Relevansi Cerita Panji dengan Hari Valentin

Oleh
HENRI NURCAHYO

Setiap tanggal 14 Februari banyak orang merayakan Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang. Hari Valentin umumnya dirayakan dengan orang-orang tercinta, menghabiskan waktu bersama, dan bertukar hadiah ataupun mengirimkan ucapan dan hadiah coklat atau buket bunga sebagai ungkapan kasih sayang. Tidak banyak yang mau tahu usulnya, pokoknya sayang-sayangan saja. Padahal, kalau hanya itu yang dipahami, mengapa tidak mengacu pada Cerita Panji?


Tradisi Hari Valentin berawal dari Kaisar Claudius II yang melarang semua bentuk pernikahan serta pertunangan yang ada pada Roma, karena dianggap menghambat semangat peperangan. Namun seorang pendeta bernama Valentine membangkang dengan cara tetap menikahkan pasangan muda. Akibatnya, pendeta itu ditahan, dihukum, tubuhnya dipukuli hingga dipancung. Hukuman yang terjadi pada tahun 278 Masehi inilah yang kemudian ditandai sebagai peringatan atau perayaan yang dilakukan setiap tanggal 14 Februari dengan Valentine’s Day.

Sedangkan Cerita Panji justru merupakan legenda klasik asli nusantara yang mengisahkan romantisme percintaan antara Raden Panji Asmarabangun dari kerajaan Janggala dan Dewi Sekartaji atau Candrakirana dari kerajaan Kadiri. Kisah cinta mereka tidak berlangsung mulus, penuh halangan dan rintangan, petualangan dan penyamaran, hingga akhirnya kedua insan yang sudah dijodohkan sejak kecil itu dapat memersatukan dua kerajaan yang turun temurun berseteru.

Cerita Panji adalah sebuah pusaka budaya nusantara yang diabadikan dalam banyak dongeng, naskah-naskah kuno, cerita-cerita dalam berbagai seni pertunjukan dan tarian, digoreskan menjadi motif batik, bahkan diabadikan dalam relief di belasan candi di Jawa Timur. Cerita Panji yang berasal dari Jawa Timur menyebar ke seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, seluruh Sumatera hingga semenanjung Melayu, bahkan lebih populer di Malaysia, Kamboja dan Thailand. Tidak kenal Cerita Panji? Dongeng Ande-ande Lumut hanyalah salah satu contohnya saja.

Dalam dongeng tersebut digambarkan bahwa jejaka yang bernama Ande-ande Lumut itu menolak lamaran para gadis cantik memesona bernama Kleting Abang, Biru dan Hijau namun malah menerima lamaran Kleting Kuning yang berdandan buruk rupa dan berbau busuk. Hal ini karena Ande-ande Lumut tahu bahwa Kleting Kuning sesungguhnya adalah Dewi Sekartaji yang menyamar, sebagaimana Ande-ande Lumut sendiri adalah samaran dari Raden Panji Asmarabangun. Cinta sejati sepasang kekasih ini akhirnya happy ending, sebagaimana ratusan versi Cerita Panji lainnya. Bandingkan dengan roman Romeo Yuliet, Bangsacara Ragapadmi, Sangkuriang dan banyak kisah cinta lainnya yang selalu berakhir tragedi.
Sedemikian berharganya Cerita Panji sehingga dinyatakan sebagai Memory of the World (MoW) oleh UNESCO atas keberadaan ratusan naskahnya yang disimpan di Perpusnas Indonesia, Malaysia, Kamboja, Belanda dan Inggris.

Penetapan ini menambah jumlah MoW yang sudah didapatkan Indonesia yaitu Arsip-arsip Dutch East India Company – VOC (2003), Naskah I La Galigo (2011), Naskah Babad Diponegoro (2013), kitab Negara Krtagama (2013) dan Arsip-arsip Konferensi Asia Afrika (2015). Bahkan bersamaan dengan ditetapkannya Cerita Panji sebagai MoW sebetulnya tahun 2017 Unesco juga menetapkan Arsip-arsip Konservasi Borobudur dan Arsip-arsip Tsunami di Samudra Hindia.

Mengapa Cerita Panji masih juga belum populer di masyarakat? Bahkan Cerita Panji ternyata masih kalah populer dengan Mahabarata atau Ramayana justru di tanah Jawa sendiri yang merupakan tempat kelahirannya. Lihat saja dalam budaya Jawa ada tradisi mitoni yaitu ritual memeringati kehamilan usia 7 (tujuh) bulan dengan melukiskan sosok Raden Kamajaya dan Dewi Ratih pada dua buah cengkir gading (kelapa muda berwarna kuning). Harapannya, kalau nantinya anak yang terlahir laki-laki akan setampan Raden Kamajaya dan kalau perempuan secantik Dewi Ratih. Tetapi sepasang kekasih ini kadang juga dimaknai sebagai gambaran Raden Arjuna dan Dewi Sembadra. Sayang sekali belum pernah ada yang mengaitkan lukisan sepasang kekasih di kelapa muda itu dengan pasangan Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji.

Jika Valentine’s Day memang berasal dari sejarah maka Cerita Panji memang sepenuhnya fiksi namun terkait erat dengan peristiwa sejarah. Meminjam istilah Soenarto Timoer, maka Cerita Panji dapat disebut “dongeng yang disejarahkan.” Selintas memang seperti fakta sejarah namun sesungguhnya murni fiksi sebagaimana Mahabarata dan Ramayana. Tetapi Cerita Panji justru menjadi budaya tanding terhadap epos besar dari India itu pada zaman Majapahit. Dilukiskannya belasan relief di candi-candi di Jawa Timur yang semuanya dibangun menjelang akhir masa Majapahit adalah bukti kongkrit yang sulit dibantah.

Jadi bukanlah hal yang mengada-ada manakala mengaitkan Hari Valentin dengan Cerita Panji. Senyampang hari-hari ini masyarakat, khususnya kaum muda, merayakan Hari Kasih Sayang yang mengacu pada peristiwa dipancungnya pendeta Valentine di tanah Romawi maka sesungguhnya inilah momen yang tepat untuk mengenalkan kembali bahwa bangsa kita memiliki pusaka budaya yang tak ternilai harganya. Akankah pusaka budaya nusantara ini malah lebih dihargai di Thailand ketimbang di tanah kelahirannya sendiri?

Merayakan Hari Valentin di Indonesia boleh dikatakan masih relatif baru. Hal ini tidak terlepas dari semangat bisnis yang menyertainya. Popularitas Hari Valentin digebyar sedemikian rupa sehingga memunculkan peluang bisnis yang meriah. Dalam kaidah dagang hal ini memang lumrah, yaitu memopulerkan sesuatu sebagai bagian dari keseharian lantas ditunggangi dengan penyediaan komoditasnya. “Ungkapkanlah rasa kasih sayangmu dengan cara memberikan hadiah bagi pasanganmu pada Hari Valentin, kami sediakan berbagai bentuk produknya,” kira-kira begitulah promosinya sehingga coklat, bunga buket, kartu nama (dulu), aneka kue dan cenderamata, parcel cincin dan kalung, boneka dan juga kaos dengan tema Valentin menjadi laris manis.

Hal itu sebetulnya biasa saja dalam dunia dagang. Seperti juga halnya kampanye busana muslimah dan jilbab yang kemudian disertai bisnisnya. Berdakwah perihal pentingnya umrah yang disertai tawaran paket wisatanya. Bahwasanya bisnis itu dimulai dengan kampanye budaya sehingga konsumen merasakan ada yang kurang manakala tidak mengikutinya. Komoditas yang diperdagangkan bahkan bukan menjadi kebutuhan namun sudah direkayasa sedemikian rupa menjadi kebutuhan baru. Itulah strategi menciptakan pasar.

Analog dengan hal itu maka Cerita Panji tidak akan populer manakala tidak disertai dengan produk ekonomi kreatif. Mementaskan seni pertunjukan dengan tema Panji adalah salah satu caranya agar orang diingatkan kembali perihal makna kasih sayang sebagaimana disampaikan dalam Cerita Panji. Bukan harus dikaitkan dengan kisah pemancungan seorang pendeta bernama Valentine di zaman Romawi. Kalau pada zaman Majapahit Cerita Panji dipopulerkan kembali untuk menandingi budaya asing (India), mengapa sekarang ini Cerita Panji tidak menjadi alternatif budaya mancanegara yang bernama Valentine’s Day?

Cerita Panji adalah pusaka leluhur nusantara yang masih tetap relevan bagi kehidupan sekarang dan masa mendatang. Karena itu diperlukan transformasi (perubahan) dalam hal bentuk (format), waktu, pelaku, setting dan jalan cerita serta penafsirannya dengan tetap mengacu ada substansi Cerita Panji. Cerita Panji tidaklah harus terkait dengan masa lalu dan menjadi klangenan belaka. Cerita Panji juga dapat ditransformasi menjadi kekinian. Spirit Cerita Panji dapat menjadi inspirasi karya sastra kontemporer. Apalagi selama ini sudah gencar dilakukan kampanye untuk peduli terhadap Budaya Panji dan bagaimana menjadikannya sebagai bahan baku proses kreativitas masa kini.
Selamat Hari Kasih Sayang, salam Panji dan Sekartaji. (*)

Penulis adalah inisiator Pusat Konservasi Budaya Panji

(Dalam versi ringkas artikel ini dimuat di Jawa Pos tangggal 15 Februari 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *