Menyongsong Festival Panji Nusantara 2019

SURABAYA: Perhelatan Festival Panji Nusantara yang sudah berlangsung dua kali berturut-turut (2017 – 2018) bakal dilanjutkan lagi tahun 2019 dan bahkan digagas menjadi agenda tahunan. Untuk merancang kegiatan tersebut UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) di Ruang Bromo kantor Disbudpar Provinsi Jatim, Rabu lalu (12/12).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Sinarto, S.Kar, MM, menyampaikan bahwa Festival Panji tidak hanya berkutat di wilayah seni saja melainkan mengharmoniskan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Ada Fam Trip Tourism, juga ada  dialog akademis. Apalagi pariwisata di Jawa Timur 60% berbasis pariwisata budaya, 30% berbasis pariwisata alam, 10% sisanya sebagai pariwisata buatan. Disamping itu, jangan sampai Budaya Panji jadi kanibal yang memakan atau memusnahkan Budaya lain.

Acara ini juga dihadiri oleh Kasubdit Seni Pertunjukan Direktorat Kesenian Kemendikbud RI, Edi Wirawan, yang menyambut baik niat keberlanjutan Festival Panji. Selain dua kali festival besar yang sudah dilaksanakan, Naskah Cerita Panji juga sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Memory of the World (MoW) tahun 2017.  Itu semua layak diapresiasi.

Karena itu, tambah Edi, sesuai dengan UU No.5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan Kebudayaan maka upaya-upaya yang dilakukan terhadap Panji harus melingkupi Perlindungan (regulasi yang mengatur), Pengembangan (terhadap bentuk budaya), Pemanfaatan (mensinkronkan dengan agenda pariwisata), dan Pembinaan (membina komunitas atau pelaku Budaya Panji).

“Tugas paling penting dalam Festival Panji adalah membentuk Apresiator Budaya Panji yang tertuang dalam karya budaya,” tegasnya.

Hal inilah yang memang dicanangkan oleh UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian sebagaimana disampaikan oleh Efie Wijayanti, S.Sos, MMPd, kepala UPT LPPK. “Kami harap semua pihak dapat bersinergi sehingga Budaya Panji tidak hanya menjadi agenda pemerintah belaka,” ujar Efie.

Hadir dalam acara tersebut para pegiat Budaya Panji antara lain M. Dwi Cahyono, Suroso, Bambang AW, Syarifudin dari Museum Panji Tumpang (Malang), Yustiono (Kab. Kediri), Subardi Agan, Jamran (Kota Kediri), Dewa Gde Saputra, R. Joko Prakosa, Heri Lentho, Joko Susanto, Joko Porong, Sunu Catur (Surabaya), Imam Ghozali (Jombang), Rangga Bisma Aditya (Kab. Blitar), Tjahjono Widarmanto (Ngawi), Bimo Wijayanto dan Didik (Tulungagung) dan sebagainya.

Disamping itu juga sejumlah pejabat terkait Pariwisata dan Kebudayaan seperti Edi Irianto (Museum Negeri Mpu Tantular), Ida Made Ayu Wahyuni (Kadisbudpar Kota Malang), Yuli Marwanto (Dibudpar Kab. Kediri), Luhur Sejati (Kadisbudpar Kab. Blitar),  dan pejabat internal Disbudpar Prov Jatim, serta Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta yang wilayah tugasnya meliputi Jateng, Jatim dan DIY.

Menurut rencana, Festival Panji Nusantara 2019 akan diselenggarakan bulan Juni-Juli di 4 (empat) kota, yaitu Kota Malang, Kab. Blitar, Kab Tulungagung dan Kab. Kediri. Dalam pertemuan kali ini pejabat keempat kota itu menyatakan siap dan memang sudah diagendakan pada tahun 2019 nanti.

Bahkan Kabupaten Kediri sudah mencanangkan acara ini sejak tahun 2011 yang meliputi Pameran Panji, Kampung Panji, Workshop Panji, Pawai Panji, serta Gelar Seni Budaya Panji pada tanggal 7-13 Juli 2019. Kota Malang juga sudah sudah menganggarkan pameran dan workshop Panji dengan menggandeng Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB).

 

Jangan Dikotak-kotak

Sejumlah peserta diskusi menyarankan agar juga mengundang keterlibatan kota-kota lainnya seperti Kab. Sidoarjo yang selama ini identik dengan kerajaan Jenggala. Bahkan Arkeolog M. Dwi Cahyono menyarankan agar Festival Panji juga harus menampilkan karakter lokal Panji dengan mengeksplor kesenian Panji di luar Blitar, Malang, Kediri, dan Tulungagung. Misalnya Topeng Kerte Situbondo serta beberapa daerah tapal kuda seperti Probolinggo dan Banyuwangi. Seperti Cerita Sri Tanjung yang terklasifikasi sebagai Panji Minor. Ada lagi Panji Laras-Liris di Lamongan, Sawunggaling di Surabaya, serta cerita di daerah lain seperti Tuban, Jombang, Mojokerto, yang menampilkan berbagai ragam produk budayanya.

Menyinggung pelaksanaan Festival Panji yang lalu, Syarifudin yang mewakili Museum Panji di Tumpang Malang menyayangkan bahwa pihaknya tidak dilibatkan. Padahal para pecinta Panji dari Indonesia maupun luar negeri semuanya bertanya kepada Museum Panji perihal acara tersebut. Museum Panji sendiri merupakan share heritage and culture yang tidak bisa diklaim batas administrasi. Sehingga perlu kiranya mendefinisikan Kebudayaan Panji dengan tidak mengkotak-kotakkan wilayah agar inclusive culture bisa terwujud dan perbedaan produk Budaya Panji tidak jadi pemisah, namun justru memerkaya khasanah Budaya Panji tersebut.

Hindari penyelenggaraan Festival yang berorientasi pada penari, perdalam materi yang bergantung pada historis seperti Bedah Film Timun Mas atau Lomba Story Telling Panji (Cerita/Dongeng Panji),” ujar Syarifudin yang juga dikenal sebagai curator seni rupa ini.

Soal keberlanjutan Festival Panji, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Blitar, Luhur Sejati, perlu ada jaminan dari Gubernur Jatim sebagai program rutin sebagaimana halnya Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS), Festival Kesenian Pesisir Utara (FKPU) yang bergilir tuan rumahnya.

“Kabupaten Blitar siap menjadi tuan rumah Festival Panji Nusantara 2019, namun atas dasar gotong royong dan kebersamaan dengan Kota/Kabupaten lain di Jawa Timur,” ujar Luhur yang juga aktivis budaya tersebut.

Terkait dengan hal itu, tambah Luhur, Budaya Panji harus masuk dalam perencanaan dan kebijakan agar melibatkan Bappeda dan Sekda sehingga arah branding dan pengembangan Budaya Panji bisa jelas. Pemerinta Provinsi Jatim dapat memberi dana pancingan seperti saat Hari Jadi Provinsi dimana setiap kota/kabupaten mendapat dana stimulan Rp 50 juta yang nantinya akan ditambahi lagi dengan APBD kota/kabupaten, sehingga sifatnya wajib, tinggal mencari nomenklaturnya.

 

Road Map Budaya Panji

Subardi Agan dari Kota Kediri menyampaikan bahwa Panji sudah menjadi ikon Kota Kediri sebagai Kota Panji, sedangkan Kabupaten Kediri sebagai Bumi Panji. Karena itu, respon terhadap festival diharapkan bisa konsisten, tidak diganti setelah nasional, internasional, dan nusantara. Harus ada branding khusus terkait itu. Festival Panji 2019 tidak boleh lagi dijadikan trial and eror. Harus ada Roadmap Pengembangan Budaya Panji yang berdasar tujuan dan sasaran semacam  Rencana Pengembangan Lima Tahunan Panji (Repelita Panji).

Soal road map ini juga disampaikan oleh Rangga Bisma Aditya (Kab. Blitar), bahwa dalam platform Indonesiana yang mencakup tentang Festival Panji 2019 memang disarankan untuk membuat Road Map menuju Festival Panji. Misalnya 3 bulan sebelum acara sudah digelar beberapa acara di beberapa kota kabupaten dan puncaknya di Candi Penataran Blitar sebagaimana pernah dinyatakan oleh Nunus Supardi  sebagai Universitas Panji. Bahkan R. Djoko Prakosa menyebut Roadmap itu dibuat 3 tahun pertama berupa Pengembangan Budaya Panji.

Karena itu, Rangga menyebut perihal pentingnya membuat pemetaan Panji khususnya dalam mencari Bentuk Budaya Panji, Komunitas Panji, SDM dalam rangka Produksi Festival Panji (kurator yang menyeleksi bakat, pemateri yang cakap dibidangnya, serta teknis kepanitiaan), dan venue yang akan menjadi tempat penyelenggaraan harus menjadi catatan khusus dalam penyelenggaraan.

Bahkan Joko Porong dari Unesa menegaskan, “kembalikan saja Festival Panji ke masyarakat, Pemerintah menyusun roadmap dan puncak Festival di bulan Juni. Sehingga diharapkan Panji hidup di Jawa Timur sebagai Ikon sama seperti di Bangkok.”

Sejumlah peserta diskusi sepakat dengan diversifikasi Festival Panji, sehingga acara yang disajikan juga meliputi pakaian Panji (Fashion),  Napak Tilas Budaya Panji yang meliputi Jejak Budaya Panji di Pasuruan, Malang, Blitar, Tulungagung, dan Kediri; Ruwatan Panji, Lomba Lukis Panji, Lomba Membatik Panji, Lomba Cipta Puisi Panji, Workshop Produk Budaya Panji, Pemutaran Film Dokumenter dan Festival Kuliner. Hanya disarankan, perlunya komparasi sajian materi Panji yang berbeda. Jangan seperti tahun 2018 dimana disajikan kesenian negara Cambodia dan Thailand yang keduanya sulit membedakan.

Bambang AW dari Malang malah mengusulkan ada Workshop Pengelolaan Air Hujan sebagai bagian dari Budaya Panji yang masuk dalam konsep Tirta yang tergambar dalam wujud figur bertopi.

Perihal sebutan festival itu sendiri, Tjahjono Widarmanto dari Ngawi malah tidak sepakat karena ada 200 lebih festival di Jawa Timur dalam satu tahunnya. “Saya mengusulkan nama lain yaitu Selebrasi Budaya Panji,” ujarnya.

 

Bukan Hanya Festival

Namun ternyata dalam diskusi kali ini tidak semua peserta hanya terfokus bicara Festival Panji sebagai sebuah acara melainkan adanya program berkesinambungan. Seperti yang disampaikan Imam Ghozali dari Jombang,  berharap di Jawa Timur ada sekolah Panji yang menggali nilai-nilai Budaya Panji dalam bentuk Pusat Studi Panji. Ada pendokumetasian Panji di masa lampau.

Hal senada disampaikan Bimo Wijayanto dari Tulungagung, bahwa di SMAN 1 Kedungwaru sebagai salah satu sekolah yang memiliki laboratorium kesenian bantuan dari Ditjend Kebudayaan memiliki konsentrasi dalam membedah situs Panji yang juga mencakup Candi Penampihan yang dikenal sebagai Candi Asmorobangun.

Lembaga “Omah Panji” dari Kota Kediri malah turut membuat monumen Panji di Jl. Doho, konsep cenderanata, dan motif khas Panji sebagai bagian dari ekonomi kreatif Panji. Disamping juga menyelenggarakan berbagai acara terkait Panji sejak tahun 2014.

Dewa Gde Satrya dari Universitas Ciputra Surabaya mengusulkan agar ada  Workshop Panji dengan membagikan nilai-nilai ke generasi penerus sehingga diperlukan keterlibatan kelompok muda dalam menerjemahkan Panji ke dalam teater, cerita, wajah, komik, film, dan wayang krucil yang banyak diminati oleh masyarakat.

Bahwa Budaya Panji juga berurusan dengan maritim, antara lain disampaikan oleh Rokhmat Djoko Prakosa dari STKW Surabaya. Dikatakan, secara empirik Singasari telah menjadikan Budaya Panji sebagai peradaban maritim dengan pengetahuan Mapanji Gadinya (Pengetahuan Membuat Kerangka Perahu), Mapanji Layaran (Pengetahuan Arah Mata Angin dan Bintang).

Tetapi Budaya Panji juga bukan hanya sebatas festival. Edi Iriyanto dari Museum Negeri Mpu Tantular menyebutkan bahwa di  Museum Mpu Tantular ada beberapa naskah kuno dan patung yang berkaitan dengan Budaya Panji yang berasal dari Blitar, Kediri, Malang. Disarankan, hal itu  dijadikan pengetahuan bersama/kolektif dalam menggali budaya Panji. Salah satunya menjadi sarana Edukatif Kultural melalui Post Test dan Pre Test adalah ketika para pelajar memelajari Topeng Panji.

Dari serangkaian diskusi yang berlangsung sehari penuh ini, akhirnya Kadisbudpar Provinsi Jatim, Sinarto,  berkesimpulan bahwa Budaya Panji sangat luar biasa, tidak hanya sekadar kesenian, di dalamnya terdapat beberapa objek pemajuan kebudayaan seperti pengetahuan tradisi serta pilihan terhadap ruang ekonomi kreatif yang dapat dijadikan ikon kultural dalam mem-branding Pariwisata. Sehingga didapat sebuah produk pariwisata yang harus memerhatikan bentuk kekhasan, format acara, konprehensif penyelenggaraan, serta tahapan untuk mencapai tujuan penyelenggaraan Festival Panji Nusantara 2019.

Sebagai tindak lanjut, nantinya Disbudpar akan menggelar pertemuan dengan Tim Kecil untuk merumuskan bentuk dan tahapan acara sehingga Festival Panji Nusantara 2019 agar dapat berjalan sesuai dengan tujuan. (*)

 

Notulis: Rangga Bisma Aditya

Penyusun: Henri Nurcahyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *