :

Naskah ini disampaikan dalam acara Seminar Budaya Panji tanggal 17 Juli 2017, dalam rangka Festival Panji Nasional di Kediri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *