Peta Budaya Panji

Persebaran Budaya Panji

Peta Persebaran Budaya Panji
Peta Persebaran Budaya Panji

Pada mulanya adalah Cerita Panji, sebuah kisah roman antara Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji. Sebetulnya ini cerita biasa, sebagaimana banyak dongeng di berbagai daerah dan juga di belahan dunia lainnya. Yang kemudian menjadi menarik adalah, bahwa kisah roman itu ternyata bukan hanya berujud sastra lisan, melainkan juga menjadi bahan baku bagi sekian banyak seni pertunjukan. Sebagai sastra lisan saja, banyak sekali varian mengenai Cerita Panji, mulai dari kisah utama percintaan sepasang kekasih itu, sa

mpai dengan dongeng-dongeng lain yang dihubung-hubungkan dengan Cerita Panji.

Cerita Panji yang berkisah mengenai Kerajaan Kadiri ini berkembang pesat pada masa Majapahit. Cerita ini kemudian menyebar ke berbagai daerah, mulai dari Nusa Tenggara, Bali, hampir seluruh Jawa daerah-daerah di Sumatera, Kalimantan hingga kawasan semenanjung Melayu, Malaysia, Muangthai, Myanmar, Philipina dan sebagainya. Tanpa disadari akhirnya Cerita Panji menjadi semacam budaya tanding (counter culture) dari kisah besar dalam pewayangan, Ramayana dan Mahabarata. Poerbatjaraka berpandangan bahwa Cerita Panji merupakan revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India).

Dan yang lebih menarik lagi, ternyata ditemukan 20 (dua puluh) situs purbakala di Jawa Timur yang berkaitan dengan Cerita

Panji ini. bahkan, patung Panji itu sendiri pernah ditemukan di sebuah candi di lereng Penanggungan.

Maka berkembanglah sebuah asumsi, jangan-jangan Cerita Panji itu sendiri memang merupakan bagian dari sejarah. Tentu saja asumsi ini masih banyak biasnya, karena dalam berbagai kisah Panji sudah tercampur baur antara “Sejarah yang Didongengkan” dan “Dongeng yang Disejarahkan”. Tetapi mengkaji Cerita Panji dengan kacamata sejarah, tentu tidak ada salahnya.

Berangkat dari peta permasalahan terkait Cerita Panji yang sedemikian luas itu maka Cerita Panji bukan hanya dipandang sebagai sebuah karya seni belaka, melainkan dapat disebut sebagai “Budaya Panji”, karena di dalamnya ada kesenian (sastra, seni pertunjukan, seni rupa, seni tari), sejarah, arkeologi, filsafat, politik, bahkan terkait dengan aspek lingkungan hidup. Untuk itulah diperlukan langkah-langkah kongkrit agar potensi budaya yang berasal dari Jawa Timur ini dapat dilestarikan, dikenal makin meluas, dipahami generasi masa kini, dikembangkan, dan memberikan kontribusi kongkrit bagi pembangunan seni budaya bangsa. Bahwasanya diperlukan upaya untuk melakukan konservasi Bupaya Panji dalam pemahaman yang meluas, tidak hanya pelestarian secara statis belaka. Konservasi juga diberlakukan bagi karya-karya seni baru yang berbasis Cerita Panji sebagai bentuk kepedulian pengembangan Budaya Panji. Meski berbasis Budaya Panji di Jawa Timur, dalam perkembangannya program ini juga akan menyangkut daerah-daerah lain, bahkan Budaya Panji yang juga tersebar di mancanegara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *