PESONA MUSEUM PANJI di TUMPANG

Catatan Henri Nurcahyo

Cerita Panji bukan sekadar dongeng Ande-ande Lumut dan lakon Wayang Topeng Malangan, melainkan terdapat  dalam ratusan naskah kuno, motif batik dan sejumlah relief candi serta terkait erat dengan sejarah kerajaan di Jawa Timur. Kekayaan budaya dari Jawa Timur ini telah menyebar ke berbagai daerah di nusantara bahkan hingga ke beberapa negara di Asia Tenggara. Bahkan UNESCO telah menetapkan naskah-naskah Panji sebagai Memory of the World (MoW).

Cerita Panji bukan hanya sebatas karya sastra belaka melainkan sudah menjadi Budaya Panji, yaitu sebuah konsep kesadaran atas budaya kearifan lokal dengan nilai-nilai karakter Panji, yaitu kesederhanaan, percaya diri, kerakyatan dan tidak lepas dari tujuan (Kieven, Lydia: Menelusuri Panji & Sekartaji. Yogyakarta: Ombak 2018, hlm 25). Dalam Budaya Panji terkandung etos atau pandangan hidup yang dapat dilihat melalui Cerita Panji (Vickers, Adrian: Peradaban Pesisir, Udayana Universiy Press, 2009). Budaya panji adalah budaya yang ramah lingkungan, selaras dengan alam semesta, ibu bumi, bapa angkasa, mengolah sawah ladang pun dengan ramah lingkungan. (M. Dwi Cahyono). Sebutan Budaya Panji bukanlah merujuk kepada satu etnis tertentu.

Bagaimana wujud dari Budaya Panji itulah yang disajikan oleh Museum Panji yang terletak di desa Slamet, kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dibangun di atas lahan seluas 3 (tiga) hektar, museum yang dibangun sejak tahun 2014 ini  dikonsep sebagai objek wisata edukasi, wisata budaya dan sekaligus menjadi sarana rekreasi. Museum Panji merupakan kelanjutan dan perluasan Museum Malang Tempo Doeloe (MTD) yang berada di pusat kota Malang dan sudah ditutup. Pengelolanya masih sama, yaitu Yayasan Inggil yang diketuai oleh Dwi Cahyono, yang sekaligus pemilik Museum Resto Inggil.

Meski bernama museum, jangan bayangkan sebuah gedung tua angker berisi benda-benda kuno yang usang. Tidak seperti museum konvensional yang cenderung membosankan, museum ini didesain sedemikian rupa dengan tidak melupakan unsur fun di dalamnya. Keberadaan kolam renang tempat wisata taman air misalnya, merupakan sarana rekreasi tersendiri yang menyenangkan seusai menikmati koleksi benda-benda bersejarah terkait Budaya Panji. Dinding yang mengelilingi kolam renang ini berupa batu bata yang dibiarkan telanjang tanpa polesan semen namun dihiasi relief-relief yang Cerita Panji yang merupakan replika dari relief yang terdapat di beberapa candi seperti Candi Penataran, Kendalisodo, dan lain-lain.

Kompleks museum yang asri ini terbagi dalam beberapa tema terkait Budaya Panji dan sejarah serta areal rekreasi.  Memasuki pintu kompleks Museum Panji langsung disambut dengan beranda terbuka yang penuh dengan berbagai ornamen memorabilia yang menggambarkan Malang Tempo Doeloe. Diantaranya beberapa peralatan mesin tik zaman dahulu, kamera jadul, telepon portabel yang pernah dipakai sewaktu kongres KNPI pertama di Malang, juga benda-benda langka dan bersejarah lainnya. Termasuk juga foto-foto walikota dan Bupati Malang sejak zaman Belanda. Benda-benda yang disetting menyerupai diorama yang menggambarkan sejarah Kota Malang dengan menghadirkan display yang menggambarkan peletakkan pondasi pertama oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1716 silam.

Di beranda inilah tersedia meja kursi kuno untuk bersantai. Sedangkan di arah sisi kanan terdapat ruang pertunjukan –dengan panggung proscenium– yang dapat dimanfaatkan untuk pertemuan. Sementara di plafon dan beberapa bagian dinding dipenuhi dengan lukisan Wayang Beber.

Memandang ke depan dari ruang terbuka ini terlihat kolam renang dengan latar belakang bangunan dari bahan batu bata yang mengingatkan postur Candi Ratu Boko di Karang Anyar Jawa Tengah. Tersedia kolam renang yang dalam untuk orang dewasa hingga yang dangkal untuk anak-anak. Sementara untuk tempat bersantai dan beristirahat, terdapat 6 gazebo bernuansa pedesaan yang terletak di tepi kolam renang. Pada waktu-waktu tertentu, kolam yang dikelilingi tiruan pendopo teras Candi Penataran ini digunakan sebagai panggung pertunjukan dalam air.

Keluar dari beranda melewati pintu masuk pagar menuju areal kolam renang,  koleksi utama museum justru ada di gedung sebelahnya, berjalan di sisi kanan menuju sebuah ruangan besar. Menjelang pintu masuk ruangan, di sebelah kanannya lagi koleksi wayang purwa yang didisplay sedemikian rupa seperti sebuah pergelaran aslinya.

Ruangan utama museum ini secara garis besar terbagi dalam 4 (empat) bagian, yaitu (1) Cerita Panji dalam Seni Pertunjukan, (2) Cerita Panji dan Sejarah, (3) Diorama Masa Cerita Panji Populer dan bagian (4) Cerita Panji di Masa Kini. Denah pembagian ruangan ini terpampang di dinding lobby museum. Kesemuanya didisplay dengan sistem tata cahaya lampu yang membuat nyaman mata pengunjung serta adanya penataan ruangan yang jauh dari kesan membosankan.

Bagian yang pertama, terdiri dari 5 (lima) ruangan yaitu Peneliti Panji, Ruang Cerita Panji, Ruang Wayang, Ruang Naskah Sastra dan yang kelima adalah Ruang Topeng. Foto-foto dan deskripsi tokoh-tokoh yang berjasa terhadap Panji terpajang, mulai dari Rassers, JJ. Ras, Poerbatjara hingga Adrian Vickers. Berbagai jenis wayang terdapat di Ruang Wayang, seperti Wayang Tengger, Wayang Golek, Wayang Suket, Wayang Krucil, Wayang Debog, Wayang Kancil dan sebagainya. Memasuki Ruang Naskah dan Sastra terdapat beberapa prasasti, kitab-kitab kuna dan paparan literasi tempo doeloe. Bergeser ke Ruang Topeng terdapat puluhan jenis topeng dipajang di dinding, contoh-contoh asesoris yang digunakan penari topeng, dan juga sepasang manekin penari topeng Panji dan Sekartaji dalam ukuran manusia dewasa. Ini spot yang laris untuk swafoto.

Bagian kedua, Cerita Panji dan Sejarah, adalah ruang yang menyajikan koleksi benda-benda kuna masa Singhasari hingga Majapahit untuk memberikan gambaran bahwa Cerita Panji memang tumbuh subur pada masa itu. Gambaran perjalanan sejarah itu dilukiskan dalam poster besar dan juga dinarasikan dalam film yang diputar terus menerus, sejak Raja Airlangga membelah kerajaan menjad dua, kemunculan Panjalu dan Daha, lahirnya Singhasari hingga Majapahit. Keberadaan koleksi ini untuk memberikan gambaran bahwa Cerita Panji bukanlah semata-mata fiksi belaka.

Dan yang menarik. Ada sebuah lubang besar di tanah seperti sebuah galian tambang. Di sini digambarkan dengan boneka-boneka kecil visualisasi Perang Ganter (1222 M) yang menjadi cikal bakal lahirnya kerajaan Singasari. Pada saat itu kekuatan pasukan kerajaan Kadiri berhadapan dengan pasukan Ken Arok yang hanya sepersepuluh kekuatannya. Ken Arok menang karena diuntungkan kondisi medan yang sengaja dipilihnya. Kemenangan perang berdasarkan strategi cerdas inilah yang identik dengan Raden Panji yang selalu menang meski sedikit pasukannya.

Bergeser lagi, ada ruangan yang menyajikan benda-benda bersejarah hasil penggalian dari dalam laut. Ini bukan replika, tetapi koleksi asli yang didapatkan dari penggalian di laut Bangka.

Salah satu contoh Cerita Panji adalah dalam bentuk dongeng Keong Emas, dimana digambarkan Dewi Sekartaji yang dikutuk menjadi keong namun berubah menjadi manusia ketika berada sendirian dalam dapur Mbok Rondo Dadapan. Suasana dapur dengan peralatan tradisional yang sudah banyak dilupakan masyarakat sekarang itulah yang disajikan di sini. Bukan sekadar untuk visualisasi dongeng Keong Mas, sekaligus untuk menguji pengunjung museum terhadap nama-nama peralatan tradisional tersebut.

Masih banyak yang belum diceritakan di sini, musti berkunjung dan melihat sendiri. Yang jelas, “susunan koleksi tersebut memang sengaja tidak dibuat statis, selalu ada perubahan koleksi setiap 6 (enam) bulan sekali,” kata Dwi Cahyono, pemilik Museum Panji.

Budaya Panji memang tidak terlepas dari air. Selain beberapa kolam renang untuk rekreasi, juga terdapat dua buah kolam untuk pertanian dan sebuah sungai besar dengan dam yang menyerupai air terjun. Sementara lingkungan di sekitarnya menyerupai suasana pedesaan yang asri dengan rumah-rumah khas desa dan pepohonan yang masih rimbun. Di sepanjang jalan berhiaskan bunga-bunga indah, terdapat patung Raden Panji, Dewi Sekartaji, Lembu Andini dan sebagainya.

Rasanya tidak cukup sehari menikmati keseluruhan koleksi museum ini. Tidak heran ada juga pengunjung yang sampai mendirikan tenda-tenda untuk berkemah. Ada selingan permainan edukatif, demo pembuatan topeng, mencetak dan mewarna topeng, membatik, menata dan memainkan wayang kulit. Bahkan juga praktek menanam padi di sawah, mengapa tidak? Atau mau berpuas-puas diri mainan air di sungai? Mungkin masa kecil kurang bahagia…..

Tentu saja diskusi serius bisa digelar di ruang pertemuan yang menyerupai gedung pertunjukan seni tradisional.

Tertarik berkunjung ke Museum Panji? Jika berombongan, harus pesan dulu. Jika jumlah pengunjung lebih dari 30 (tiga puluh) orang, disediakan pemandu gratis, bisa pesan makanan dengan harga variatif, dan ongkos masuk cukup Rp 10.000,- saja. Tapi kalau perorangan atau tanpa pesan makanan membayar tiket masuk Rp 25.000,- per orang. Oh ya, sewa ruang pertemuan cukup Rp 50.000,- perjam, sudah termasuk perlengkapan soundsystem dan tentu saja meja kursi serta panggung. Eh, jam 17.00 sudah tutup yaa.

Lokasi museum ini ada di Jalan Raya Bangilan, Dusun Ringin Anom, Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, Kab. Malang. Ancar-ancarnya, dari jalan Urip Sumoharjo yang ada di sisi selatan Lapangan Rampal, lurus saja ke timur, menyusur Jl. Ki Ageng Gribig, setelah SMPN 6 Malang ada pertigaan, pilih belok kanan (ke timur) di Jalan Raya Madyopuro, lurus saja sampai ketemu bando jalan bertuliskan “Selamat datang di Dusun Slamet”, nah tidak jauh dari situ ada pertigaan kecil ke kanan, Jalan Raya Bangilan namanya. Lokasi Museum Panji ada di sisi kiri jalan. Gampangnya, silakan tanya Google Map saja, ketik: Museum Panji. Menurut mbah Gugel, jarak dari stasiun Malang Kota Baru menuju lokasi Museum Panji sejauh 12 (dua belas) kilometer atau ditempuh dalam waktu 28 menit menggunakan mobil.

Contact Person: 0812 3100 832. (henri nurcahyo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *