Festival Panji Juga untuk Kepentingan Penjual Cilok

BLITAR: Festival Panji diselenggarakan bukan dari pemerintah untuk seniman, atau dari seniman untuk seniman, tetapi dari seniman untuk masyarakat. Tidak ada pemisahan tegas antara seniman dan masyarakat karena  kita semua adalah bagian dari masyarakat. Bahkan Festival Panji diselenggarakan juga untuk kepentingan penjual cilok.

“Karena dengan ramainya acara kesenian maka banyak masyarakat yang ikut diuntungkan, termasuk penjual cilok,” ujar Gardjito Karsillo  dalam acara Workshop Manajemen Event dalam rangka Festival Panji Nusantara tahun 2019 di gedung Film kompleks Amphitheatre Penataran, Blitar, Senin siang (8/7).

Ditambahkan oleh staf pengajar ilmu komuikasi Universitas Indonesia (UI) tersebut, manakala acara kesenian, termasuk Festival Panji, banyak mendatangkan penonton, maka akan banyak penjual yang berdatangan yang bukan hanya dibutuhkan oleh penonton tetapi juga oleh seniman yang menjadi pemain. Disamping itu juga akan memberikan keuntungan bagi tukang ojek atau penjual jasa transportasi.

Kalau penjual cilok itu laris dagangannya, maka penjual tepung dan daging sebagai bahan baku cilok juga tambah laris. Kalau banyak masyarakat yang beli soto dan bakso misalnya, maka pedagang beras dan daging serta komponen lainnya juga diuntungkan. Penjual daging laris, maka peternak juga mendapatkan keuntungan.

“Jadi terbangunnya kerjasama antara seniman, tukang ojek dan para penjual makanan, termasuk penjual cilok, serta jaringannya itu, mereka semua itulah yang disebut ekosistem kebudayaan,” tegas Gardjito Karsillo.

Bersama dengan Lefidus Malau dan Anung Karyadi, ketiganya adalah “Tim Indonesiana” yang merupakan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia. “Indonesiana” adalah sebuah platform yang mengedepankan masyarakat sebagai pelaku kebudayaan. Sedangkan pemerintah berfungsi menjadi faslitator. Sementara Budaya Panji itu sendiri adalah tools (alat) untuk membangkitkan kebudayaan nusantara. Jadi Festival Panji diselenggarakan untuk membangkitkan semangat rakyat sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan.

Dicontohkan oleh Gardjito, d Thailand sana, penjual  makanan di sebuah keramaian bisa bercerita mengenai potensi seni budaya di negaranya. Hal ini karena mereka sudah menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan.

Bahwasanya kebudayaan sesungguhnya adalah milik masyarakat, bukan milik Negara, apalagi milik pemerintah yang sebetulnya justru dibayar oleh rakyat melalui pajak. Maka tujuan program “Indonesiana” adalah bagaimana membangun ekosistem kebudayaan. “Indonesiana” merupakan pengejawantahan dari Undang Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Kebudayaan itu dibangun melalui kerjasama” tegas Lefidus Malau.

“Kebudayaan juga bukan hanya di wilayah ideologi, tetapi juga soal ekonomi,” tambah R. Djoko Prakosa, dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya yang bertindak selaku moderator.

Acara workshop ini didahului dengan sajian tari Porem Bulkiyo dari Sanggar Pendopo dan dibuka oleh Kepala UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPP-Kesenian) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur.

Workshop Manajemen Event ini merupakan acara perdana dari rangkaian Festival Panji Nusantara 2019 yang diselenggarakan di Blitar, Tulungagung, Kediri dan Kota Malang. Sementara di Blitar sendiri mulai Selasa malam (9/7) digelar berbagai pertunjukan dari Surakarta, Kalimantan Timur, Bojonegoro, Yogyakarta dan Jawa Barat, disamping sajian kesenian dari Blitar sendiri. Semua seni petunjukan tersebut disajikan di Amphitheatre.

Termasuk juga, hari Rabu pagi diselenggarakan seminar Budaya Panji di gedung Film dengan tema “Budaya Panji sebagai Media Edukasi” dengan narasumber Dewa Gde Satria (dosen Universitas Ciputra Surabaya, dan Henri Nurcahyo (pegiat Budaya Panji dari Sidoarjo).

Sementara itu sampai dengan tanggal 12 Juli, juga digelar Pameran Pusaka, UMKM, Festival Kuliner Nusantara, Pemutaran Film Animasi, Reyog Bulkiyo, Tari Porem Bulkiyo, Baca Puisi Panji, Kirab Hurub Hambangun Praja (dari Pendopo Ronggo Hadinegoro ke Candi Penataran), Ludruk Blitaran (dengan pemain antara lain Bupati dan Forkompimda Kab. Blitar) serta dipungkasi dengan Hiburan Rakyat Wayang Kulit dalang Seno Nugroro (Yogyakarta) dan Sinden Elisa Orkarus (Sulsel).

Festival Panji Nusantara ini merupakan kerjasama antara Kemendikbud Republik Indonesia, Disbudpar Provinsi Jatim, dan pemerintah Kab/Kota Malang, Blitar, Tulungagung, dan Kediri. (h)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *