Kronologi

Pusat Konservasi Budaya Panji, sebagai nama sebuah lembaga, digagas oleh Henri Nurcahyo.  Gagasan ini merupakan kelanjutan dari serangkaian aktivitas bertema Budaya Panji yang memikat seorang Henri untuk kemudian mengikuti dan mengembangkan lebih lanjut.

Pada mulanya berawal ketika berlangsung Pasamuan Budaya Panji di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman Trawas Mojokerto dan Candi Jalatunda tahun 2008. Pasamuan Budaya Panji di PPLH ini kemudian menghasilkan Rekomendasi Pasamuan Budaya Panji. Dalam acara yang didukung oleh Dewan Kesenian Jawa Timur (DK Jatim) itulah Ketua Bidang Program DK Jatim, Heri “Lentho” Prasetyo mendeklarasikan Konservasi Budaya Panji sebagai program DK Jatim yang mempercayakan kepada Henri Nurcahyo sebagai koordinatornya.

Acara itu sendiri merupakan kesinambungan dari Seminar Internasional Budaya Panji yang diselenggarakan di Universitas Merdeka Malang satu tahun sebelumnya (2007). Awal tahun 2009,  Dewan Kesenian Jawa Timur merealisasi program Konservasi Budaya Panji tersebut dengan secara khusus menggelar diskusi terbatas Bedah Panji di gedung Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya dengan mengundang sekitar 20 orang budayawan dan pemerhati Budaya Panji. Diskusi inipun kemudian menghasilkan Rekomendasi Budaya Panji yang dimaksudkan sebagai bahan acuan program Konservasi Budaya Panji selanjutnya.

Kumpulan makalah dalam Pasamuan Budaya Panji di PPLH Seloliman, diskusi terbatas di CCCL Surabaya, serta kontribusi artikel dari Lydia Kieven, arkeolog asal Jerman yang menulis disertasi mengenai Ceita Panji, kemudian dibukukan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur bekerjasama dengan penerbit Togamas dengan judul: “Konservasi Budaya Panji” (2009), editor Henri Nurcahyo.

Program Konservasi Budaya Panji, juga dilakukan oleh DK Jatim bekerjasama dengan TVRI Jawa Timur  dalam “Jagongan Budaya” di TVRI Jawa Timur yang membahas Budaya Panji sampai 3 (tiga) episode berturut-turut. Sayang dokumentasinya hanya sempat terselamatkan Jagongan Budaya edisi pertama dan edisi ketiga, sementara edisi kedua terlewat direkam oleh pihak TVRI.

Pada akhir tahun 2009 itu juga, Konservasi Budaya Panji diwujudkan dalam program Festival Budaya Panji selama dua hari di kompleks Perpustakaan Bung Karno dan Candi Penataran Blitar. Di lokasi yang disebut pertama itu digelar pameran wayang beber dan wayang klithik, pameran buku-buku tentang Panji, pergelaran beberapa kesenian berbasis Panji, serta juga diskusi Budaya Panji dengan makalah yang dibawakan pembicara Henricus Supriyanto. Keesokan harinya, di Candi Penataran digelar diskusi dan pementasan berbagai kesenian rakyat yang berbasis Cerita Panji, diantaranya: Kentrung Mbah Sumeh, Wayang Beber dengan dalang Purnawan (waktu itu siswa SMKN IX Surabaya), Jaranan Ketoprak, Macapat Panji, dan beberapa kesenian lainnya. Diskusi menghadirkan pembicara Prof. Aminudin Kasdi yang membawakan makalah.

Di kawasan Candi Penataran pula, tahun 2011 Dewan Kesenian Jawa Timur kembali menggelar Festival Seni Rupa Panji selama dua hari. Festival seni rupa ini dimaksudkan untuk mendekatkan kalangan pelukis/perupa terhadap keberadaan Candi Penataran sebagai inspirasi kreatif mereka. Namun ternyata yang sukses adalah penggalangan pelajar (SD hingga SMA), bahkan siswa Taman Kanak-kanak, yang melukis langsung di areal Candi Penataran. Mereka bebas menentukan bagian mana dari candi yang menjadi obyek lukisannya. Hasil lukisan terpilih, dipamerkan di Festival Panji yang diselenggarakan di Jombang beberapa waktu kemudian.

Lantaran program Konservasi Budaya Panji inilah maka Henri Nurcahyo kemudian diundang dalam pertemuan beberapa elemen kebudayaan di kantor Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN) di Jakarta untuk membentuk Jaringan Budaya Panji Nusantara. Henri Nurcahyo juga diundang menjadi narasumber berbicara Konservasi Budaya Panji di acara Srawung Budaya Panji (?) di Solo, juga dalam Srawung Seni Candi di Candi Sukuh, Karang Anyar. Kemudian pada festival Purnama Seruling Candi Penataran, Henri menjadi narasumber dalam festival yang diselenggarakan sehari sebelunya di pendopo Kabupaten Blitar.  Bahkan dalam pertemuan skala internasional, Henri juga menjadi pemateri dalam pertemuan di Museum Paduraksa di kompleks Candi Borobudur. 

Dari serangkaian  aktivitas itulah akhirnya program Konservasi Budaya Panji identik dengan seorang Henri Nurcahyo. Sementara Dewan Kesenian Jawa Timur sendiri malah kurang serius memikirkan kelanjutan program ini. Sampai akhirnya, kemudian Henri Nurcahyo mendeklarasikan hal itu menjadi sebuah lembaga tersendiri dengan nama “Pusat Konservasi Budaya Panji” dengan membangun website ini.

Begitulah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *