Cerita Panji yang Bahari

Kompas | 23 Januari 2016 – Oleh PURNAWAN ANDRA
12418010_10205034399488419_1195903480700139375_n
Indonesia adalah sebuah gambaran statistik keragaman luar biasa impresif: terdiri atas 13.000 lebih pulau yang tersebar di sepanjang kepulauan terbesar dunia serta dihuni lebih dari 204 juta penduduk dengan lebih dari 300 kelompok etnik, beragam agama, dan kelompok sosial.

Letak geografis menjadikannya sebagai negara tropis (dan kepulauan, bahari, maritim) dengan berbagai konsekuensi antropologis kehidupan penduduknya. Dahana (2010) menyebut kemampuan masyarakat maritim itu tak hanya berhasil mendistribusikan bahasa, teknologi, seni, dan tradisi lainnya hingga ke separuh dunia, bahkan telah menciptakan globalisasi untuk pertama kalinya di bumi ini. Suku Bajo dari Sulawesi, misalnya, adalah salah satu nomad-maritim tertua di dunia yang melihat laut sebagai rumah/kampung dan daratan sebagai rantau.

Anthony Read dalam bukunya, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga (1990), juga membuktikan bahwa Nusantara pada zaman itu merupakan masyarakat berkebudayaan modern yang mempunyai banyak unsur modernitas. Read bahkan melengkapinya dengan data yang menggambarkan kemakmuran dan otonomitas masyarakat Nusantara masa lalu.

Masyarakat Nusantara diikat oleh satu kesatuan primordialisme budaya yang disebarkan atau dirangkai-jahitkan para pelayar Nusantara yang terdiri dari kaum pedagang, penyebar agama, dan pendekar bangsawan pengembara. Kaum Eropa menyebutnya sebagai “bajak laut” sehingga kini masuk kosakata bahasa Inggris sebagai “The Bogey” atau “Bogeyman” yang berarti ‘hantu laut atau bajak laut’ yang mengacu pada suku bangsa “Bugis” (Daery, 2011). Peran pedagang-pelayar-penyebar agama-bangsawan pendekar pengembara itu membuat Nusantara yang terpisah satu dari lainnya karena laut menjadi “kesatuan budaya” dalam “nilai-nilai modernitas” yang tak ada jarak.

Adrian Vickers (2009) membuktikannya dengan simbol-simbol perahu di kain tenun tapis Lampung dengan lukisan “tradisional” Bali yang sama dan senada menggambarkan migrasi kelautan. Simbolisme kapal dalam kebudayaan kita, lazimnya dalam bentuk peti mati atau sarkofagus, memang digunakan di sejumlah daerah Indonesia (seperti Marapu, Lombok, dan Bali) untuk mempresentasikan perjalanan jiwa, gerak menempuh babak-babak kehidupan.

Wawasan Asia Tenggara
Dinamika masyarakat maritim Nusantara ini tentu membawa dan mengembangkan juga kultur yang pluralistik, terbuka, egaliter, dan kosmopolit. Dalam catatan, sejarah negeri ini berawal dari kerajaan yang berada di dekat laut dan memiliki bandar. Begitu menariknya kehidupan di pantai hingga Vickers menyebutnya sebagai sebuah entitas yang menyediakan wawasan tentang peradaban khas Asia Tenggara.

Hal ini terwujud dalam teknologi, cara pikir, pola perilaku, hingga sistem-sistem kepercayaan dan bermasyarakat yang diterapkannya (hukum, ekonomi, politik, dan diplomasi). Terdapat mata rantai perdagangan, pertukaran intelektual, pergerakan manusia, pergerakan motif-motif dan bentuk-bentuk kesusastraan dan kesenian yang menyediakan wawasan tentang peradaban khas Asia Tenggara.

Ekspansi kebudayaan Nusantara juga dibuktikan oleh Th Pigeaud, filolog Belanda yang mengidentifikasi mengenai sastra pesisir. Istilah ini digunakan dalam aktivitas penyebaran sastra terkait kebangkitan kerajaan Islam yang memiliki bandar-bandar besar di Jawa (Surabaya-Gresik, Demak-Jepara, dan Cirebon-Banten). Dari pusat-pusat ini sastra pesisir menyebar ke Lombok, Palembang, Lampung, Banjarmasin, Aceh, hingga ke Campa, Kamboja, Filipina. Lebih jauh, ia menemukan banyak sastra Melayu yang juga bagian dari kompleks kesusatraan pesisir. Dalam bermacam-macam konteks dan bahasa, satu jenis narasi yang terus muncul sebagai contoh sastra pesisir adalah cerita Panji.

Panji yang bahari

Roman cerita Panji, Pangeran Jawa dari Kahuripan, adalah kisah asli Jawa Timur, bukan cerita adaptasi India seperti Ramayana dan Mahabharata. Cerita yang berkisah mengenai Kerajaan Kadiri ini berkembang pesat pada masa Majapahit. Di Jawa Timur, ada lebih dari 20 situs purbakala terkait dengan cerita ini.

Menurut Purbatjaraka, awalnya, cerita Panji ditulis sebagai sastra kidung dalam bahasa Jawa Tengahan yang dalam perkembangannya ditulis dalam bahasa Jawa Baru berbentuk macapat. Di Sumatera, dikenal antara lain cerita Panji Angreni, Hikayat Raja Kuripan, dan Hikayat Rangga Rari yang menggunakan bahasa Melayu. Catatan lain menyebutkan, di Thailand ada cerita Panji berjudul Dalang (Inau Yay) dan Inau (Inau Lek). Di Myanmar, terdapat cerita Panji berjudul Ienaungzat yang ditulis seorang menteri Negara Raja Bodawhpaya.

Panji adalah cerita tentang budaya Indonesia. Teks-teks ini menguraikan pola-pola aktivitas yang mengatur kehidupan rakyat. Cerita Panji juga bisa dibaca sebagai sumber pengetahuan kebudayaan Nusantara dalam aktivitas artistik. Di dalamnya ada kesenian (sastra, seni pertunjukan, seni rupa, seni tari), bahkan ilmu-ilmu dalam kategori sejarah, arkeologi, filsafat, politik, bahkan terkait lingkungan hidup.

Narasi Panji, sebagai bagian dari proses produksi peradaban pesisir, menyediakan struktur logika berupa kearifan lokal yang kontekstual terhadap perubahan dan keragaman. Cerita Panji menguatkan posisi kebaharian Nusantara.
Bahkan, lebih jauh, Panji bisa berposisi sebagai ideal-type atau proto-type dari apa yang kita sebut sebagai Indonesia, orang Indonesia yang bahari, berbasis adat dan adab primordialnya. Di dalamnya, terdapat karakteristik kebahariaan yang menjelma dalam wujud manusia. Manusia kosmopolit, petualang, egaliter, terbuka (pikiran dan hati), akseptan, multikultural, dan semua karakter atau sifat terbaik yang dibutuhkan manusia dan kelompoknya.

Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis melalui kebudayaan untuk merevitalisasi diri sebagai bangsa bahari. Sosok dan konsep pemikiran cerita Panji bisa menjadi refleksi mutakhir yang relevan dengan kondisi kekinian. Ia tak hanya romantisisme imaji dan narasi, tetapi juga basis logika yang membuka ruang pemaknaan. Hal ini penting untuk merumuskan rancangan strategi kultural masa depan bangsa yang lebih cemerlang dan bermartabat.

PURNAWAN ANDRA ALUMNUS JURUSAN TARI ISI SURAKARTA

(artikel ini dimuat di Harian Kompas, 23 Januari 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *