Budaya Panji itu Penyesatan Publik ?

Berikut ini adalah transkripsi diskusi di Lamongan dalam acara Sarasehan dan Lokakarya Komunitas Pelestari Sejarah (25/3). Saya hanya menyalin yang terkait dengan masalah Panji.

Andi Muhamad Said
Andi Muhamad Said

Andi Muhamad Said, arkeolog, Kepala Balai Pelestaran Cagar Budaya:
Saya tidak percaya arca di ITB itu Panji. Siapa yang pernah menyebut bahwa Panji seperti yang ada di cerita adalah seperti arca di ITB itu. Jangan-jangan model tekes itu adalah model rambut pada masa itu. Kalau melihat arca di ITB, kelihatan sekali profil wajahnya adalah perempuan dan Cina. Yang perlu kita tanya pada Lydia, apa dasarnya Cerita Panji yang beredar di masyarakat selama ini bahwa tokohnya seperti yang ada di relief itu. Tidak ada dasarnya secara akademis. Bahwa Cerita Panji itu bukan hanya di Jawa tapi juga di nusantara, Asia Tenggara ada semua. Tetapi bahwa tokohnya bertekes, itu yang belum bisa dibuktikan secara akademis. Tapi untuk sementara hampir semua orang mengklaim, semua yang bertekes itu adalah Panji. Kalau saya mau menyatakan bahwa itu salah, saya harus membuktikan itu melalui penelitian juga, bukan hanya sekadar ngomong begini. Jadi kita harus melawan hasil penelitian itu dengan penelitian juga. Bukan dilawan dengan (pernyataan di) diskusi atau upload di media sosial, itu tidak akademis. Tidak memenuhi kode etik.

Karena itu yang saya pertanyakan sekarang adalah, apa dasarnya orang bertekes itu adalah Panji. Padahal dalam cerita-cerita hal itu tidak pernah disebutkan. Karena saya orang Bugis tidak memahami Cerita Panji, tetapi beberapa pernah saya baca.

Menurut saya bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu adalah benar secara metodologis, tetapi kebenaran hakiki hanya Tuhan yang punya. Jadi tidak perlu ngotot siapa yang benar, tapi buktikan.

Hanan Pamungkas
Hanan Pamungkas

Hanan Pamungkas, arkeolog, dosen di Unesa:
Memang mengherankan ketika berlangsung acara “Harmoni Budaya” di Surabaya beberapa waktu yang lalu, tidak menyebutkan beberapa kekayaan Majapahit yang ada di Bandung. Sebenarnya itu momen yang tepat. Pemerintah Jawa Timur sebetulnya saat itu bisa meminta arca Panji di ITB itu, tapi sama sekali tidak disinggung.

Menurut saya rangkaian cerita orang bertekes di Candi Surawana itu adalah Patih Sidopeksa dalam cerita Sri Tanjung, bukan Panji. Karena ada naskahnya, bagaimana Sidopeksa memberlakukan Sri Tanjung sebagaimana digambarkan dalam relief itu. Bagaimana Sri Tanjung dipangku. Panji memang seperti itu ceritanya. Tetapi kalau Lydia Kieven bilang itu Panji…. Menurut saya tidak semua yang bertekes itu Panji. Karena banyak cerita rakyat seperti Sri Tanjung, Sang Setyawan, menghadirkan bangsawan-bangsawan yang bertekes.

Ismail Luthfi
Ismail Luthfi

Ismail Luthfi, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI):
Saya ingin kita semua paham terhadap satu terminologi Panji. Dalam seminar nasional di Jakarta (Perpusnas, 2014, hn) terjadi perdebatan tentang Panji dan tidak ketemu jalan keluar. (Menurut saya) kata Panji secara etimologi bahasa berasal dari Jawa Kuna dan bisa membawa pengertian tidak hanya satu, tapi beberapa pengertian. Yang pertama, Panji itu bisa berarti Cihna, pataka atau bandera, atau tanda, bahkan bisa juga tunggul. Panji pasukan perang ketika berhadapan dengan Naraya Sanggrama Wijaya.

Yang kedua, Panji adalah sebutan untuk kalangan penguasa yang memiliki teritori sendiri. Atau Panji dalam konteks sebagai bangsawan atau pemimpin. Sehingga banyak raja pada masa Hindu Budha di depan namanya ada Panji.

Ketiga, Panji yang dikaitkan spesifik dengan seseorang. Contohnya, anak laki-laki Ken Angrok dari isteri kedua (Ken Umang) semua namanya diberi kata Panji di depannya. Salah satunya adalah Panji Tohjoyo. Tetapi mengapa anak Ken Angrok dengan Kendedes tidak menggunakan kata Panji? Ini persoalan dari sisi bahasa sebenarnya.

Yang terakhir, penyebutan Panji lebih spesifik lagi untuk mengacu pada seorang tokoh bernama Panji Inu Kertapati. Ini yang mainstream. Dia punya kisah cinta dengan Candrakirana. Selebihnya tidak termasuk katagori (Cerita) Panji. Jadi mainstream-nya Panji itu cerita atau kisah cinta Inu Kertapati dengan Candrakirana, tidak ada hubungannya dengan lain-lain. Kita mengacu penulis-penulis terdahulu, ada Purbacaraka, JJ. Ras, jadi jangan sampai terkecoh. Bahkan sekarang muncul ada buku “Konservasi Budaya Panji”. Saya dari sisi akademis bilang, ini penyesatan publik. Mana ada budaya kok namanya Budaya Panji. Apa ukurannya? Kalau Budaya Jawa, Budaya Batak, Budaya Madura kita tahu. Tetapi Budaya Panji, dari mana asal usulnya. Saya tidak terima itu. Bodoh itu. Tidak ada itu Budaya Panji. Tapi kalau Panji mainstream sebagai cerita rakyat saya percaya memang ada. Bahkan dalam cerita Panji Margasmara tokohnya bukan Inu Kertapati, tapi orang lain, meski judulnya Panji Margasmara. Settingnya wilayah Malang, bukan Kediri.

Jadi mari kita membuka wawasan kita agar tidak sempit. Mengapa di Malang selatan ada tempat bernama Kepanjen, itu asalnya dari kata Kapanjian. Artinya tempat dengan tokoh bangsawan sekelas Panji tinggal di sana. Jangan lupa di candi Penataran itu juga ada relief wanara bertekes, kalau itu dikaitkan Panji sebagai manusia, saya complain. Jangan-jangan kembali ke Teori Darwin, manusia itu berasal dari monyet. Waduh, cilaka. Lydia Kieven saya hormati sebagai kawan saya tetapi secara akademik saya menolak.

Saya punya (foto) arca dari Penanggungan yang disimpan di Prambanan, seorang tokoh bertekes yang dikelilingi oleh prabawali, orang bilang surya Majapahit. Majapahit dari mana? Artinya bahwa tokoh ini bukan orang biasa. Fisiknya memang orang biasa tetapi orang zaman dulu menempatkannya sebagai orang yang dimuliakan sehingga diberi sinar kemuliaan di belakangnya. Ini bertekes. Jadi (yang disebut patung Panji) yang di ITB itu ulahnya Van Rommont, yang menurut saya bule edan. Dia dulu bekerja di Jawa Timur kemudian dipindah ke Prambanan, akhirnya pindah ke ITB. Bersamaan dengan kepindahannya itulah dia memboyong puluhan arca dari Penanggungan. Termasuk arca yang di Prambanan, ada 14 jumlahnya, dua diantaranya mengarah kepada Panji.

Jadi persoalan Panji harus diperjelas, jangan sampai kita kacau. Kasihan generasi muda, nanti kalau dikasi tahu Panji mengalir sampai ke Enthit misalnya, dibilang itu Budaya Panji, saya secara akademis dibilang begitu ya emoh (menolak). Dan saya sudah meneliti tekstualnya, tidak ketemu. Ada satu raja dari Kediri juga pakai Panji yaitu Mapanji Kameswara. Jadi Panji itu bukan satu orang, banyak orang yang juga menggunakan nama Panji.

Patung Panji di ITB
Patung Panji di ITB

Arca di Prambanan dan ITB itu adalah barang-barang yang dibawa Van Rommont ke sana untuk menguatkan orang yang menurut saya (dia) edan. Ngapain dia membawa barang-barang yang bukan punyanya dari Penanggungan ke sana? Arca di ITB itu karena Van Rommont mengajar di sana. Padahal itu bukan patung Panji. Tidak ada Panji dipatungkan itu. Karena Panji Inu Kertapati tidak pernah ada patungnya. Kita harus meneliti arca di ITB itu representasi dari siapa.

Penelitian saya selama ini, orang Jawa kuna menyebut apa namanya Hyang, artinya leluhur yang diperdewakan. Orang nusantara memperlakukan leluhur itu sangat luar biasa. Bahkan sebagai dewa. Bathara Palah di Penataran adalah salah satu contoh Hyang. Tetapi memasuki masa Majapahit sebutan Bathara turun derajat, untuk manusia biasa. Bathara ring Tumapel, itu manusia.

Saya berharap forum ini tdak berhenti di sini. Saya tahu bahwa hal-hal yang jauh dari kita banyak menimbulkan multi tafsir. Saya tidak mengatakan saya yang benar, tetapi ayo kita sama-sama belajar supaya tidak keliru ketika menyampaikan kepada yang muda-muda. Jadi saya sangat gregeten kalau bicara mengenai Panji, karena terlalu banyak yang sudah menjadi korban kesalahan penggunaan istilah itu. (hnr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *