Dari Provokasi Menuju Edukasi Panji

Catatan Henri Nurcahyo

Tahun 2008 saya mulai tertarik dengan Cerita Panji ketika ikut terlibat dalam acara Pasamuan Budaya Panji di PPLH Trawas dan Candi Jolotundo. Pada saat itu, yang saya pahami tentang Cerita Panji adalah sebatas dongeng, seperti misalnya Ande-ande Lumut. Dimana dikisahkan bahwa kedua tokoh utama dalam dongeng itu adalah Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun yang sama-sama menyamar. Sekartaji menjadi Kleting Kuning dan Ande Lumut itu sendiri ternyata adalah Raden Panji Asmarabangun.

Sejak itu setiap pertunjukan berbasis Panji saya datangi, setiap seminar atau diskusi Panji saya hadir, diundang atau tidak diundang. Kemudian maju selangkah, saya menjadi pembicara di berbagai diskusi dan seminar, mulai dari model lesehan di emperan candi, di kampus dan komunitas seniman hingga seminar internasional di Mataram, Jakarta dan Pekanbaru. Saya mendapat kehormatan duduk satu meja dengan para professor doktor Panji dari berbagai negara, sementara saya hanya seorang provokator. Ya, saya bukan expert, bukan akademisi, bukan peneliti ilmiah, hanya pelaku yang selalu memprovokasi siapa saja dan dimana saja agar mau membangkitkan Budaya Panji.

Diantara berbagai kegiatan itu, saya diundang sebagai narasumber oleh Universitas PGRI Adibuana (Unipa) Surabaya untuk berbicara perihal “Aspek Kepemimpinan dalam Cerita Panji.” Ibarat dalang tak pernah kurang lakon, ya saya cerita saja apa itu Panji, apa keistimewaannya, dan mengapa kita harus membangkitkan kembali Cerita Panji sebagaimana kejayaannya pada masa Majapahit dulu. Rektor Unipa, Bapak Djoko Adi Waluyo, bukan saja hanya membuka acara, namun ikut diskusi hingga usai dan langsung berikrar; bahwa Unipa akan mendirikan Pojok Panji, semacam lembaga studi Panji. Para dosen diminta untuk “mengikat” saya, dibuatkan kantor di kampus Ngagel Dadi.

Eh ternyata serius, ketika saya sempat menengok kampus Unipa yang ada di Ngagel Dadi, memang ada sebuah ruangan yang diberi nama Pojok Panji. Dan sebuah gazebo kecil di halaman dekat parkiran diberi nama Bale Panji. Giliran saya yang bingung, mau diapakan “kantor” yang sudah disediakan untuk saya itu. Mosok saya harus ngantor tiap hari. Ngapain? Kalau hanya untuk mengetik saja bisa di rumah, lebih nyaman, dekat makanan, ada hiburan ikan-ikan dan kura-kura, ahay…

Kemudian ada usulan, untuk mengumpulkan para dosen Unipa yang kira-kira tertarik atau berkepentingan dengan Cerita Panji. Satu dua kali direncanakan, ternyata gagal terus. Lantas saya mencetuskan ide, ya sudah saya seminggu sekali datang ke Pojok Panji. Kita umumkan ke publik, siapa saja boleh ngerumpi soal Panji di ruangan ini seminggu sekali. Bukan hanya dosen dan mahasiswa Unipa saja, tapi masyarakat umum juga boleh gabung. Ada yang menanggapi, jangan seminggu sekali, terlalu cepat, bagaimana kalau sebulan sekali. Ya sudah.

Sementara itu, diam-diam Pak Sunu Catur Budiono yang menjabat Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) sudah menyiapkan program kongkrit.

“Saya buatkan mata kuliah Panji saja, lebih efektif,” katanya. Oh, buagus.

“Dosennya siapa?” tanya saya.

“Ya Pak Henri..”

Saya terdiam. Sama sekali saya tidak pernah membayangkan akan jadi dosen. Lha wong saya ini sekolah saja gak jelas. Drop Out. Itupun Fakultas Kedokteran Hewan. Lha kok ngajar Panji? Saya jadi teringat guyonan saat ada pertemuan di kantor Disbudpar Jatim. Saya katakan waktu itu,”ya saya memang pernah kuliah di Kedokteran Hewan UGM, jurusan Budaya Panji.”

Ya sudah, seperti semboyan saya selama ini: “dalang tak pernah kurang lakon”, saya terima tugas itu. Apa sih sulitnya jadi dosen, wong saya sudah biasa jadi pembicara dimana-mana. Soal penguasaan materi, ya tinggal baca buku saja diperbanyak. Kalau ada yang perlu didalami bisa tanya pakar Panji yang aseli. Lha saya ini kan pakar gadungan, ibarat pakar makan tanaman. Eh salah, pagar yaa…

Tidak Sekadar Provokator

Sebutan provokator itu saya maksudkan sebagai orang yang selalu menyebarkan ajakan untuk berbuat sesuatu, dalam hal ini adalah memahami Cerita Panji. Saya gunakan pilihan kata provokator, dan bukan motivator, karena selama ini makna kata provokator cenderung dimaknai negatif, sementara motivator berkonotasi positif. Mengapa bisa begitu? Padahal sesungguhnya keduanya memiliki makna yang sama. Nah, saya ingin meluruskan salah kaprah tersebut.

Dalam berbagai kesempatan di banyak tempat selalu saya katakan bahwa Cerita Panji adalah harta karun yang selama ini terlupakan. Cerita Panji pernah berjaya pada zaman Majapahit, menyebar ke berbagai daerah di nusantara dan beberapa negara hingga Kamboja dan Thailand. Banyak candi yang mengabadikan Cerita Panji dalam reliefnya. Bahkan ada patung Panji di candi Selokelir yang kini tersimpan di ITB. Tetapi mengapa Cerita Panji nyaris tidak dikenali di tanah kelahirannya sendiri?

Provokasi tersebut saya lakukan di depan para seniman, mahasiswa, guru dan berbagai kalangan yang mengundang saya berbicara dan/atau saya sendiri yang mendatangi mereka, dalam forum resmi atau sekadar jagongan. Demikian pula kepada para pejabat yang terkait dengan kebudayaan di tingkat provinsi Jawa Timur dan juga pemerintah pusat. Provokasi juga saya lakukan dala bentuk penerbitan buku “Memahami Budaya Panji” sebagai tindak lanjut buku pertama “Konservasi Budaya Panji” yang justru membuahkan banyak pertanyaan “Cerita Panji itu apa?”

Pertanyaan seperti itu bukan hanya muncul dari kalangan awam belaka namun para cendekiawan dan ilmuwan setingkat professor doktor juga pernah bertanya yang sama. Saya katakan, banyak di antara kita yang sebetulnya tidak tahu apa yang kita tahu. Kita mengaku tidak kenal Panji padahal tanpa sadar sudah tahu sejak kecil. Dongeng Ande-ande Lumut misalnya, adalah salah satu contoh Cerita Panji dalam bentuk dongeng.

Sampai suatu ketika seorang Hilmar Farid dipilih sebagai Dirjen Kebudayaan. Maka saya kirimkan 2 (dua) eksemplar buku saya disertai catatan: “Pak, tolong kembalikan kejayaan Cerita Panji sebagaimana terjadi pada zaman Majapahit.”

Kesempatan emas terjadi ketika Bapak Wardiman Djojonegoro mengajak saya, juga Dwi Cahyono Inggil dan Lydia Kieven yang kebetulan baru datang dari Jerman, bertemu dengan Hilmar Farid. Saya masih ingat, bulan November 2015. Mantan Mendikbud yang menjadi konsultan Perpustakaan Nasional itu mengatakan pada Dirjen Kebudayaan agar pemerintah menyelenggarakan Festival Panji Nasional tahun 2017 dan Festival Panji Internasional tahun 2018. Sementara itu, bulan Oktober tahun 2017 naskah Cerita Panji ditetapkan Unesco sebagai Memory of the World. Lengkap sudah.

Lantas, apa hanya berhenti di situ? Apakah Cerita Panji hanya berkibar di festival-festival saja? Sampai-sampai ketika ada dahan pohon patah menimpa Candi Mirigambar di Tulungagung dihubung-hubungkan dengan Festival Panji yang menghabiskan biaya ratusan juta rupiah. Padahal, di antara  keduanya berada di ranah yang berbeda. Tapi gak papa, itu kritik yang membangun.

Hanya saja, provokasi yang saya lakukan akan menguap begitu saja kalau tidak ada keberlanjutan. Hanya berhenti di forum-forum seminar. Memang saya pernah beberapa kali berbicara di depan para guru, tetapi itu forum yang tidak mengikat. Artinya, bisa saja mereka tertarik Cerita Panji kemudian menularkannya kepada para muridnya. Tetapi, seberapa banyak yang mau (dan mampu) melakukan hal itu?

Nah ketika kemudian saya menjadi dosen di Unipa inilah yang menjadi strategis lantaran mahasiswa saya adalah para calon guru. Matakuliah Kajian Panji ini diajarkan di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unipa Surabaya. Berbeda dengan yang sudah dilakukan di Universitas Ciputra yang menjadi bagian dari jurusan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kalau yang di Ciputra itu lebih banyak berurusan dengan bagian hilir, maka yang di Unipa berurusan dengan bagian hulu. Klop sudah. Saling melengkapi.

Lantas ada pertanyaan, bagaimana kami bisa mengajarkan pada siswa perihal Cerita Panji kalau isinya hanya cinta-cintaan Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji? Bukankah itu tidak cocok dengan dunia pendidikan? Jawabannya nanti saja yaa….

 

Cerita Panji dalam Dunia Pendidikan

Suatu ketika saya sedang ikut pendataan Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) di wilayah Kediri. Dalam pertemuan di SMPN 1 Kota Kediri itu berkumpul para guru dari kota dan kabupaten Kediri yang sekolahnya memiliki sanggar kesenian dan menjadi anggota PPST. Dalam pertemuan itu seorang guru berkata: “Kami dari Kediri sudah sepakat tidak akan membawakan lagi lakon Cerita Panji.”

Duuh, saya langsung mak dheg. Ada apa ini? Bukankah selama ini Kota Kediri selalu mengklaim sebagai Kota Panji, sedangkan Kabupaten Kediri adalah Bumi Panji.

Kemudian guru itu bercerita, bahwa dalam acara Lomba Seni Pertunjukan yang rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Disbudpar Jatim (dhi: UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian) peserta dari Kediri membawakan lakon Cerita Panji. Dalam pementasan di panggung itu ada adegan percintaan antara Raden Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji. Peserta yang lain yang juga membawakan lakon Panji, tidak terlepas juga dari adegan percintaan tersebut.

Nah, saat pengumuman pemenang, ada seseorang mengatakan begini (kira-kira): “Daripada nonton adegan yang begituan lebih baik saya keluar saja. Itu tidak pantas untuk dunia pendidikan.”

Pernyataan itulah yang membuat guru-guru dari Kediri itu tersinggung, sebab selama ini mereka sudah berusaha menyosialisasikan Cerita Panji di kalangan siswa sebagaimana anjuran pemerintah dan kalangan budayawan. Gara-gara pernyataan itu mereka lantas mutung. Tidak mau lagi membawakan lakon Cerita Panji. Sebagai seorang provokator Panji, tentu saja saya terpukul dengan hal ini. Saya masih mikir, bagaimana solusinya.

Sebetulnya persoalan yang sama juga pernah mengemuka dalam seminar yang juga dihadiri oleh kalangan guru. Ada peserta guru yang bertanya: “Cerita Panji itu kan isinya percintaan, bagaimana mungkin kami mengajarkannya pada siswa? Apalagi anak-anak yang masih SMP, atau bahkan SD.”

Tidak bisa dipungkiri bahwa Cerita Panji memang berkisah percintaan dua anak manusia, sebagaimana Jayaprana Layonsari (Bali), Bangsacara Ragapadmi (Madura), Sritanjung (Banyuwangi), atau bahkan satu genre dengan Romeo Yuliet.

Kalau toh ada yang relatif bersih dari adegan percintaan misalnya serial Golekan Kencono, dimana diceritakan dua perempuan bersaudara tiri saling berebut hadiah boneka emas. Galuh Ajeng yang memilih hadiah itu lebih dulu mengira bahwa bungkus bagus boneka itu tentu isinya juga bagus. Sedangkan Galuh Candrakirana mengalah memilih yang berbungkus jelek, ternyata isinya boneka emas. Pertengkaran itu dilerai oleh orangtuanya dengan catatan Galuh Candrakirana harus mengalah kepada adik tirinya. Tentu saja Candrakirana menolak hingga akhirnya dia dihukum dengan potong rambut dan diusir dari istana.

Contoh cerita lainnya adalah Panji Laras, dimana dikisahkan seorang anak laki-laki yang hidup di sebuah hutan hanya dengan ibunya. Dia memiliki peliharaan seekor ayam jago bernama Cinde Laras. Suatu ketika Panji Laras bertanya perihal siapa ayahnya. Maka ibunya membuka rahasia bahwa ayahnya adalah seorang Raja di Jenggala. Singkat cerita Panji Laras berangkat ke kota, membawa ayam jagonya untuk diikutkan dalam adu jago di istana, dan menang. Pada akhirnya, Raja mengetahui jatidiri anak muda itu dan cerita berakhir bahagia.

Cerita Panji Laras ini memang terdapat di beberapa daerah dengan versi yang berbeda. Di Surabaya dikenal dongeng Sawung Galing, yang inti ceritanya juga sama seperti itu. Di Tulungagung malah ada bukit bernama Gunung Kunjung (Kuncung) Panji Laras yang dipercaya sebagai petilasan Panji Laras. Sementara di Madura juga ada malah ada makam Panji Laras. Begitulah yang namanya folklor, selalu ada keberagaman.

Cerita lainnya sebetulnya juga ada, misalnya dongeng Keong Emas, dimana salah satu versinya menyebut bahwa keong itu sesungguhnya adalah Dewi Sekartaji yang diubah bentuknya menjadi keong sampai akhirnya akan berubah kembali menjadi manusia manakala bertemu Panji Asmarabangun.

Hanya tiga itu saja? Memang sulit mencarinya, karena secara mainstream bahwa yang namanya Cerita Panji itu memang sebuah kisah percintaan dua anak manusia untuk memersatukan dua kerajaan yang masih bersaudara namun bermusuhan.  Malah ada versi Panji Anggraeni, dimana ada adegan pembunuhan terhadap Anggraeni, yang ndilalah ditampilkan secara verbal di panggung. Duuh, cilaka ini.

Persoalannya, bagaimana cara menyajikan lakon Panji ini tanpa harus ada adegan cinta-cintaan yang katanya tidak sesuai dengan dunia pendidikan itu? Jawabannya adalah pada how to create, bagaimana mengreasi Cerita Panji sedemikian rupa sehingga adegan yang katanya tabu itu ditampilkan secara artistik, bukan tampil verbal. Ini memang menjadi ranah sutradara pertunjukan, agar tidak secara wantah memindahkan Cerita Panji begitu saja tanpa ada upaya stilisasi.

Sebenarnya, kalau mau jujur, adegan (menirukan) orang dewasa itu tidak jadi masalah bagi anak-anak. Cobalah perhatikan, ketika anak-anak kecil bermain dengan sesamanya, mereka membagi peran sebagai ayah, ibu yang menggendong boneka sebagai bayinya, ada juga adegan meniru kesibukan ayah ibu mereka di rumah, ayah bekerja, ibu memasak di dapur. Bahwasanya berperan menjadi orang dewasa itu sudah biasa dilakukan oleh anak-anak.

Okelah, itu masih bisa diperdebatkan. Kembali soal Cerita Panji yang cocok untuk dunia pendidikan. Nah, bukankah spirit Cerita Panji itu (antara lain) adalah penyatuan dua pihak yang berseteru? Mengapa tidak dikreasi dengan perseteruan dua keluarga namun anak masing-masing keluarga itu malah berteman baik. Sebut saja namanya Panji dan Sekartaji. Kedua keluarga itu akhirnya rujuk kembali, bersatu dalam kekerabatan ketika anak-anak mereka, Panji dan Sekartaji berhasil menjadi pasangan juara dalam (misalnya) Lomba Debat Bahasa Inggris. Atau bisa juga pertandingan bulutangkis ganda campuran. Banyak contoh lainnya.

Berikut ini adalah contoh-contoh spirit Panji yang dapat dikreasi menjadi bahan seni pertunjukan:

  1. Kepahlawanan: Anak-anak berantem tapi tidak saling dendam dan melecehkan.
  2. Pengelanaan: Suka melakukan perjalanan ke banyak daerah untuk mengenal keberagaman budaya bangsa.
  3. Panji lelaki tampan, pendiam dan anggun.
  4. Kasih sayang: Suka menolong, beramal, mencintai yang lemah.
  5. Menguasai banyak cabang kesenian: Mendorong anak-anak belajar berbagai seni tradisi secara menyeluruh, menguasai banyak alat kesenian.
  6. Counter culture budaya asing (India): Mencintai budaya sendiri, sopan santun, mengutamakan produk dalam negeri.
  7. Panji suka perempuan? Ibarat Arjuna, setiap perempuan yang jadi isterinya didahului dengan perjuangan yang berat. Maknanya, bahwa cita-cita menjadi juara itu harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, berani berkorban dan pantang menyerah.
  8. Perempuan identik dengan ilmu. Gus Dur adalah Panji Nusantara.
  9. Panji Panglima Perang. Anak-anak suka beladiri Nusantara, Pencak Silat, juara, filosofi pencak silat.
  10. Panji sangat menghormati kedua orang tuanya. Bisa dicontohkan dalam keseharian.
  11. Panji cinta alam dan lingkungan, seperti dalam dongeng Enthit, mendorong sistem pertanian organik.
  12. Panji suka menyamar agar dapat berbaur dengan masyarakat, jadi pengamen, tidak hidup di menara gading.
  13. Panji pandai menulis surat, mendorong cinta budaya literasi, senang membaca dan menulis.
  14. Panji suka bertapa, tirakat, puasa. Mengajak anak-anak belajar puasa, Senin Kamis, puasa Ramadan tidak mokel.
  15. Sekartaji, sosok perempuan lemah lembut, cantik jelita, sopan, namun sanggup berperang di medan laga, mahir menunggang kuda. Seperti Persatuan Isteri tentara (Persit) Kartika Candra Kirana.
  16. Sekartaji perempuan sederhana, tidak sombong, lebih menyukai esensi ketimbang penampilan.
  17. Sekartaji juga suka menyamar, tidak ingin dirinya diistimewakan, mudah bergaul dengan masyarakat berbagai kalangan.
  18. Dan sebagainya.

 

Sebagai dosen matakuliah “Kajian Panji” di Unipa, saya akan menugaskan mahasiswa untuk membuat naskah Cerita Panji berdasarkan contoh-contoh tersebut. Nah, hasilnya akan dibukukan pada akhir semester nanti. Asyik kaan….. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *