Dirjen Kebudayaan: Cerita Panji Bisa Kalahkan Drakor

JAKARTA: Cerita Panji yang berkelana adalah asli Asia Tenggara. Bukan pinjam dari India atau Cina. Dan itu ada di Jawa, Bali, Thailand, Malaysia, Kamboja dan sebagainya. Bisa dibayangkan kalau hal ini dijadikan sebagai landasan untuk banyak hal, misalnya bicara tentang produk-produk kreatif, akan menjadi hal yang luar biasa. Kalau hal ini diurus dengan benar dan professional dengan cara penyampaiannya yang juga bagus maka drakor-drakor (drama Korea) saja lewat.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid, PhD, menyampaikan hal itu ketika membuka acara Peluncuran Buku “Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan” yang diterbitkan oleh Asosiasi Tradisi Lisan bekerjasama dengan Media Indonesia, Selasa siang (16/2). Buku tersebut berisi kumpulan artikel dari 15 penulis yang pernah dimuat di rubrik Khasanah Harian Media Indonesia namun sudah ditulis ulang dan diperkaya oleh para penulisnya.

Dalam acara yang dilangsungkan secara daring itu hadir sebagai narasumber adalah Gaudensius Suhardi (Direktur Pemberitaan Media Indonesia) dan Pudentia MPSS (Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan Pusat) dengan  moderator Ade Alawi (Deputi Direktur Media Indonesia).

Selanjutnya Hilmar mengatakan, mengurus Cerita Panji itu tadi bisa dilakukan dengan kolaborasi se-Asia Tenggara karena mereka masing-masing sudah punya ceritanya. Sementara drakor harus dibangun dari atas, dibantu dengan produk macam-macam, dengan gadget dan seterusnya, baru bisa nyampai. Sementara ini (Cerita Panji) sudah hidup dalam masyarakat.

Karena itu menurut lelaki yang juga sejarawan itu, kata kunci dari semua ini adalah inovasi. Dengan kesadaran bahwa apa yang kita anggap tradisi sekarang sebetulnya merupakan inovasi di masa lalu. Ketika berhadapan dengan macam-macam situasi dan keterbatasan yang dihadapkan oleh alam dan seterusnya, maka manusia mencari jalan melakukan inovasi. Dalam perjalanan itulah ia membentuk kebudayaan, tradisi, dan seterusnya. Seperti baju batik misalnya, seratus tahun yang lalu tidak terbayangkan batik dapat dibuat menjadi baju. Batik hanya digunakan sebagai (busana) bawahan seperti kain panjang, bukan kemeja.  Tetapi dalam perjalanannya muncul gagasan “wah keren juga ya kalau dijadikan baju”.  Maka sekarang mengenakan baju batik sudah menjadi pakaian resmi dan menjadi tradisi.

“Kalau kita berpikir dalam kerangka yang sama terhadap begitu banyak tradisi yang kita miliki, saya percaya bahwa ini bisa jadi landasan kekuatan ekonomi, sosial, kultural, yang tidak kecil,” tegas Hilmar.

Dalam paparan sebelumnya Hilmar menjelaskan bahwa yang namanya tradisi itu sebenarnya merupakan kekuatan yang besar sekali namun sehari-hari tidak begitu terlihat. Bahkan cenderung diabaikan, padahal memiliki daya yang luar biasa dalam segala hal, yaitu sosial, ekonomi dan tentunya juga kultural. Dengan tradisi ini kita bicara tentang identitas, ketahanan budaya, bahkan dalam situasi pandemi sekarang ini, seandainya komunikasi publik kita bersandar kepada tradisi lisan maka akan jauh lebih efektif ketimbang pengumuman yang sifatnya formal, ceramah atau pidato pejabat, malah kurang mengena. Tetapi kalau masuk dalam ranah tradisi lisan maka akan segera bisa menggerakkan kesadaran publik yang luar biasa. Itu secara sosial.

Sedangkan secara ekonomi, satu hal yang belakangan ini mulai dikembangkan secara lebih mendalam yaitu tradisi lisan sebagai kekayaan intelektual. Calon Arang misalnya, bisa dan sudah diolah menjadi film. Jadi turunan dari tradisi lisan ini luar biasa sekali. Secara ekonomi ini tidak kecil. Sekarang memang masih under estimate, tradisi itu lebih banyak mendatangkan biaya. Itu tergantung bagaimana cara pengelolaannya.

Dicontohkannya, “Superman” di Amerika yang dibuat tahun 1937 itu tidak ada tradisinya. Tidak bisa dirunut balik ke belakang. Sementara kita punya cerita-cerita yang umurnya sudah seribu dua ratus tahun. Lebih dari satu millenium. Jadi sebenarnya sudah besar landasannya, tinggal sekarang bagaimana caranya kita mengelola semua kekayaan yang kita miliki.

Karena itu untuk pengembangannya dibutuhan banyak kajian tentang tradisi lisan. Hanya sayangnya sumberdayanya terbatas, karena biasanya lebih banyak yang perhatian pada hard sciences. Tidak terlalu banyak orang yang secara spesifik memelajarinya. Tetapi pada saat yang bersamaan (tradisi lisan) juga hidup dalam masyarakat dan  dipraktekkan serta dilestarikan dengan berbagai macam cara tanpa orang memiliki kesadaran tentang pentingnya pelestarian. Mereka sudah menjadikan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bahwasanya tradisi itu bukan sesuatu yang berhenti. Bukan sesuatu yang mati. Beda dengan cagar budaya misalnya. Borobudur ketika ditemukan sudah tidak digunakan. Sementara di sini kita berhadapan dengan sesuatu yang sangat dinamis. Berubah bentuk dari waktu ke waktu. Maka bermodalkan pemikiran seperti itu, kalau dulu kita memiliki sejarah yang berbeda dengan sekarang maka ke depan juga akan mengalami perubahan. Itulah poin yang sangat penting dari tradisi lisan. (hnr)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *