Gus Dur adalah Panji Nusantara

Oleh Henri Nurcahyo

 

Sungguh menarik Pameran Besar Seni Rupa (PBSR) ke-6 yang dilangsungkan di Kota Batu, selama sebulan penuh (15 Sept – 12 Oktober 2018). Berbeda dengan PBSR sebelumnya, kali ini hanya diikuti peserta Jawa dan Madura sebanyak 101 perupa dengan tema “Spirit Panji”. Dan ternyata,  beragam penafsiran yang dilakukan peserta memahami (cerita dan sosok) Panji. Diantaranya, mengidentikkan sosok Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai Raden Panji Asmarabangun. Gus Dur adalah Panji Nusantara.

Dalam pemahaman secara umum, Cerita Panji adalah kisah percintaan antara Raden Panji Asmarabangun (Inu Kertapati) dari Kerajaan Jenggala dengan Dewi Sekartaji (Candrakirana) dari kerajaan Kadiri (Panjalu). Kisah cinta mereka tidak berlangsung mulus, penuh tantangan, banyak halangan, diwarnai dengan petualangan dan penyamaran hingga akhirnya keduanya bersatu. Bisa dikatakan bahwa Cerita Panji ibarat Ramayana versi Jawa Timur.

Raden Panji Asmarabangun adalah tokoh protagonis Cerita Panji, yang digambarkan sebagai lelaki tampan, pintar, menguasai banyak jenis kesenian, patuh pada orangtua, ahli perang, menyukai tanaman dan binatang, penuh kasih sayang dan sifat-sifat ideal lain sebagai laki-laki pemimpin yang mengedepankan semangat persatuan bangsa. Bahkan semangat Cerita Panji itu sendiri lahir sebagai impian rakyat pada masa itu yang merindukan penyatuan dua kerajaan besar, Janggala dan Panjalu, yang terus menerus berperang turun temurun meski kedua rajanya masih bersaudara.

Dalam pewayangan tokoh Raden Panji disamakan dengan Arjuna, tokoh tengah Pandawa yang juga dikenal memiliki banyak isteri. Tidak heran dalam PBSR kali ini ada perupa yang menyajikan karya yang mengidentikkan Raden Panji dengan Bung Karno. Hal ini juga pernah dikemukakan oleh ilmuwan dari Malaysia, Prof. Nooriah Mohammed, bahwa Bung Karno memang identik dengan Panji.

Dalam pameran di dua gedung milik Pemkot Batu ini, Septo Adi Wicaksono menghadirkan karya yang menggambarkan sosok Bung Karno mengenakan jas bergambar isterinya, Ratna Sari Dewi, dan diselimuti bunga mawar. Latarbelakang lukisan ini terdapat tulisan seperti kertas koran, yang sesungguhnya adalah artikel Soekarno perihal Sarinah. Perupa asal Magetan ini memberi judul lukisannya “Panji Perempuan”.

Tetapi citra umum bahwa Raden Panji beristeri banyak dibantah oleh M. Soleh Adipramono, dalang Wayang Topeng Malangan dalam diskusi di pendopo Pemerintah Kota Batu dalam rangkaian PBSR ini. Menurut pemilik Padepokan Seni Topeng Mangundarmo ini, Raden Panji hanya setia terhadap 1 (satu) isteri saja, yaitu Dewi Sekartaji, setelah isteri sebelumnya Dewi Anggraeni meninggal dunia. Terhadap 40 (empat puluh) isterinya yang lain, Raden Panji tidak pernah menggaulinya tetapi hanya menunaikan kewajibannya sebagai suami melalui ajian Asmaragama. Semua isterinya dikumpulkan dalam sebuah telaga, Panji kemudian melakukan samadi, maka kesemuanya sudah mendapatkan kenikmatan seolah digauli.

Keterkaitan Panji dengan urusan syahwat ini juga menjadi konsep Wiska Zakaria (Semarang) dalam karya instalasinya yang berjudul “…” (ya, memang hanya berupa tanda baca). Dihadirkannya sebuah potongan melintang batang pohon besar yang digantung dari segala arah, dengan tonjolan besar hitam di tengahnya. Di bawahnya terdapat pecahan kaca yang berserakan. Dia bermaksud “mencoba mengangkat kepribadian dari tokoh Panji Asmarabangun ketika melampiaskan syahwat dalam mengejar cintanya. Dia tidak menghalalkan segala cara. Dia tidak menggunakan kekuasaan untuk mencapai keinginannya. Ada banyak pengendalian syahwat pada cerita Panji Asmarabangun yang sepatutnya kita jadikan percontohan.”

Tetapi ada penafsiran yang berbeda soal yang satu ini, bahwa “perempuan” dalam Cerita Panji (demikian juga bagi Arjuna) adalah simbol ilmu. Raden Panji adalah lelaki yang gemar menuntut ilmu dan senang berkelana untuk meluaskan pengetahuannya. Hal inilah yang kemudian oleh Sugiharto diidentikkan dengan sosok Gus Dur melalui karyanya yang berjudul “Panji Nusantara”. Menurut perupa asal Gresik ini, “Panji Nusantara adalah semangat dan teladan yang sangat diharapkan di zaman sekarang. Gus Dur adalah salah satunya tokoh teladan. Semangatnya, perjuangannya, dan banyak lagi yang tidak perlu diragukan lagi untuk bangsa ini dan dunia. Baginya, kepentingan bangsa dan kemanusiaan di atas segala-galanya.”

Dan memang seperti itulah kurang lebih karakter Raden Panji Inukertapati, sang Putera Mahkota kerajaan Jenggala. “Panji layaknya sebuah lubang kunci dimana ketika kita membuka pintunya dapat menemukan pedoman hidup yang dapat menuntun dalam perjalanan dari zaman ke zaman, dari tradisional hingga milenial, bahkan zaman masa depan,” tulis Eddy Dewa Pawang Jenar (Blitar) mengiringi karyanya yang berjudul “Panji Sosi”.

Penafsiran juga dilakukan terhadap Cerita Panji itu sendiri. Sebuah karya video animasi gambar tangan digital dari Banung Grahita (Bandung) berjudul “Cockfight” (adu ayam) menyajikan pertarungan dua sosok manusia berkepala ayam. Mengacu pada pandangan seorang filolog, Banung menginterpretasikan bahwa semangat Panji adalah semangat kembali pada ke-Indonesiaan.”

Masih banyak penafsiran lain terhadap Cerita Panji yang menggelitik seperti mengumpamakan Dewi Sri menjadi “Sri Magic” sebuah perangkat penanak nasi yang hanya jadi pajangan. Juga Dewi Sri dalam bentuk keramik karya Ponimin yang dikepung dengan pasukan Bapang (identik budaya asing) yang mengendarai motor Harley. Atau “Dewi Sri hamil” karya instalasi Bambang AW, melukiskan betapa dunia pertanian telah tercemar dengan pestisida kimia yang mematikan.

Tetapi pameran ini memang tidak sedang menafsirkan Cerita Panji secara wantah. Para perupa kontemporer ini tidak lagi terikat Cerita Panji secara naratif melainkan melambungkan imajinasinya secara liar. Bahkan ada yang seolah “tidak mau tahu” dengan tema Panji yang sudah digariskan panitia. Begitulah, bahwasanya karya seni memang muktiinterpretable, berbeda dengan rambu lalulintas. Maka pameran ini seolah menyajikan sebuah Cerita Panji baru dalam pemaknaan kontemporer. Itulah yang menarik.

 

(Henri Nurcahyo, inisiator “Pojok Panji” UNIPA Surabaya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *