Selebrasi Budaya Panji

OLEH HENRI NURCAHYO

CERITA Panji bukan sekadar sastra lisan melainkan sudah berkembang menjadi budaya tersendiri. Makna budaya tidak harus merujuk pada satu wilayah atau etnis saja tetapi hasil sebuah kegiatan yang menarik minat masyarakat dan semakin meluas. Selebrasi Budaya Panji kali ini sedang mencapai peningkatan dengan diselenggarakannya Festival Panji Internasional yang berlangsung selama dua minggu menjelajah 8 (delapan) kota dari Bali hingga Jakarta.

Dimulai di Denpasar (28-29/6), menyeberang ke lima kota di Jatim yaitu Pandaan (1/7), Malang, Blitar, Tulungagung dan Kediri (5/7). Kemudian dilanjut di Yogyakarta (7-9/7) dan berakhir di Jakarta hingga tanggal 13 Juli. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat pesat sejak diselenggarakannya “Pasamuan Budaya Panji” di Candi Jalatunda dan PPLH Seloliman Trawas tahun 2008, sepuluh tahun yang lalu, secara swadaya.

Memang harus diakui, sampai sekarang ini masih saja ada yang bertanya “Cerita Panji itu apa?” Padahal tanpa disadari mereka sebetulnya sudah mengetahuinya sejak masih anak-anak namun tidak menyadarinya. Mereka mengaku tidak kenal Cerita Panji padahal sudah akrab dengan dongeng Ande-ande Lumut, Keong Mas, Ketek Ogleng, Enthit dan banyak lagi. Kesemuanya itu adalah contoh-contoh Cerita Panji dalam bentuk dongeng.

Cerita Panji bukan hanya mewujud dalam bentuk dongeng melainkan juga sebagai sastra lisan, seni pertunjukan, seni rupa, seni batik, relief di candi, dan juga dalam bentuk naskah yang jumlahnya hingga ratusan dan tersimpan di perpustakaan beberapa negara. Cerita Panji adalah pusaka budaya yang lahir di Jawa Timur, menyebar ke berbagai daerah di nusantara, semenanjung tanah Melayu, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam dan sebagainya. Bahkan di Thailand Cerita Panji sangat populer dengan sebutan Cerita Inou. Sementara di Indonesia masih bertahan di Bali dengan sebutan Cerita Malat. Sedangkan di Malaysia berkembang sebagai cerita bangsawan dengan nama Hikayat Panji. Sejarawan  Andrian Vickers menulis, “Panji/Inao merupakan sebuah budaya bersama di Asia Tenggara.”

Penyebaran cerita-cerita Panji ke berbagai daerah dan mancanegara itu seiring dengan kejayaan kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Adalah satu fakta yang mengagumkan bahwa pada masa Hayam Wuruk dipahatkan cerita-cerita Panji di belasan candi di Jawa Timur sebagaimana penelitian arkelog Jerman Lydia Kieven yang kemudian mengantarkannya meraih gelar Doktor di Sidney University.

Itu sebabnya selebrasi Budaya Panji kali ini tidak dimaksudkan sebagai milik Indonesia semata, juga hanya Jatim saja, apalagi sebatas Kediri, melainkan juga melibatkan negara-negara tetangga. Meskipun, yang bisa teribat kali ini menampilkan seni pertunjukan baru sebatas Thailand dan Kamboja. Sedangkan  sebagai narasumber seminar berasal dari Jerman, Thailand, Malaysia dan Belanda disamping dari Indonesia sendiri.

Sastra dan Budaya Panji atau Inao merupakan local genius nenek moyang bangsa Indonesia. Sastra Panji lahir pada akhir abad ke-14 pada era Majapahit. Dalam Cerita Panji versi arus besar (mainstream) tokoh utama cerita Panji adalah Raden Inu Kertapati, putera mahkota Kerajaan Jenggala, dan kekasihnya Dewi Sekartaji, puteri kerajaan Daha.  Namun, mengutip Pigeaud, ada golongan Panji Minor, dimana tokohnya tidak selalu Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji. Cerita Sri Tanjung dan Anglingdarma adalah sebagian contoh Panji Minor tersebut. Dengan demikian maka sebetulnya banyak sekali Cerita Panji di berbagai daerah yang hidup dalam cerita-cerita rakyat setempat.

Pencanangan tema “Menggugah Warisan Bersama Sastra dan Budaya Panji” adalah bentuk kebersamaan bangsa-bangsa di nusantara yang sama-sama memiliki Budaya Panji. Meskipun, Festival Panji Asia Tenggara sudah pernah diselenggarakan di Thailand tahun 2013. Tidak apa-apa, meski terlambat dan keduluan namun berhasil diselenggarakan juga di Indonesia.

Kebersamaan kepemilikan itu juga terjadi ketika naskah-naskah Panji mendapat pengakuan Unesco sebagai Memory of the World (MoW) Oktober tahun lalu, juga diajukan secara bersama-sama oleh Indonesia, Malaysia, Kamboja, Belanda dan Inggris. Keikutsertaan dua negara yang disebut terakhir ini memang unik lantaran ternyata ratusan naskah Panji tersimpan di perpustakaan dua negara tersebut.

Acara selebrasi kali ini bukan lagi prakarsa swadaya kalangan seniman dan masyarakat pelaku Budaya Panji sendiri seperti selama ini. Pemerintah sudah mau turun tangan sejak tahun lalu dengan penyelenggaraan Festival Panji Nasional 2017 di Kediri, yang diikuti oleh berbagai provinsi, kolaborasi antara Pemerintah Pusat (melalui Dirjen Kebudayaan Kemendikbud), Pemerintah Provinsi Jatim (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) serta Pemerintah Kabupaten Kediri. Sedangkan festival yang sekarang ini lebih meluas lagi, yaitu keterlibatan Pemerintah Provinsi Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta serta pemkab/kota-kota Pasuruan, Malang, Blitar, Tulungagung dan Kediri.

Direncanakan bahwa Festival Panji Internasional seperti yang sekarang ini akan diselenggarakan rutin setiap 3 (tiga) tahun sekali, sedangkan Festival Panji Nusantara  setiap tahun di kota-kota di Jatim secara bergantian. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya maka turun tangannya pemerintah ini sekaligus juga meringankan dan membuktikan bahwa upaya swadaya yang dilakukan para pelaku Budaya Panji tidak sia-sia. Tidaklah tepat manakala keterlibatan pemerintah ini lantas disikapi secara apriori.

Memang ada kecenderungan sastra-budaya Panji sebagai sumber inspirasi karya seni dan nilai kehidupan cenderung diabaikan. Sehingga diperlukan upaya revitalisasi, reaktualisasi dan  rekreasi  sastra-budaya Panji diperlukan untuk menumbuhkan  kembali memori bersama melalui berbagai ekspresi sastra-budaya Panji yang beragam, kekinian dan menarik, sehingga  generasi mileneal/ zaman now mengenal jejak warisan sastra dan budaya Panji. Pada titik inilah selebrasi Budaya Panji itu terasa relevansinya. (*)

Henri Nurcahyo, penulis buku “Memahami Budaya Panji”

(artikel ini sudah dimuat di Harian Jawa Pos, Minggu, 1 Juli 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *