Cerita Panji yang Berkembang Melintasi Negeri

Oleh Henri Nurcahyo

SECARA garis besar Cerita Panji mengisahkan percintaan antara Raden Panji Inu Kertapati dari kerajaan Jenggala dengan Dewi Sekartaji dari kerajaan Kadiri. Sepasang anak manusia itu memang sudah dijodohkan sejak kecil karena orangtua mereka menginginkan kedua kerajaan itu kembali menyatu sebagaimana asal usulnya dahulu kala. Kalau sebelumnya kedua kerajaan itu selalu bermusuhan maka kali ini sudah saatnya mengakhiri permusuhan itu dengan cara melakukan perkawinan politik, yaitu saling berbesanan diantara dua raja yang sebetulnya memang masih memiliki hubungan saudara.

Tetapi Cerita Panji bukan sebuah kisah tunggal seperti Mahabarata dan Ramayana yang sampai beranak pinak menjadi sekian banyak cerita lain namun masih dapat dirunut kesinambungannya. Cerita Panji justru berdiri sendiri dan tidak ada kaitan sama sekali antara satu versi dengan versi yang lainnya. Ada banyak sekali versi Cerita Panji. Bisa  ratusan jumlahnya karena terus berkembang.

Membandingkan cerita Panji yang satu dengan yang lainnya mendapatkan kesan bahwa para pencerita itu mencoba mengisahkan sumber yang sama namun dengan caranya sendiri. Hal inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya perbedaan perspektif satu pencerita dengan pencerita lainnya. Apalagi ketika kemudian Cerita Panji menyebar ke berbagai daerah bahkan ke mancanegara maka perbedaan perspektif itu menjadi semakin melebar dengan dimasukkannya unsur-unsur lokal di daerah setempat. Ada perubahan nama-nama pelaku dan nama tempat yang disesuaikan dengan daerah atau negara yang bersangkutan.

Kisah Panji Kamboja adalah contoh jelas bagaimana perubahan nama itu. Seperti juga di Thailand, Cerita Panji Kamboja dinamakan Cerita Inao atau Eynao dan Bossaba. Sebagaimana yang dicermati Poerbatjaraka, Eynao adalah nama lain dari Inu atau Hino, sebuah nama atau gelar Panji. Sedangkan Bossaba, puteri raja Daha, merupakan pergeseran penyebutan dari Puspa yang berarti sekar (Jw) atau bunga. Dengan demikian Bossaba adalah Sekartaji.

Nama kerajaan Gegelang diubah menjadi Kalang, Lasem menjadi Lassan, Onengan menjadi Onacan, Batara Kala menjadi Pattarac-cala, Singasari menjadi Sanghat-sarey, Wuragil Kuning (Ragil Kuning) menjadi Vorot-kenlong, dan sebagainya.

Sedangkan di Thailand, sebagaimana disampaikan Rujaya Abhakorn, direktur Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Archaeology and Fine Arts (SEAMEO SPAFA), Kisah Panji pertama kali disusun oleh dua putri Raja Borommakot (1733-1758) dari Ayutthaya. Kedua putri itu mendapatkan Kisah Panji versi Jawa lewat pelayan mereka yang berasal dari tanah Melayu. Masing-masing putri kemudian menyusun cerita versi mereka sendiri ke dalam dua bentuk yang digunakan untuk drama tari, yaitu Dalang dan Inao. Cerita Panji hampir berkompetisi dengan kisah Ramayana. Adegan percintaan selalu lebih menarik dibanding adegan peperangan melawan kera dan raksasa.

Raja Rama I (1782-1809) dari Dinasti Chakri kemudian merevisi cerita Dalang. Sementara putranya, Rama II (1809-1824) memopulerkan cerita Inao. Inao kemudian lebih populer dibanding Dalang bahkan dianggap sebagai karya agung puisi Thailand, terutama sebagai teks lakon (sendratari).

“Menurut para peneliti di Thailand, teks Hikayat Panji Semirang adalah sumber dari kisah Dalang,” lanjut Rujaya dalam Seminar Internasional Panji/Inao, di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, 2018.

Dalam forum yang sama, Thaneerat Jatuthasri, peneliti dari Chulalongkorn University menambahkan, Kisah Panji versi Thailand kian populer sebagai pementasan Lakhon Nai, yaitu tarian hiburan di istana yang umumnya ditampilkan oleh penari perempuan. Tariannya berdasarkan empat cerita Ramakien, Unarut, Dalang, dan Inao, yang terdiri dari musik, tari, dan drama. Narasinya dinyanyikan dengan lagu tradisional. Beberapa peneliti Thailand menduga kata ‘Lakhon’ juga pengaruh Jawa dari kata ‘Lakon’ dalam istilah pewayangan atau sendratari.

Thaneerat menjelaskan masa keemasan Lakhon Nai Inao pada era Rama II. Sang Raja memilih Kisah Panji karena plot dan temanya dapat diterima secara universal. Potret dua tokoh utamanya pun cocok dengan tradisi Lakhon Nai. Inao telah menjadi inspirasi terciptanya banyak karya sastra dan seni. Dalam penyajiannya, plot dan cerita Inao tak beda jauh dengan Kisah Panji Jawa. Hanya saja, pasangan Inao di sana bernama Butsaba.

Karakter Inao juga sama dengan Kisah Panji: tokoh heroik tampan sempurna, ksatria besar, menarik di hadapan perempuan, dan petualang. Dalam penyamarannya dia dikenal sebagai Panyi (memang huruf y, bukan j. hn). Beberapa aspek budaya Jawa lainnya yang ada dalam Kisah Panji Thailand yaitu ritual di gunung suci, ritual bela atau sati, kebiasaan tokoh menggunakan keris, sabuk, menonton wayang, dan penggunaan istilah-istilah Jawa.[1]

Ciri-ciri Cerita Panji

Dinamakan Cerita Panji karena yang menjadi tokoh utama adalah sosok laki-laki bernama Panji. Tetapi Panji adalah sebuah gelar kebangsawanan sehingga Cerita Panji berkisar pada kisah kekesatriaan sebagaimana digambarkan sebagai sifat trah bangsawan. Tetapi tidak semua cerita yang mengisahkan tokoh bernama Panji adalah termasuk Cerita Panji manakala tidak ada unsur kekesatriaan atau kebangsawanan. Sedangkan cerita yang berkisah perihal kekesatriaan bisa jadi merupakan Cerita Panji meski tidak ada tokoh bernama Panji.

Batasan mengenai Cerita Panji ini bisa jadi sangat longgar karena Cerita Panji merupakan tradisi lisan yang berkembang di tengah khalayak tanpa ada acuan yang baku. Apalagi Cerita Panji bukanlah diciptakan oleh seseorang yang sudah jelas namanya. Cerita Panji adalah kisah anonim yang berkembang dan beranak pinak ratusan tahun lamanya. Dalam hal ini ada sedikit pengecualian karena kemudian ditemukan ada Cerita Panji yang menyebut nama penulis atau penggubahnya. Misalnya saja Kitab Panji Jayeng Tilam ternyata ditulis dalam bahasa Jawa oleh Pujangga Raden Ngabehi Ronggowarsito.  Serat Panji Balitar juga menyantumkan nama penulisnya yaitu Raden Panji Partakusuma.

Selain aspek kekesatriaan, Cerita Panji memiliki pola penyatuan kedua belah pihak, atau bahkan beberapa pihak. Bukan sekadar antara laki-laki dan perempuan. Bahkan menurut Prof. Nooriah Mohamed, kebersatuan itu bisa juga bermakna Manunggaling Kawula lan Gusti (bersatunya makhluk dan penciptanya).  Namun dengan kebersatuan itu tidak lantas persoalan menjadi selesai melainkan justru merupakan awal dari sebuah perjalanan yang baru.

Itu sebabnya kebersatuan dalam Cerita Panji biasanya ditandai dengan bertemunya Dewi Sekartaji dan Raden Inu Kertapati yang kemudian melangsungkan pernikahan. Semua Cerita Panji selalu berakhir dengan happy ending. Inilah yang membedakan dengan cerita-cerita lain yang bertema percintaan seperti Bangsacara–Ragapadmi, Rara Mendut, Jayaprana–Layonsari, bahkan juga Romeo–Yuliet. Dan yang namanya pernikahan adalah sebuah akhir yang sekaligus menjadi awal. Pernikahan adalah akhir dari masa membujang namun memasuki fase baru yaitu masa berumahtangga. Makanya ucapan yang disampaikan kepada pengantin adalah “selamat menempuh hidup baru.”

Cerita Panji yang  berada “di luar kelaziman” oleh Th. G. Th. Pigeud (1967-1970, I: 209) disebut dengan “Cerita Panji Minor (Minor Panji Romance)’. Sebagaimana dikutip oleh M. Dwi Cahyono, cerita Panji Minor biasanya tidak ditokohsentrali oleh Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji, dan juga tidak berlatar sejarah Jenggala-Pangjalu. Dalam hal ini Cerita Panji Margasmara digolongkan dengan Cerita Panji Minor. Demikian pula cerita Sri Tanjung.

Ciri khas Cerita Panji adalah terlalu sering melakukan penyamaran. Baik Raden Panji Inu Kertapati maupun Dewi Sekartaji masing-masing berulangkali berganti nama untuk menyamarkan jatidirinya. Demikian pula para pengikutnya.  Karena sama-sama menyamar inilah maka ketika Raden Panji sudah bertemu muka dengan Sekartaji ternyata keduanya tidak menyadari bahwa mereka sudah saling mengenal dan justru saling mencari. Meski ada kalanya Dewi Sekartaji menyadari bahwa lelaki di hadapannya adalah Raden Panji yang mencarinya namun Sekartaji tidak mau mengakui jatidirinya.

Lantaran berulangkali berganti nama inilah maka mengikuti Cerita Panji yang asli tentu membingungkan karena harus menghapal nama-nama samaran tersebut agar tidak kehilangan jejak. Dalam buku “Cerita Pandji Dalam Perbandingan” yang ditulis Poerbatjaraka dapat diketahui betapa banyak nama-nama samaran yang digunakan oleh Panji maupun Sekartaji sehingga cukup membingungkan mengikutinya. Termasuk, membedakan mana nama untuk tokoh perempuan atau laki-laki. Karena Cerita Panji menjadi identik dengan penyamaran itulah yang kemudian banyak dibawakan dalam seni pertunjukan topeng.

Dalam berbagai Cerita Panji penyamaran dilakukan untuk menyembunyikan identitas aslinya agar dapat menyatu dengan situasi yang baru. Misalnya saja Raden Panji pernah menyamar sebagai pengamen bernama Jaka Kembang Kuning. Dalam kisah yang lain Panji juga pernah menyamar sebagai petani yang buruk rupa bersuara sengau dengan bibir yang sumbing. Dalam dongeng Ande-ande Lumut lelaki Panji menyamar sebagai anak seorang janda.  Sedangkan perempuan berpenampilan lusuh bernama Klenthing Kuning itu ternyata Dewi Sekartaji yang sedang menyamar. Lelaki perkasa yang dikenal sebagai “perampok budiman” bernama Panji Semirang ternyata adalah Dewi Sekartaji yang menyamar. Masih banyak contoh yang lainnya.

Bentuk penyamaran itu dalam Cerita Panji nampaknya bukan sekadar berganti busana belaka melainkan penyamaran sempurna karena keterlibatan Dewa. “Kita bisa menemukan metamorfosis, penyamaran, bahkan perubahan gender, di samping segala kejadian ajaib,” kata Roger Tol dari KITLV dalam seminar nasional Panji di Perpusnas Jakarta (2018). Peranan Dewa inilah yang memungkinkan tokoh yang sudah mati bisa dihidupkan kembali.

Benang merah yang dapat ditarik dari berbagai penyamaran itu salah satunya adalah bahwa meskipun Raden Panji dan Dewi Sekartaji sama-sama putera-puteri mahkota dari kerajaan namun mereka tidak rikuh bergaul dengan rakyat jelata. Kebangsawanan Panji dan Sekartaji tidaklah menjadikan mereka berjarak dengan rakyat kebanyakan. Karena itulah meski Cerita Panji mengisahkan putera-puteri kerajaan namun justru menjadi cerita rakyat yang populer. Hampir semua Cerita Panji mengisahkan ketika Raden Panji dan Sekartaji justru ketika mereka sedang menyamar sebagai rakyat biasa. Alhasil Cerita Panji bukan menjadi cerita kerajaan melainkan berkembang sebagai dongeng rakyat.

Pada dasarnya pola Cerita Panji relatif tetap, yaitu perpisahan, pencarian, petualangan, pengelanaan, penyamaran, peperangan hingga akhirnya bersatu dalam sebuah pernikahan. Karena itu ketika Cerita Panji dibawakan dalam sebuah pertunjukan maka penonton sudah bisa menebak akhir cerita dari pertunjukan tersebut. Tetapi ketika Cerita Panji dibawakan sebagai lakon dalam Wayang Arja yang sangat populer di Bali maka sang dalang tidak mau ceritanya ditebak penonton. Bagaimanapun masyarakat Bali memang sudah akrab dengan Cerita Panji. Sebagaimana disampaikan oleh I Wayan Dibia, yang kemudian dilakukan oleh dalang adalah bagaimana mengisi perjalanan cerita itu di tengah-tengahnya sehingga penonton tidak dapat menebak apa yang terjadi sebelum Panji dan Sekartaji dipersatukan. Dengan demikian maka lahirlah Cerita-cerita Panji versi baru di Bali yang terus menerus bertambah jumlahnya.

Karena sekian banyak versi Cerita Panji itulah maka tidak ada salahnya orang memilih versi mana yang disukai manakala hendak diangkat menjadi lakon seni pertunjukan misalnya. Atau membuat Cerita Panji menurut versinya sendiri dengan tetap mengacu hal-hal pokok yang menjadi karakter atau ciri khas Cerita Panji.

Lantas, apa ciri khas Cerita Panji? Setidaknya dapat disimpulkan bahwa sebuah cerita dapat disebut Cerita Panji (baik arus utama atau minor) manakala memiliki struktur sebagai berikut: (1) Ada dua pihak yang berseberangan; (2) Ada keinginan untuk bersatu; (3) Salah satu pihak mengalami persoalan sehingga rencana penyatuan itu tertunda; (4) Ada perjalanan pengembaraan, penyamaran, peperangan, penderitaan, perjuangan mencapai cita-cita; dan akhirnya (5) Persatuan tercapai. Happy ending. Struktur tersebut di atas oleh M. Dwi Cahyono disederhanakan menjadi: Integrasi – Disintegrasi – Reintegrasi. (*)

 

Henri Nurcahyo, Ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan, inisiator Pusat Konservasi Budaya Panji, penulis buku “Memahami Budaya Panji” dan dosen luar biasa mata kuliah “Kajian Panji” di UNIPA Surabaya.

[1] Kisah Panji di Thailand. https://historia.id/kuno/articles/kisah-panji-di-thailand-vqj1B, diakses tanggal 24 April 2020

Naskah ini sudah dimuat di Majalah INTISARI bulan Juli 2021, edisi khusus Panji. Yang belum punya majalahnya silakan kontak saya: 0812 3100 832

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *