Cerita Panji dalam Perspektif Kekinian

Oleh Henri Nurcahyo

  1. Secara umum Cerita Panji dipahami sebagai kisah percintaan antara Raden Panji Asmarabangun atau Panji Inukertapati dari kerajaan Jenggala dengan Dewi Sekartaji atau Dewi Candrakirana dari kerajaan Panjalu atau Kadiri. Mereka sudah dijodohkan sejak kecil oleh orangtuanya karena dua kerajaan itu sebetulnya berasal dari satu kerajaan yang sama dan kedua rajanya masih memiliki hubungan saudara. Namun jalinan kisah-kasih mereka tidaklah semulus yang direncanakan. Ada saja halangan, godaan, tantangan dan berbagai cobaan sehingga terjadilah petualangan, pengelanaan, penyamaran, peperangan, dan berbagai kisah lainnya sehingga Cerita Panji mewujud dalam banyak sekali versinya. Meski demikian, substansinya tetap sama, yaitu penyatuan. Ada proses Integrasi – Disintegrasi – Reintegrasi
  2. Cerita Panji bukanlah cerita tunggal yang linier, tetapi terpotong-potong dalam jumlah yang sangat banyak dengan bentuk yang mirip. Cerita Panji tidak ada yang menciptakan (anonim), dan selalu berakhir pada perkawinan atau pertemuan dua belah pihak yang terpisah. Karena itu Cerita Panji disebut bergenre siklus, selalu mengulang-ulang pola yang sama dengan berbagai variasi dan proses tahapan yang berbeda. Disamping itu, semua versi Cerita Panji selalu berakhir bahagia (happy ending). Bandingkan dengan Romeo Yuliet, Bangsacara Ragapadmi, Sangkuriang, Roro Mendut dan semua kisah cinta yang rata-rata sad ending.
  3. Berasal dari Kediri, Cerita Panji sudah menyebar ke seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, semenanjung Melayu, Malaysia, Kamboja, Myanmar, Thailand dan negara-negara Asia Tenggara. Cerita Panji menyebar luas seiring dengan kejayaan kerajaan Majapahit. Ratusan naskah-naskah kuno Cerita Panji bahkan tersimpan di perpustakaan Malaysia, Thailand, bahkan di Belanda dan Inggris. Jauh lebih banyak dibanding di Perpustakaan Nasional Indonesia yang hanya 76 naskah. Itupun hampir separuhnya dalam kondisi rusak.
  4. Cerita Panji bukan hanya berujud naskah cerita dalam teks melainkan menjadi bahan baku lakon dalam banyak seni pertunjukan tradisional (wayang beber, wayang topeng, wayang krucil, kethek ogleng, gambuh dan sebagainya). Juga diabadikan dalam banyak versi dongeng (ande-ande lumut, keong mas, enthit, Panji Laras dll), sebagai motif dalam seni batik serta dipahatkan di relief yang terdapat di belasan candi di Jawa Timur. Bahkan ditemukan patung Raden Panji dan Sekartaji di Candi Selokelir di lereng gunung Penanggungan, Jawa Timur, dimana patung Panji itu sekarang disimpan di galeri Soemardja ITB.
  5. Cerita Panji adalah pusaka leluhur nusantara yang masih tetap relevan bagi kehidupan sekarang dan masa mendatang. Karena itu diperlukan transformasi (perubahan) dalam hal bentuk (format), waktu, pelaku, setting dan jalan cerita serta penafsirannya, dengan tetap mengacu ada substansi Cerita Panji. Salah satu bentuk transformasi itu adalah cerita pendek modern berbasis Cerita Panji.
  6. Dewan Kesenian Jawa Timur (DK Jatim) pernah menyelenggarakan Lomba Cerita Pendek (cerpen) berbasis Cerita Panji pada tahun 2012. Sebanyak 10 (sepuluh) karya terbaik dari lomba itu berniat hendak dibukukan namun tak kunjung terbit. Hingga akhirnya penerbitan itu diambil alih oleh Komunitas Seni Budaya BrangWetaN yang menerbitkannya tahun 2019 ini. Memang tidak ada keterangan nama-nama pemenangnya sama sekali. Dan itu memang tidak harus dicantumkan sebab penerbitan buku adalah satu hal sedangkan lombanya sendiri juga hal yang berbeda.
  7. Namun setidaknya nama-nama tenar dalam dunia sastra terdapat di buku ini. Misalnya: Afrizal Malna (The King), Diana AV Sasa (Sri Tulis dari Lemah Tulis), Gunawan Maryanto (Panji Laras), Hanif Nashrullah (Supadmi), MS Nugroho (Jago untuk Presiden), Ratna Indraswari Ibrahim (Ande Ande Lumut), Salamet Wahedi (Joko Tole Putra Bulan), Stephanie Yulianto (Panji dan Lebah Madu), S. Jai (Rembulan Terperangkap Ranting Dahan) dan Widodo Basuki dengan karya berjudul: Sang Panji Parmi(N).
  8. Dengan adanya lomba cerpen itu menunjukkan bahwa Cerita Panji tidaklah harus terkait dengan masa lalu dan menjadi klangenan Cerita Panji juga dapat ditransformasi menjadi kekinian. Sepuluh karya cerpen modern ini sudah membuktikan bahwa ternyata spirit Cerita Panji dapat menjadi inspirasi karya sastra kontemporer. Apalagi selama ini sudah gencar dilakukan kampanye untuk peduli terhadap Budaya Panji dan bagaimana menjadikannya sebagai bahan baku proses kreativitas masa kini, dalam hal ini sebagai karya sastra. Dari buku ini dapat diketahui bagaimana para sastrawan masa kini itu melakukan persepsi terhadap Cerita Panji dan mengungkapkannya dengan gayanya masing-masing melalui karya cerita pendek. Ini tentu sangat menarik.
  9. Widodo Basuki mengisahkan seorang laki-laki pemain seni pertunjukan tradisional ludruk yang berperan sebagai perempuan. Nama aslinya adalah Parmin namun justru dipanggil Parmi. Kecantikannya sebagai travesty menggoyahkan iman para lelaki hingga suatu ketika Parmin diminta bermain di pertunjukan ketoprak dengan peran sebagai Raden Panji Asmarabangun. Peran sebagai laki-laki inilah yang kemudian justru mengubah hidupnya lantaran ketika berada satu panggung bersama dengan Widuri yang memerankan Dewi Sekartaji. Selama ini Widuri hanya tertarik kepada sesama perempuan. Ketika saling bersentuhan, mereka sama-sama tergetar oleh naluri purba yang tiada disangka-sangka. Widuri jatuh cinta, begitu pula Parmin. Di sebuah penginapan, Widuri memasrahkan tubuh telanjangnya kepada Parmin, “aku tak akan mengelak kalau kau memperkosa aku Mas.” Parmin terpana.
  10. Cerita “Ande-ande Lumut” yang ditulis Ratna Indraswari Ibrahim (almh) bukanlah perihal persaingan para Klething dalam memerebutkan cinta sang jejaka bernama Ande-ande Lumut yang tak lain adalah Raden Panji Asmarabangun. Cerpen ini adalah monolog panjang seorang perempuan bernama Candra Kirana perihal bagaimana seharusnya berperan menjadi seorang isteri, yang tidak mau menjadi sekadar asesoris lelaki, sekadar memakai busana indah dan kenikmatan badani, namun juga harus terlibat dalam tugas kenegaraan, dan siap menjadi ibu bangsa. Candra Kirana, perempuan yang badannya berbau busuk itu, merenung panjang di tepi telaga. Kematian Dewi Anggraeni melintas di kepalanya, entah sebagai sebuah keniscayaan ataukah tumbal belaka? “Masuklah ke telaga ini Candra Kirana, agar kau kembali cantik dan wangi,” ujar Ande-ande Lumut.
  11. Dalam cerita aslinya, Panji Laras adalah nama anak Raden Panji Asmarabangun yang baru ketemu ayahnya ketika menjelang dewasa. Pertemuan Bapak – Anak itu terjadi lantaran adu jago, dimana ayam Panji Laras yang bernama Cinde Laras itu sanggup mengalahkan ayam milik Raja, sehingga terbukalah rahasia keluarganya. Tetapi M.S. Nugroho mengemasnya dengan versi berbeda dalam cerpen berjudul “Jago Untuk Presiden.” Dikisahkan, bahwa yang disebut Panji Laras adalah Satria Penyelaras. Raja Harmoni. Bapak keturunan Raja, ibu dari rakyat jelata, masih dipingit di lingkungan rakyat, namun akan moncer menuju istana. Dialah penyatu kutub positif dan negatif, seperti Yin dan Yang. Maka sebagai Panji Laras dia harus punya piandel, senjata pusaka tempaan langit dan bumi. Dan itu adalah seekor ayam jago, yang berasal dari telur ayam hutan merah yang bisa terbang dan telur itu dierami ular Sawa Kembang. Mirip penyatuan burung Hong dan Ular Naga. Maka tokoh kita berburu ayam jago itu, lantas menemukannya di sebuah arena adu ayam. Dia beli seratus juta, meski uangnya hanya 60 juta. Hutang. Ternyata, semua orang langsung bubar sehingga hanya dia yang ditangkap polisi dengan barang bukti seekor ayam jago. Tokoh kita mendekam di sel penjara. Ayam jagonya disembelih para sipir. “Jangan dibunuh. Jangan dibunuh. Itu pusaka Panji Laras.” Ayam itu berkelojotan dan melompat ke lapangan, terus mengepakkan sayapnya dan terbang bergelombang. Tanpa kepala.
  12. Dalam cerpen Gunawan Maryanto, Panji Laras adalah nama kapten kesebelasan sebuah klub sepakbola amatir dari kampung. PS Cinde Laras, itu namanya, yang sanggup melaju ke babak final Turnamen Piala Jenggala. PS Cinde Laras berhadapan dengan sang juara bertahan, PS Wadal Werdi. Ini adalah klub elit binaan Raja Suryawasesa, yang dimasa mudanya bernama Panji Asmarabangun. Pemuda Panji Laras adalah anak Timun Mas, perempuan yang pernah tersia-sia di hutan belantara dalam kondisi mengandung sehingga kemudian diangkat anak oleh Naya Genggong. Pertandingan antara kedua kesebelasan itu berlangsung sangat tegang. PS Cinde Laras ketinggalan 0-2 dari lawannya. Raja Jenggala dan permaisuri, Dewi Sekartaji, asyik bergembira-ria di kursi tribun. Pada saat-saat kritis itulah Walang Semirang yang mengawal Timun Mas mendekat dan menyiramkan air suci ke wajah sang Ratu. Maka terbukalah kedoknya, bahwa ternyata Sang Ratu adalah seorang raksasa yang menyamar menjadi Dewi Sekartaji. Jatidiri aslinya adalah Wadal Werdi. Justru Timun Mas-lah Dewi Sekartaji yang sejati. Maka raksasa jahat itupun dikeroyok penonton satu stadion sepakbola bagaikan pencopet yang tertangkap di pasar malam.
  13. Cerpen-cerpen lainnya, ada yang mengisahkan seorang gadis penulis kakawin bernama “Sri Tulis dari Lemah Tulis” yang tidak diakui karyanya oleh raja hanya karena semata-mata dia perempuan.
  • Ada cerita perihal “Jaka Tole” yang dipercaya lahir dari rembulan lantas menitis kepada seorang ibu, kemudian disusui seekor kerbau. Nama yang sama, adalah seorang pemuda yang ingin memastikan siapa ayahnya diantara sejumlah lelaki yang terlalu akrab dengan ibunya.
  • Atau kisah mahasiswi yang menjadi dalang kentrung di sebuah desa. Bertemu dengan Panji Kuncoro Hadi, penyair yang pernah jadi teman sekampus. Panji kemudian meminangnya, yang tanpa mereka ketahui, mereka sebetulnya pernah dijodohkan namun Panji menolaknya.
  • Sedangkan cerita “Panji dan Lebah Madu” adalah karya gadis kecil yang ketika dia menulis cerpen ini masih berusia 9 tahun, kelas empat Sekolah Dasar. Gaya berceritanya khas anak-anak, mengisahkan bahwa pada zaman dulu lebah madu memiliki kepala yang sangat besar.
  • Bahwa sosok Panji juga dicitrakan sebagai lelananging jagad dikisahkan dalam cerpen berjudul “Supadmi” perempuan dari abad 14, isteri seorang raja yang jatuh cinta pada pemuda idaman setiap wanita, bernama Gendam Smaradana.
  • Cerpen yang paling absurd, tentu saja karya Afrizal Malna: “Aku merasa sebagian dari pikiranku merahasiakan hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan, dan pikiranku tidak menyampaikannya. Aku seperti hidup dalam tubuh yang salah. Tubuh seorang raja. Tubuh yang dimuliakan, seperti meletakkan taik di atas singgasana emas.”
  1. Dari sepuluh cerpen dalam buku ini, tidak satupun yang benar-benar mengulang cerita Panji konvensional. Bahkan ada nama-nama yang sengaja dikacaukan dari teks aslinya, misalnya Panji Semirang sebagai nama lain Ande-ande Lumut, ada nama Timun Mas yang menjadi ibu Panji Laras, dan nama Cinde Laras yang semula nama seekor jago malah ditafsirkan menjadi nama klub sepakbola. Bahkan nama Panji itu sendiri tidak selalu seorang pangeran putera mahkota. Para penulis ini dengan sengaja mencomot sebuah teks dari konteksnya untuk diberikan konteks yang baru, sehingga terciptalah penafsiran yang baru pula. Malah ada beberapa cerita Panji konvensional yang dicampur-aduk menjadi satu cerita yang sama. Di sinilah transformasi itu.
  2. Meski demikian kesemua cerpen itu masih memuat substansi Cerita Panji seperti cinta kasih, penyatuan, pencarian gigih yang tak kenal lelah, pengelanaan, petualangan, penyamaran, keteladanan, kepahlawanan, kesucian dan sebagainya. Nilai-nilai itulah yang dapat ditangkap sehingga menjadi sebuah bekal untuk memasuki cerita-cerita Panji konvensional. Bagi mereka yang sudah mengenal cerita Panji konvensional mungkin sempat tergagap lantaran menghadapi penafsiran yang berbeda, namun sesungguhnya ini dapat memerkaya pemahaman terhadap Cerita Panji itu sendiri. Sementara bagi mereka yang belum mengenal cerita-cerita Panji konvensional mendapatkan sebuah pemahaman perihal esensi cerita Panji yang sesungguhnya.
  3. Last but not least. Kesepuluh cerita pendek ini merupakan sebuah upaya untuk mengolah Cerita Panji yang sudah ada sejak 700 (tujuh ratus) tahun yang lalu, menjadi menjadi pusaka budaya bangsa yang tetap relevan sampai kapanpun. Cerita Panji adalah Sumberdaya Budaya yang semakin digali tidak pernah bisa habis namun malah akan membuat kita semakin kaya. Majapahit pernah berjaya dengan Cerita Panji, jadi janganlah sekali-sekali kita tega untuk meninggalkan Panji. (*)

 

Bumi Jenggala, 21 November 2019.

 

BIODATA:

Henri Nurcahyo, lahir di Lamongan, 22 Januari 1959, pernah sekolah di UGM Yogyakarta. Pendidikan nonformal sosial budaya diperolehnya dari berbagai aktivitas dan kelembagaan. Pernah menjadi wartawan di beberapa media massa, penulis lepas, dan kini khusus menjadi penulis puluhan buku, termasuk beberapa judul buku tentang Budaya Panji. Dan juga menerbitkan buku-buku tentang Panji karya penulis lain. Pernah 10 kali juara lomba karya tulis, mendapat penghargaan Gubernur Jatim sebagai Penggerak Kesenian Bidang Penulisan. Sekarang menjadi pengurus Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jatim, Asesor Pengelola Tradisi Lisan, pendiri Pusat Konservasi Budaya Panji, TVPanji, dan mengajar matakuliah Kajian Panji di Universitas PGRI Adibuana (Unipa) Surabaya, disamping menjadi ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan. Sekarang sedang menyelesaikan program aplikasi Sejarah dan Cerita Panji Berbasis Android.

Kontak: 0812 3100 832 – email: henrinurcahyo2@gmail.com, website: budayapanjicom, brangwetan.com

Catatan:

Artikel ini merupakan makalah yang dipaparkan di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dalam seminar “Memory of the Word: Babad Diponegoro dan Cerita Panji”, Selasa, 3 Desember 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *